KDM Bongkar Duduk Perkara Konflik Wabup Sumedang degan Sekprinya

- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta keterangan Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila, istrinya, bupati, dan sekpri terkait dugaan pelecehan serta penganiayaan.
- Berdasarkan keterangan para pihak, konflik dipicu kecemburuan istri Fajar yang sedang hamil terhadap kedekatan dan candaan romantis suaminya dengan sekpri.
- Sekpri menegaskan tidak ada pelecehan seksual; laporan ke Polda telah dicabut. Dedi menyatakan masalah selesai kekeluargaan, namun menilai Fajar bersalah dan menjanjikan sanksi.
Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM telah menemui Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila beserta istrinya, Astria Dita Oktavia untuk memintai keterangan mengenai kasus dugaan pelecehan dan penganiayaan sekretaris pribadi (sekpri).
Momentum pertemuan tersebut pun turut diunggah di media sosial KDM, di mana semua pihak termasuk Bupati Sumedang hadir dan dimintai keterangan oleh gubernur mengenai Isu pelecehan seksual yang dilakukan Fajar dan kekerasan oleh istrinya kepada Sekpri.
"Ya sesuai janji saya, saya sudah mengundang Wakil Bupati Sumedang beserta istri, Bupati Sumedang, dan sekretarisnya Wakil Bupati Sumedang. Saya sudah ngobrol lama menanyakan peristiwa apa sih yang sebenarnya terjadi," ujar KDM, Senin (14/9/2026).
1. Diduga ada rasa cemburu

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) Gubernur mengungkapkan, berdasarkan hasil keterangan yang didapatkannya setelah memeriksa semua pihak terkait, peristiwa ini dipicu oleh adanya rasa cemburu antara istri Fajar terhadap Sekpri.
"Jadi kalau setelah saya tanya, pertama memang adanya rasa cemburu. Namanya istri Wakil Bupati yang lagi hamil, ya cemburu sama suaminya yang mendekati sekretarisnya," ucapnya.
KDM kemudian kembali menanyakan kepada terduga korban apakah terdapat candaan bernuansa romantis di antara keduanya. Sekpri menyebut hal tersebut sebagai bentuk bercanda.
2. Sempat melapor ke Polda Jabar

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) KDM menjelaskan, kedekatan dan candaan tersebut kemudian memunculkan kecemburuan dari istri Wakil Bupati Sumedang. Terlebih, saat itu sang istri tengah hamil.
Menurut dia, rasa cemburu tersebut kemudian berkembang menjadi konflik dan perselisihan di antara pihak-pihak yang terlibat. Dia menyebut, persoalan tersebut bahkan sempat dilaporkan ke Polda. Namun, laporan itu kemudian dicabut setelah kedua belah pihak menganggap konflik yang terjadi merupakan kekhilafan.
"Konflik ada, kita jujur aja. Sampai Neng lapor ke Polda juga karena ada konflik kan? Tapi setelah itu, karena kedua belah pihak menganggap ini adalah kekhilafan kedua belah pihak, akhirnya dicabut lagi," katanya.
3. Kasus ini dipastikan telah selesai

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil) Dalam pertemuan tersebut, Dedi beberapa kali memastikan kepada sekpri mengenai ada atau tidaknya pelecehan seksual, dan dijawab dengan tegas tidak ada pelecehan seksual seperti yang sebelumnya dirumorkan.
"Ada nggak pelecehan seksual?" tanya Dedi.
"Nggak ada," jawab sekpri.
Atas penjelasan tersebut, KDM menyatakan persoalan yang mencuat telah dianggap selesai secara kekeluargaan. Meski demikian, Dedi menilai Wakil Bupati Sumedang tetap melakukan kesalahan kepada istrinya karena dinilai tidak menjaga perasaan sang istri yang sedang hamil.
"Nah, gak pernah ada, ya. Jadi ini saya sudah anggap clear, gak ada masalah. Untuk itu, tetap satu, Wakil Bupatinya bersalah pada istrinya. Tidak menjaga perasaan istri yang lagi hamil," kata KDM.
KDM juga mengatakan akan memberikan sanksi kepada pihak yang menurutnya bersalah. Namun, dia belum menyebut bentuk hukuman yang akan diberikan.
"Seluruh bersalah itu nanti akan saya kasih hukuman. Hukumannya nanti akan saya putuskan kemudian," ujarnya.



















