Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Produksi Padi Cirebon Dikejar 10 Ton, tapi Petani Malah Deg-degan

Kab. Cirebon
Produksi Padi Cirebon Dikejar 10 Ton, tapi Petani Malah Deg-degan
Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)
  • Dinas Pertanian Cirebon menguji PM-AAS atau tabela di Susukan, Susukanlebak, Pabuaran, dan Dukupuntang, dengan target produktivitas padi melampaui 10 ton gabah per hektare.
  • Metode ini membutuhkan pupuk lebih banyak, termasuk tambahan 75 kilogram urea, 400 kilogram NPK, dan minimal satu ton pupuk organik per hektare; bantuan pemerintah hanya mencakup benih.
  • PM-AAS memakai drumsider untuk memangkas persemaian dan pindah tanam, tetapi penerimaan petani belum seragam karena sebagian masih menunggu bukti hasil uji coba lapangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Cirebon, IDN Times - Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mulai menguji penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) atau sistem tanam benih langsung (tabela) di empat kecamatan.

Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan produktivitas padi hingga lebih dari 10 ton gabah per hektare. Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Apip Sirojudin mengatakan penerapan PM-AAS dilakukan di Kecamatan Susukan, Susukanlebak, Pabuaran, dan Dukupuntang.

  1. 1. Produktivitas ditargetkan tembus 10 Ton

    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

    Menurut Apip, potensi peningkatan hasil tersebut mengacu pada pengujian Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sukamandi, Kabupaten Subang. Dalam pengujian di lahan seluas 300 hektare, produktivitas padi dengan metode tersebut tercatat lebih dari 10 ton gabah per hektare.

    "Capaian itu berada di atas produktivitas yang umumnya diperoleh melalui sistem tanam konvensional, sekitar 6-7 ton gabah per hektare," ujar Apip dikutip pada Selasa (15/9/2026).

    Apip menambahkan, penerapan PM-AAS berpotensi menambah produksi sekitar 3-4 ton gabah dari setiap hektare lahan apabila hasil uji tersebut dapat direplikasi di tingkat petani.

    “Kelebihannya hasil panen lebih dari 10 ton. Panen juga lebih cepat karena tanaman tidak mengalami stres setelah dipindahkan,” kata Apip.

  2. 2. Pupuk jadi tambahan beban input

    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

    Namun begitu, potensi peningkatan produksi tersebut dibarengi dengan kebutuhan pupuk yang lebih tinggi. Dosis urea bertambah 75 kilogram dari pola tanam biasa, sementara kebutuhan NPK ditetapkan sebanyak 400 kilogram per hektare.

    Petani juga diwajibkan menggunakan pupuk organik subsidi minimal satu ton per hektare sebagai bagian dari penerapan PM-AAS. Apip mengatakan, kondisi tersebut membuat komponen sarana produksi perlu menjadi perhatian dalam penerapan teknologi baru tersebut. Sebab, tidak seluruh tambahan kebutuhan input mendapatkan dukungan pemerintah.

    Ia menambahkan, bantuan dari Kementerian Pertanian diberikan untuk kebutuhan benih. Sementara tambahan kebutuhan pupuk harus dipenuhi petani. “Kalau benih ada bantuan dari Kementerian Pertanian. Kalau pupuk tidak,” ujarnya.

    Selain pupuk, kebutuhan benih dalam metode tabela juga meningkat cukup besar. Pada pola tanam biasa, kebutuhan benih sekitar 25 kilogram per hektare. Dalam PM-AAS, jumlahnya menjadi sekitar 70 kilogram per hektare.

    Meski demikian, tambahan kebutuhan benih tersebut tidak seluruhnya menjadi beban biaya petani karena mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian. Dari sisi tenaga kerja, PM-AAS justru dirancang untuk mengurangi kebutuhan tenaga manusia. Penanaman dilakukan menggunakan alat drumsider yang dapat dipinjam petani melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).

    "Penggunaan alat tersebut memangkas tahapan persemaian dan pindah tanam yang selama ini dilakukan pada pola tanam konvensional," katanya.

  3. 3. Petani masih menunggu bukti

    Ilustrasi sawah (IDN Times/Rochmanudin)
    Ilustrasi sawah (IDN Times/Rochmanudin)

    Apip mengatakan, penerapan PM-AAS di Kabupaten Cirebon belum serta-merta mendapat respons seragam dari petani. Sebagian petani yang dinilai lebih adaptif terhadap teknologi pertanian bersedia mengikuti uji coba, sementara petani lainnya masih menunggu hasil penerapan di lapangan.

    Sikap tersebut membuat hasil uji coba menjadi penting untuk menentukan penerimaan teknologi tersebut di tingkat petani.

    Apip mengatakan petani yang terbiasa menggunakan metode lama cenderung membutuhkan bukti sebelum beralih ke sistem baru. “Kalau petani yang adaptif mengikuti. Tapi petani yang biasa, mereka melihat bukti dulu,” katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More