Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Majalengka Sedot Rp5,6 Triliun, Daerah Lain Cuma Kebagian Sisa

Majalengka Sedot Rp5,6 Triliun, Daerah Lain Cuma Kebagian Sisa
ilustrasi dolar 20 (pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih
  • Majalengka menyerap Rp5,65 triliun atau hampir 46% dari total investasi asing Ciayumajakuning berkat dukungan Bandara Kertajati, Tol Cipali, dan kawasan industri yang terus berkembang.
  • Kabupaten Cirebon menempati posisi kedua dengan investasi Rp4,38 triliun, menunjukkan bahwa infrastruktur dan akses logistik menjadi faktor utama penentu minat investor di kawasan tersebut.
  • Indramayu mulai menarik perhatian investor dengan lonjakan PMA hingga Rp1,43 triliun pada 2025, meski distribusi investasi antarwilayah Ciayumajakuning masih belum merata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Majalengka, IDN Times - Kabupaten Majalengka menjadi magnet utama investasi asing di kawasan Ciayumajakuning dalam tiga tahun terakhir.

Dari total realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp12,34 triliun yang masuk ke Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Kota Cirebon sepanjang 2023-2025, sebesar Rp5,65 triliun atau hampir 46 persen di antaranya mengalir ke Majalengka.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan tingginya investasi yang masuk menunjukkan kawasan tersebut semakin diperhitungkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Investasi yang masuk merupakan sinyal positif bahwa kawasan ini memiliki daya tarik ekonomi yang kuat. Infrastruktur yang terus berkembang dan posisi strategis menjadi faktor yang mendukung masuknya modal asing,” ujarnya dikutip pada Senin (1/7/2026).

1. Majalengka dominasi arus modal asing

ilustrasi dolar (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi dolar (pexels.com/Pixabay)

Berdasarkan data PMA Ciayumajakuning, dominasi Majalengka terlihat cukup mencolok. Hampir satu dari setiap dua rupiah investasi asing yang masuk ke kawasan tersebut berlabuh di wilayah yang menjadi bagian dari pengembangan kawasan Rebana itu.

Margaretha menuturkan, keunggulan Majalengka tidak terlepas dari keberadaan Bandara Internasional Kertajati, akses Tol Cipali, serta pengembangan kawasan industri yang terus bertumbuh.

Faktor-faktor tersebut membuat daerah ini semakin menarik bagi investor yang membutuhkan konektivitas logistik dan akses pasar yang luas.

"Selain itu, pertumbuhan ekonomi Majalengka juga tercatat cukup tinggi. Pada 2025, ekonomi daerah tersebut tumbuh 6,86 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Industri pengolahan menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi daerah tersebut," katanya.

"Dominasi investasi asing ini sekaligus mempertegas posisi Majalengka sebagai salah satu episentrum baru pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Jawa Barat," imbuhnya.

2. Kabupaten Cirebon tempati posisi kedua

ilustrasi dolar (unsplash.com/Alexander Schimmeck)
ilustrasi dolar (unsplash.com/Alexander Schimmeck)

Di bawah Majalengka, Kabupaten Cirebon menjadi daerah penerima PMA terbesar kedua dengan nilai investasi mencapai Rp4,38 triliun selama periode 2023-2025.

Kabupaten Cirebon masih menjadi tujuan favorit investor karena memiliki keunggulan konektivitas melalui jalur Pantura, Tol Cipali, serta kedekatannya dengan pusat distribusi dan pelabuhan.

Jika digabungkan, Majalengka dan Kabupaten Cirebon menyerap sekitar Rp10,03 triliun atau lebih dari 81 persen total investasi asing yang masuk ke Ciayumajakuning.

Kondisi tersebut menunjukkan arus modal asing masih terkonsentrasi pada daerah yang memiliki infrastruktur dan akses logistik paling siap.

Menurut Margaretha, investor umumnya mempertimbangkan kesiapan infrastruktur sebagai faktor utama dalam menentukan lokasi investasi.

“Daerah yang memiliki akses transportasi dan logistik yang baik cenderung lebih kompetitif dalam menarik investasi,” katanya.

3. Indramayu mulai mengejar

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Sementara itu, Kabupaten Indramayu mulai menunjukkan peningkatan daya tarik bagi investor asing. Total PMA yang masuk ke daerah tersebut mencapai Rp1,43 triliun selama tiga tahun terakhir.

Pertumbuhan paling mencolok terjadi pada 2025 ketika nilai investasi melonjak menjadi Rp867 miliar, setelah sebelumnya berada di kisaran Rp264 miliar pada 2024.

Lonjakan tersebut mengindikasikan mulai berkembangnya minat investor terhadap sektor industri, energi, dan pengembangan kawasan ekonomi baru di wilayah utara Jawa Barat.

Di sisi lain, kata Margaretha, distribusi investasi asing di Ciayumajakuning masih belum merata. Kabupaten Kuningan hanya mencatat total investasi Rp499 miliar selama periode 2023-2025, sedangkan Kota Cirebon membukukan PMA sekitar Rp385 miliar.

"Perbedaan yang cukup lebar antara daerah penerima investasi terbesar dan terkecil menunjukkan masih adanya tantangan dalam pemerataan pembangunan ekonomi kawasan," terangnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More