Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Aghsally dan Fauzan, Bisa Kuliah Berkat Hafizh 30 Juz

Kota Bandung
Cerita Aghsally dan Fauzan, Bisa Kuliah Berkat Hafizh 30 Juz
Cerita Aghsally dan Fauzan, Bisa Kuliah Berkat Hafizh 30 Juz. Dok Istimewa
  • Aghsally dan Fauzan menjadi mahasiswa baru Unisba penerima Beasiswa 3M kategori hafizh Al-Qur’an, setelah menuntaskan hafalan 30 juz melalui perjalanan panjang sejak usia sekolah.
  • Aghsally menyelesaikan 30 juz dalam sekitar satu tahun empat bulan dan menjaga hafalan lewat murajaah harian; Fauzan bertahan dari kelelahan berkat dukungan orang tua serta ustaz.
  • Rektor Unisba mengajak mahasiswa memadukan keahlian akademik dengan nilai Islam, berjiwa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid, serta memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Memasuki dunia perkuliahan menjadi babak baru bagi Aghsally Tsabit Aqdami dan Muhammad Fauzan Nur Alif Lalana. Keduanya sama-sama berstatus mahasiswa baru Universitas Islam Bandung (Unisba), sekaligus membawa hafalan 30 juz Al-Qur’an yang telah mereka perjuangkan sejak kecil.

Keduanya merupakan penerima Beasiswa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (3M) Unisba Kategori Hafizh Al-Qur’an. Di balik pencapaian tersebut, ada perjalanan panjang yang diwarnai rasa lelah, dukungan keluarga, hingga tantangan menjaga hafalan ketika mulai memasuki kehidupan kampus.

  1. 1. Aghsally tuntaskan 30 juz dalam 1 tahun 4 bulan

    WhatsApp Image 2026-09-14 at 2.57.43 PM.jpeg
    Penerimaan mahasiswa baru Unisba Bandung. Dok. Istimewa

    Aghsally, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, mulai mengenal kehidupan pesantren sejak kelas 4 SD. Namun, ia mengaku belum terlalu serius menjaga hafalannya ketika duduk di bangku SMP.

    “Saya waktu di SMP kebanyakan main,” katanya, Senin (14/9/2026).

    Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik balik bagi Aghsally. Ketika masuk SMA, ia memilih meninggalkan lingkungan lamanya dan melanjutkan pendidikan di Markaz Tahfizh Icakan, Ciamis. Baginya, lingkungan baru menjadi kesempatan untuk memperbaiki kembali keseriusannya dalam menghafal Al-Qur’an.

    “Kalau di sini masih main-main terus, enggak diselesaikan hafalannya, bakal sama saja kejadiannya sama yang di SMP,” ujarnya.

    Di Icakan, Aghsally memasang target 10 juz setiap semester. Target tersebut perlahan berhasil dicapai. Semester pertama ia menyelesaikan 10 juz, kemudian 10 juz berikutnya pada semester kedua, hingga seluruh hafalan 30 juz rampung dalam waktu sekitar satu tahun empat bulan.

    Setelah menyelesaikan hafalan, perjalanan Aghsally belum berhenti. Ia melanjutkan proses belajar sekaligus menjalani pengabdian dengan mengajar di Riau. Di sana, ia mengampu halaqah tahfizh sebelum akhirnya kembali ke Bandung dan memilih melanjutkan pendidikan di Unisba.

    Program Studi PAI menjadi pilihannya karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidupnya. Latar belakang pesantren dan tahfizh, ditambah pengalaman mengajar, membuat Aghsally ingin memperdalam pendidikan Islam secara formal.

    Kini, tantangan yang dihadapinya bukan lagi sekadar menambah hafalan. Ia harus menjaga 30 juz tersebut di tengah jadwal kuliah dan aktivitas sebagai mahasiswa. Aghsally pun memilih cara sederhana dengan menyediakan waktu setiap hari untuk murajaah. Waktu sebelum atau setelah Subuh bisa digunakan untuk membaca satu hingga dua juz.

    “Yang penting istikamah, konsisten tiap hari harus ada yang dibaca,” tuturnya.

  2. 2. Fauzan sempat lelah, tapi tetap lanjutkan hafalan

    WhatsApp Image 2026-09-14 at 2.57.43 PM (1).jpeg
    Penerimaan mahasiswa baru Unisba Bandung. Dok. Istimewa

    Perjalanan berbeda dialami Fauzan. Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Unisba ini mulai menghafal Al-Qur’an sejak kelas 3 SD di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Al Azka, Cisauk, Tangerang-Banten.

    Empat tahun kemudian, ketika duduk di kelas 1 SMP, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz. Proses tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Fauzan mengaku pernah merasa lelah hingga muncul keinginan untuk menyerah. Namun, dukungan orang tua dan bimbingan ustaz membuatnya tetap melanjutkan proses tersebut.

    “Saya tahu bahwa hafalan Al-Qur’an ini tujuan yang mulia,” katanya.

    Setelah lulus dari MAS Tahfidz Yanbu'ul Qur'an Menawan Kudus pada 2025, Fauzan tidak langsung melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia menjalani masa pengabdian selama satu tahun dengan membantu pondok dalam hal kedisiplinan dan tata tertib.

    Setelah itu, Fauzan memilih Teknik Industri di Unisba. Selain tertarik dengan bidang yang memiliki cakupan luas, Unisba juga menjadi salah satu kampus yang diimpikannya.

    Lokasi kampus yang dekat dengan rumah menjadi nilai tambah. Namun, ada alasan lain yang membuat Fauzan memilih Unisba, yakni harapannya agar lingkungan kampus tetap mendukungnya dalam menjaga hafalan.

    Sebagai penerima Beasiswa 3M Kategori Hafizh Al-Qur’an, Fauzan melihat beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan untuk menjalani perkuliahan. Baginya, beasiswa tersebut juga menjadi pengingat untuk terus menjaga hafalan yang telah diperjuangkan sejak kecil.

    “Dengan saya mendapatkan beasiswa ini, saya tahu ini dapat membantu saya tetap menjaga Al-Qur’an saya, hafalan saya,” ujarnya.

  3. 3. Mahasiswa baru harus bisa berkontribusi untuk bangsa

    WhatsApp Image 2026-09-14 at 2.57.44 PM.jpeg
    Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.. Dok Istimewa

    Sementara itu, Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengajak mahasiswa baru menjadikan kampus bukan sekadar tempat mengejar gelar akademik. Unisba diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, bertumbuh, menemukan potensi diri, sekaligus mempersiapkan kontribusi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

    Harits mengingatkan mahasiswa baru tentang amanah yang dibawa Unisba sejak awal berdiri pada 1958, yakni melahirkan calon pemimpin yang Faqih Fiddin. Menurutnya, konsep tersebut menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dengan pemahaman nilai-nilai Islam. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi ahli di bidang masing-masing.

    “Para pendiri kita tidak ingin Unisba hanya mencetak dokter yang hanya tahu obat, ekonom yang hanya tahu angka, sarjana hukum yang hanya tahu pasal, atau insinyur yang hanya tahu bangunan. Itu tidak cukup,” katanya.

    Ia menjelaskan, seorang profesional yang Faqih Fiddin harus mampu mengintegrasikan keahlian yang dimiliki dengan nilai-nilai Islam. Ilmu tersebut, lanjutnya, tidak seharusnya hanya digunakan untuk mencapai kesuksesan pribadi. Lebih jauh, ilmu harus mampu memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat.

    Untuk memperkuat karakter mahasiswa, Harits memperkenalkan tiga Spirit Perjuangan Unisba, yakni Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid. Ketiganya menjadi semangat yang diharapkan melekat dalam diri mahasiswa. Mujahid mencerminkan keberanian untuk berjuang, Mujtahid berkaitan dengan kemampuan berpikir secara mendalam, sementara Mujaddid menjadi semangat untuk menghadirkan pembaruan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More