Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemarau Bikin Petani Kuningan Pusing, Modal Naik Untung Menipis

Kab. Kuningan
3 min read
Kemarau Bikin Petani Kuningan Pusing, Modal Naik Untung Menipis
Ilustrasi kemarau kekeringan (pixabay.com/ThorstenF)
  • Kemarau di Kecamatan Maleber, Kuningan, membuat keuntungan petani padi per hektare menyusut sekitar 33%, dari Rp28 juta menjadi Rp18,8 juta.
  • Biaya produksi naik dari Rp8 juta menjadi Rp10 juta per hektare akibat penggunaan pompa, bahan bakar, tambahan tenaga kerja, serta kenaikan biaya pestisida.
  • Produksi padi turun 20% dari 6 ton menjadi 4,8 ton per hektare, sehingga sebagian petani mempertimbangkan mengurangi luas tanam atau memilih komoditas hemat air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kuningan, IDN Times - Musim kemarau menekan keuntungan petani padi di Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Penurunan produksi yang dibarengi kenaikan biaya pengairan membuat keuntungan dari satu hektare lahan menyusut sekitar 33 persen.

Petani di wilayah tersebut kini harus mengeluarkan biaya produksi sekitar Rp10 juta per hektare, naik dari kondisi normal yang berada di kisaran Rp8 juta. Pada saat yang sama, hasil panen turun dari rata-rata 6 ton menjadi sekitar 4,8 ton gabah per hektare.

Dengan asumsi harga gabah Rp6.000 per kilogram, penerimaan petani turun dari sekitar Rp36 juta menjadi Rp28,8 juta per hektare. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan yang sebelumnya sekitar Rp28 juta menyusut menjadi Rp18,8 juta.

  1. 1. Biaya produksi naik Rp2 juta

    ilustrasi kemarau basah (pexels.com/Pixabay)
    ilustrasi kemarau basah (pexels.com/Pixabay)

    Petani di Maleber, Asep (52 tahun), mengatakan kenaikan biaya terutama terjadi karena kebutuhan pengairan selama musim kemarau. Lahan yang sebelumnya memperoleh pasokan air lebih mudah kini membutuhkan pompa agar tanaman tetap mendapatkan air.

    Menurut perhitungannya, biaya produksi normal sekitar Rp8 juta per hektare. Anggaran tersebut terdiri atas benih Rp600.000, pupuk Rp1,8 juta, pestisida Rp700.000, tenaga kerja Rp3,4 juta, pengolahan lahan Rp1 juta, serta biaya lain sekitar Rp500.000.

    Saat kemarau, total biaya meningkat menjadi sekitar Rp10 juta. Kenaikan tersebut terutama berasal dari pengairan dan tambahan tenaga kerja.

    “Kalau dihitung dari hasil panen memang masih ada keuntungan. Cuma sekarang lebih besar dan hasilnya lebih sedikit,” kata Asep, Rabu (16/9/2026).

  2. 2. Pengairan jadi beban tambahan

    gambar musim kemarau (pexels.com/George Becker)
    gambar musim kemarau (pexels.com/George Becker)

    Kebutuhan air menjadi salah satu pengeluaran yang paling meningkat. Biaya pengairan yang pada kondisi normal sekitar Rp500.000 per musim kini mencapai Rp1,5 juta.

    Petani harus mengoperasikan pompa menggunakan bahan bakar serta menambah tenaga untuk mengatur distribusi air ke lahan. Pengeluaran tersebut menjadi lebih besar karena pompa perlu digunakan berulang kali selama masa tanam.

    “Kalau air ada, biaya pengairan kecil. Sekarang harus pakai pompa. Sekali mengisi atau menjalankan pompa memang tidak besar, tetapi kalau berkali-kali selama satu musim, jumlahnya terasa,” ujar Asep.

    Selain meningkatkan biaya, kemarau juga berdampak terhadap hasil panen. Produksi padi yang biasanya mencapai sekitar 6 ton per hektare turun menjadi 4,8 ton.

    Penurunan tersebut mencapai 1,2 ton atau sekitar 20 persen. Dengan harga gabah Rp6.000 per kilogram, berkurangnya produksi tersebut memangkas potensi penerimaan sekitar Rp7,2 juta per hektare.

    Di sisi lain, biaya pestisida juga meningkat dari sekitar Rp700.000 menjadi Rp900.000 per hektare. Kondisi tanaman yang menghadapi cuaca panas membuat kebutuhan perawatan bertambah.

    Kombinasi penurunan produksi dan kenaikan biaya tersebut membuat keuntungan petani menyusut lebih dalam dibandingkan sekadar penurunan hasil panen.

  3. 3. Petani mulai hitung ulang luas tanam

    ilustrasi kemarau (pexels.com/Feyza Daştan)
    ilustrasi kemarau (pexels.com/Feyza Daştan)

    Asep mengatakan kondisi tersebut membuat petani harus lebih berhati-hati menentukan keputusan untuk musim tanam berikutnya. Modal yang lebih besar harus disiapkan, sementara hasil panen belum tentu kembali ke kondisi normal.

    Sebagian petani mulai mempertimbangkan pengurangan luas tanam atau memilih komoditas yang membutuhkan lebih sedikit air.

    “Yang ditakutkan bukan panen. Kalau modal Rp10 juta keluar tetapi hasilnya turun, uang untuk memulai musim berikutnya juga ikut berkurang,” kata Asep.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More