Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pompa Gas Selamatkan Petani Majalengka dari Biaya Irigasi Mahal

Kab. Majalengka
Pompa Gas Selamatkan Petani Majalengka dari Biaya Irigasi Mahal
ilustrasi kemarau basah (pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Petani Kertajati, Majalengka, memangkas biaya irigasi sekitar 87,5 persen dengan mengganti Pertalite menjadi LPG 3 kilogram untuk pompa air 3 inci saat kemarau.
  • Biaya operasional pompa yang menyala hampir 24 jam turun dari sekitar Rp264.000 menjadi Rp33.000 per hari, sehingga dana dapat dialihkan untuk pupuk dan perawatan tanaman.
  • Dengan 39.550,94 hektare tanaman padi di Majalengka, penerapan lebih luas berpotensi menekan biaya produksi dan menjaga pasokan air, dengan memperhatikan aturan energi serta ketersediaan LPG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Majalengka, IDN Times - Sejumlah petani di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, berhasil memangkas biaya irigasi hingga sekitar 87,5 persen pada musim kemarau setelah mengganti bahan bakar mesin pompa air dari Pertalite ke LPG 3 kilogram. Inovasi tersebut menjadi alternatif di tengah meningkatnya kebutuhan air dan biaya produksi pertanian saat musim kering 

Perubahan sederhana itu menggeser beban biaya yang selama ini dianggap tak terhindarkan. Mesin pompa berkapasitas 3 inci yang sebelumnya menghabiskan sekitar 1,1 liter Pertalite setiap jam kini bekerja dengan konsumsi LPG yang jauh lebih hemat. 

Dalam kondisi pompa menyala hampir 24 jam, biaya operasional harian yang semula sekitar Rp264.000 menyusut menjadi hanya sekitar Rp33.000. Selisih pengeluaran mencapai Rp231.000 per hari.

Efisiensi tersebut hadir pada saat yang krusial. Di tengah kemarau, ketika petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga sawah tetap terairi, penghematan itu menjadi ruang bernapas bagi usaha tani yang selama ini dibayangi kenaikan ongkos produksi.

1. Dana tak lagi habis di tangki bahan bakar

Tabung gas LPG yang ada di agen Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)
Tabung gas LPG yang ada di agen Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

Engkus Kusnadi, petani di Kecamatan Kertajati menyebutkan, biaya bahan bakar selama musim kemarau sering kali menjadi pengeluaran terbesar. Ketika debit air irigasi turun, pompa harus bekerja hampir tanpa jeda agar tanaman padi tidak mengalami kekeringan.

“Kalau masih menggunakan Pertalite, biaya operasional pompa selama sehari bisa mencapai sekitar Rp264 ribu. Setelah kami beralih menggunakan Gas LPG 3 kilogram, biaya turun menjadi sekitar Rp33 ribu per hari. Selisihnya sangat besar dan benar-benar meringankan beban petani di tengah musim kemarau seperti sekarang,” ujar Engkus, Jumat (31/7/2026).

Menurut dia, penghematan tersebut bukan sekadar mengurangi pengeluaran harian. Uang yang sebelumnya habis untuk membeli bahan bakar kini dapat dialihkan untuk kebutuhan lain mulai dari pembelian pupuk hingga pemeliharaan tanaman.

“Saat kondisi air sangat terbatas, pompa harus menyala hampir tanpa henti. Kalau biaya bahan bakarnya mahal, tentu memberatkan petani. Dengan gas, kami bisa lebih hemat sehingga dana yang ada masih bisa digunakan untuk kebutuhan lain seperti pupuk dan perawatan tanaman. Harapan kami, pemerintah juga terus menjaga ketersediaan LPG agar petani tidak kesulitan memperoleh pasokan saat musim kemarau,” katanya.


2. Efisiensi kecil dengan dampak besar

Ilustrasi sawah
Ilustrasi sawah. (Dok. Kementan)

Secara ekonomi, perubahan bahan bakar itu mengubah struktur biaya produksi. Penghematan sekitar Rp231.000 setiap hari berarti petani dapat menekan biaya irigasi secara signifikan sepanjang musim kemarau. 

Jika pompa harus beroperasi selama berminggu-minggu, nilai efisiensi yang tercipta menjadi jauh lebih besar dibandingkan sekadar selisih biaya harian. Efisiensi tersebut juga berpotensi mengurangi risiko petani menunda pengairan akibat mahalnya ongkos operasional. Semakin rutin sawah memperoleh pasokan air, semakin besar peluang tanaman bertahan hingga masa panen. Artinya, inovasi sederhana pada mesin pompa tidak hanya menekan biaya, tetapi juga membantu menjaga produktivitas lahan.

“Musim kemarau susah diprediksi, kalau hemat energi nantinya jadi salah satu strategi yang bisa dimanfaatkan petani lainnya,” tuturnya.

3. Peluang diterapkan lebih luas

Petani saat menunjukkan lahan sawah yang terbengkalai di Sukabumi (IDN Times/Istimewa)
Petani saat menunjukkan lahan sawah yang terbengkalai di Sukabumi (IDN Times/Istimewa)

Data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Majalengka menunjukkan luas tanaman padi di daerah itu mencapai 39.550,94 hektare. Kecamatan Kertajati sendiri memiliki sekitar 5.258 hektare tanaman padi yang berada pada umur 45 hingga 75 hari setelah tanam, fase yang membutuhkan pasokan air cukup agar pertumbuhan tidak terganggu.

Besarnya areal tersebut menunjukkan efisiensi biaya irigasi bukan lagi persoalan satu atau dua petani. Apabila konversi bahan bakar pompa dapat diterapkan secara lebih luas dengan tetap memperhatikan ketentuan penggunaan energi dan ketersediaan pasokan, potensi penghematan biaya produksi pertanian bisa mencapai skala yang jauh lebih besar.

“Cerita dari Kertajati menunjukkan  ancaman kekeringan tidak selalu identik dengan membengkaknya biaya usaha tani. Bagi sebagian petani, inovasi sederhana justru menjadi jalan untuk menjaga sawah tetap produktif sekaligus mempertahankan keuntungan di tengah musim yang paling menantang,”kata Kepala Dinas Pertanian Majalengka, Gatot Sulaeman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More