Pemprov Jabar Angkut 150 Ton Gunungan Sampah Pasar Cihaurgeulis

- Pemprov Jawa Barat mengangkut sekitar 130–150 ton sampah organik dan non-organik dari Pasar Cihaurgeulis ke TPA Sarimukti menggunakan alat berat.
- Penanganan dilakukan bersama Pemkot Bandung, dengan pembuangan sampah memakai kuota Kota Bandung setelah tumpukan lama dikeluhkan warga dan pedagang.
- Sampah yang menumpuk hingga hampir setahun memicu bau menyengat dan mengganggu aktivitas pasar; warga berharap pengangkutan rutin agar kenyamanan pulih.
Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat turun tangan menyelesaikan tumpukan sampah organik dan non-organik yang menggunung di Pasar Cihaurgeulis, Kota Bandung. Ada sebanyak 150 ton sampah diangkut menggunakan alat berat kemudian dibuang ke TPA Sarimukti, Bandung Barat.
Tumpukan sampah ini sebelumnya banyak dikeluhkan oleh masyarakat, karena sudah lama tidak segera diangkut. Sementara, para pedagang dan warga setempat merasa terganggu karena setiap harinya muncul bau yang menyengat dan dirasakan para pengunjung.
1. Dibuang ke TPA Sarimukti dengan kuota Kota Bandung

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman mengatakan, penanganan memang dilakukan oleh Pemprov Jabar, namun hal ini diselesaikan dengan tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bandung. Sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti juga menggunakan kuota dari Pemkot Bandung.
"Dibantu diangkut, sinergi dengan Pemkot Bandung. Menggunakan kuota kota Bandung," ujar Herman saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2026).
Berdasarkan informasi yang didapatkan IDN Times, sampah yang diangkut dari Pasar Cihaurgeulis mencapai 130 sampai 150 ton dengan masing-masing kapasitas truk yaitu 12 meter kubik.
2. Sampah Pasar Cihaurgeulis menumpuk hingga mengelilingi gedung pasar

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Sebelumnya, tumpukan sampah menggunung di Pasar Cihaurgeulis, Kota Bandung sudah sangat menggangu aktivitas para pedagang. Pasalnya, sampah tersebut sudah hampir satu tahun tidak ditangani oleh pemerintah Kota Bandung.
Berdasarkan pantauan IDN Times, tumpukan sampah ini ditutup menggunakan karung hingga menggunung di samping Pasar Cihaurgeulis. Dari tampak depan, masyarakat memang tidak bisa melihat langsung karena tertutup oleh seng. Namun, setelah dilihat langsung dari lantai dua pasar, sampah terlihat jelas dan menumpuk.
Bahkan berdasarkan keterangan warga setempat, tumpukan sampah itu sudah melingkari pasar. Sejumlah oknum masyarakat juga sering ikut membuang sampah di sela-sela belakang pasar. Bau menyengat pun sudah sangat menggangu masyarakat.
Seperti yang dirasakan langsung oleh Tini (65 tahun). Dia yang merupakan warga sekaligus pedagang pasar merasa tumpukan sampah tersebut sangat menggangu dan tidak urung dilakukan penanganan.
"Kondisinya sudah sangat merepotkan, menurut saya seperti itu, bau juga menyengat," ujar Tini saat ditemui di lokasi, Kamis (3/9/2026).
3. Pedagang dan warga sudah merasa terganggu

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Warga RT 3 RW 10, Kelurahan Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler ini juga mengatakan, setiap bulannya memang ada iuran untuk penanganan sampah. Biaya iuran setiap harinya adalah Rp6.000, dibayar pada pagi hari Rp3.000, dan siang hari Rp3.000.
"Kalau petugas, setiap hari menyapu. Petugas pasar yang bersih-bersih. Terus yang ngangkut dari warga sepekan tiga kali," kata dia.
Meski begitu, pengangkutan sampah ini dilakukan menunggu menumpuk terlebih dahulu. Artinya, tidak langsung diangkut kemudian diselesaikan ke TPA.
"Diangkut, cuma nanti menumpuk dulu sampai beberapa truk gitu," ucapnya.
Lebih lanjut, Tini berharap pemerintah bisa turut menyelesaikan persoalan tersebut dan bisa mengangkut semua gunungan sampah yang ada di Pasar Cihaurgeulis, agar tidak ada lagi bau menyengat dan membuat kenyamanan para pedang.
"Saya berharap segera ditangani, agar pedagang dan masyarakat bisa nyaman saat berjualan dan beraktifitas, karena ini sudah hampir delapan bulan tidak diangkut, sepengetahuan saya begitu," katanya.




















