Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Biofarma Transfer Teknologi ke India hingga Afrika untuk Buat Vaksin

Kota Bandung
2 min read
Biofarma Transfer Teknologi ke India hingga Afrika untuk Buat Vaksin
Biofarma Transfer Teknologi ke India, Senegal, Hingga Ghana dalam Pembuatan Vaksin. IDN Times/Debbie Sutrisno
Share Article

Bandung, IDN Times - BUMN Biofarma melakukan kerja sama dengan sejumlah perusahaan di berbagai negara dalam tranfer teknologi dalam membuat vaksin. Hal ini dilakukan agar pembuatan vaksin yang dibutuhkan masyarakat nantinya tidak terpusat di satu negara saja.

Direktur Utama Biorfarma, Shadiq Akasya, menuturkan bahwa selama ini Indonesia sudah mendapatkan ilmu dari berbagai pembuat vaksin di luar negeri. Dengan pengembangan teknologi yang dilakukan di perusahaan, Biofarma dalam beberapa tahun ke belakang mulai melakukan hal serupa untuk turut mengembangkan industri farmasi di luar negeri.

"Kita sudah melakukan transfer teknologi ke India. Kita juga sekarang sedang dengan Senegal hingga Ghana. Harapannya kita bisa membawa diplomasi kesehatan, itulah visi besar yang akan kita lakukan," kata Shadiq dalam diskusi di Kota Bandung, Rabu (16/9/2026).

  1. 1. Produsen vaksin harus disebar

    Fasilitas produksi vaksin Biofarma di Bandung, Jawa Barat. (dok. Biofarma)
    Fasilitas produksi vaksin Biofarma di Bandung, Jawa Barat. (dok. Biofarma)

    Menurut Shadiq, kemampuan dalam membuat vaksin memang tidak seharusnya hanya dimiliki satu perusahaan saja. Walaupun Biofarma sekarang sudah bisa membuat banyak vaksin seperti tetanus, difteri, hingga polio, tapi vaksin tersebut juga harus bisa diproduksi di negara lain.

    Misalnya, kerja sama yang dilakukan Biofarman dengan perusahaan di India sehingga ke depannya ketika ada persoalan di Indonesia, vaksin yang dibuat tidak akan ada kekurangan stok.

    "Untuk di India ini vaksin polio. Jadi memang di dunia ini harus ada dua produsen lah untuk sebuah vaksin," kata dia.

  2. 2. Ada keuntungan dari transfer teknologi ini

    10 Perusahaan Farmasi Terbesar di Indonesia yang Dipercaya Sejak Lama (4).jpg
    biofarma

    Selain masalah ketersediaan vaksin ke depannya, dengan kerja sama seperti ini maka negara lain pun bisa menilai bahwa teknologi farmasi di Indonesia semakin dipercaya. Artinya keuntungan dari transfer ilmu ini tidak hanya urusan bisnis saja, tapi juga diplomasi kesehatan yang diusung Indonesia.

    "Jadi ini ada hubungan antara kedua negara, kalau keuntungan bisnis pasti tetap ada," kata dia.

    Khusus untuk kawasan Afrika dalam transfer teknologi ini pun diberikan formulasi setengah jadi dari Biofarma. Sehingga nantinya perusahaan di negara tersebut tinggal mencampurkan formula sesuai dengan standar yang ada.

  3. 3. Produksi jenis vaksin terus diperbanyak

    Pemberian vaksin polio untuk anak-anak di Jalur Gaza selama konflik masih terus berlangsung pada September 2024. (x.com/@UNRWA)
    Pemberian vaksin polio untuk anak-anak di Jalur Gaza selama konflik masih terus berlangsung pada September 2024. (x.com/@UNRWA)

    Di sisi lain, produk terbaru yang diluncurkan adalah BioTCV, vaksin Typhoid Conjugate Vaccine untuk mencegah tifoid. Vaksin tersebut mulai diarahkan ke pasar internasional dan telah didaftarkan di sejumlah negara, salah satunya Pakistan.

    Langkah ini menunjukkan perubahan pola bisnis Bio Farma. Produk tidak lagi berhenti pada kebutuhan program kesehatan domestik, tetapi sejak awal mulai dipersiapkan untuk masuk pasar global.

    “Ini juga sebagai usaha kami untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat di dunia,” ujar Shadiq.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More