Menikmati Keheningan di LIMINAL, Karya Eksperimental di Bawah Tanah

- LIMINAL, karya Budi Pradono di Dia.Lo.Gue dotHub Summarecon Bandung, diperkenalkan bersama pameran Anti-Object Architecture pada 12 September 2026 sebagai ruang hening bawah tanah.
- Menggunakan bambu petung dan tiga bukaan corong, LIMINAL memanfaatkan cahaya alami yang berubah seiring waktu untuk menghadirkan pengalaman reflektif, bukan arsitektur monumental.
- LIMINAL akan dikelola sebagai ruang publik dengan program musik-pertunjukan, literasi-pemikiran, serta seni visual-desain, melengkapi ruang kreatif interdisipliner bagi komunitas dan masyarakat.
Bandung, IDN Times - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas kota, ada sebuah ruang yang justru mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak. Tak banyak suara, tak ada bentuk bangunan yang menjulang, hanya ruang yang perlahan mempertemukan manusia dengan cahaya, material, lanskap, dan keheningan.
Ruang tersebut bernama LIMINAL, karya arsitek eksperimental Indonesia Budi Pradono yang kini hadir di Dia.Lo.Gue dotHub, Summarecon Bandung. Karya ini resmi diperkenalkan kepada publik bersamaan dengan pembukaan pameran Budi Pradono: Anti-Object Architecture pada Sabtu (12/9/2026).
1. Ajak setiap pengunjung untuk merenung

Menikmati Keheningan di LIMINAL Bandung, Karya Eksperimental Berbalut Seni dan Budaya. Dok Istimewa LIMINAL dirancang bukan sebagai bangunan yang ingin mencuri perhatian. Sebaliknya, pengunjung diajak masuk ke ruang yang berada di bawah permukaan tanah dan merasakan perubahan suasana melalui cahaya alami.
Bambu petung lokal digunakan sebagai material sekaligus struktur utama bangunan. Sementara itu, tiga bukaan berbentuk corong membawa cahaya dari luar menuju ruang di bawah tanah tersebut.
Cahaya yang masuk membuat pengalaman di dalam LIMINAL tidak selalu sama. Perubahan waktu turut mengubah cara ruang tersebut dirasakan oleh pengunjung.
Konsep itu menjadikan perjalanan menuju dan berada di dalam LIMINAL sebagai bagian penting dari karya. Pengunjung tidak hanya melihat bangunan, tetapi diajak mengalami ruang secara perlahan.
Budi Pradono mengatakan LIMINAL lahir dari pemikiran bahwa arsitektur tidak harus selalu hadir sebagai monumen besar, tinggi, atau dominan.
"Liminal menjadi sebuah perjalanan refleksif melalui penciptaan karya arsitektur berupa mute space atau ruang hening yang terkubur tanpa monumen, guna mengajak kita merenung, menghayati dunia, dan mengintrospeksi diri," ujar Budi.
Menurutnya, arsitektur perlu memiliki sensitivitas terhadap lingkungan dan konteks di sekitarnya serta memberikan dampak positif bagi masyarakat.
2. Saat arsitektur tidak ingin menjadi pusat perhatian

Menikmati Keheningan di LIMINAL Bandung, Karya Eksperimental Berbalut Seni dan Budaya. Dok Istimewa Gagasan tersebut berkaitan dengan pendekatan Anti-Object Architecture yang dikembangkan Budi Pradono. Melalui pendekatan ini, arsitektur tidak dilihat sebagai objek yang berdiri sendiri. Bangunan justru ditempatkan sebagai bagian dari hubungan antara manusia, lingkungan, material, dan konteks tempat.
Karena itu, sebuah karya arsitektur tidak harus selalu menjadi objek paling mencolok di suatu kawasan. Ia bisa hadir secara lebih tenang dan memberi ruang bagi manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan.
Gagasan tersebut juga menjadi dasar pameran Anti-Object Architectureyang dibuka bersamaan dengan LIMINAL. Dalam pameran itu, publik diajak mengikuti perjalanan pemikiran dan karya Budi Pradono, termasuk bagaimana pendekatan eksperimental, kontekstual, dan berkelanjutan diterapkan dalam praktik arsitekturnya.
Pembukaan pameran dan LIMINAL turut diisi dengan pengantar dan diskusi, tur pameran bersama Budi Pradono, peresmian dan tur LIMINAL, serta pertunjukan "Tembang Puitik – Siklus Chairil Anwar" oleh Steff Pamungkas dan Yohanes Siem.
3. LIMINAL tak berhenti sebagai karya arsitektur

Menikmati Keheningan di LIMINAL Bandung, Karya Eksperimental Berbalut Seni dan Budaya. Dok Istimewa Setelah diperkenalkan kepada publik, LIMINAL akan berkembang menjadi ruang publik di Dia.Lo.Gue dotHub Bandung. Ruang tersebut akan dikelola Dia.Lo.Gue Bandung dengan sejumlah program yang bergerak dalam tiga bidang, yakni bunyi untuk musik dan pertunjukan, kata untuk literasi dan pemikiran, serta rupa untuk seni visual dan desain. Ketiganya dirancang sebagai ruang perjumpaan antara gagasan, karya, pelaku seni dan budaya, serta masyarakat.
Executive Director Summarecon Bandung, Hindarko Hasan, mengatakan bahwa kehadiran LIMINAL menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang yang dapat memperkaya pengalaman masyarakat sekaligus memperkuat karakter kawasan.
"Summarecon Bandung dikembangkan tidak hanya sebagai kawasan hunian dan komersial, tetapi juga sebagai ekosistem yang dapat mewadahi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk seni, budaya, dan kreativitas," kata Hindarko di Bandung, Sabtu (12/9/2026).
Kehadiran LIMINAL melengkapi Dia.Lo.Gue dotHub sebagai ruang kreatif interdisipliner yang mempertemukan seni, arsitektur, desain, dan komunitas. Melalui pameran, pertunjukan, diskusi, hingga workshop, ruang tersebut membuka kesempatan bagi publik untuk berdialog dan bereksperimen.
Pada akhirnya, LIMINAL menawarkan pengalaman yang berbeda dari kebanyakan ruang publik. Ia tidak mengajak orang datang untuk sekadar melihat sebuah bangunan, tetapi memberi kesempatan untuk **berhenti, diam, dan merasakan ruang.


















