Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Datangi Rumah Korban Latsar Kopdes, Dudung: Keluarga Sudah Ikhlas

Datangi Rumah Korban Latsar Kopdes, Dudung: Keluarga Sudah Ikhlas
Datangi Rumah Korban Latsar Kopdes, Dudung: Keluarga Ikhlas Walau Kehilangan. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Dudung Abdurachman bersama pejabat daerah mengunjungi keluarga korban Latsar Kopdes di Sumedang untuk menyampaikan belasungkawa dan mendoakan almarhum Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
  • Lima keluarga korban meninggal dalam pelatihan dasar calon manajer Koperasi Desa menerima santunan masing-masing Rp50 juta, dengan janji bantuan tambahan dari berbagai pihak bila dibutuhkan.
  • Menteri HAM Natalius Pigai menilai latihan dasar bergaya militer bagi calon manajer koperasi tidak relevan, menekankan pentingnya pendidikan mental, karakter kerja, dan disiplin tanpa unsur fisik militer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bandung, IDN Times - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman mendatangi rumah salah satu korban latihan dasar (latsar) Koperasi Desa (Kopdes) di Kelurahan Situ, Kecamatan Sumedang Utara, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (30/6/2026). Korban atas nama Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Dudung datang sekitar pukul 14.00 WIB bersama Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir dan sejumlah pejabat daerah lainnya. Mereka langsung masuk ke rumah yang berada di Jalan Nangka untuk menemui kedua orang tua almarhum.

Tak berselang lama, Dudung pun kemudian meninggalkan rumah almarhum untuk mendatangi makam dan ikut mendoakan.

"Intinya bahwa kami datang ke sini dengan mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya teman-teman kita semua, ananda Rifki pada saat latihan SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia)," kata Dudung.

1. Semoga keluarga tetap ditabahkan

IMG_20260630_141445.jpg
Datangi Rumah Korban Latsar Kopdes, Dudung: Keluarga Ikhlas Walau Kehilangan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Dudung menuturkan bahwa para almarhum termasuk Rifki adalah orang baik dan merupakan salah satu putra terbaik bangsa yang berhasil lulus seleksi untuk menjadi manajer di Kopdes. Dudung pun berdialog dengan pihak keluarga almarhum dan menyebut bahwa kedua orang tua sudah menerima kepergiang sang anak.

"Tadi saya sudah berdialog secara langsung dengan orang tua. Memang rasa kehilangan, walaupun mengikhlaskan, tetapi merasa kehilangan," paparnya.

Dudung pun mendoakan agar kedua orang tua serta adik korban mendapatkan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan atas meninggalnya Rifki.

2. Dapat santunan dari sejumlah pihak

IMG_20260630_135943.jpg
Datangi Rumah Korban Latsar Kopdes, Dudung: Keluarga Ikhlas Walau Kehilangan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Lima keluarga korban meninggal dalam pelatihan dasar militer calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih mendapat uang santunan masing-masing Rp50 juta.

Dudung menyebut selain santunan tersebut dia dan beberapa pihak termasuk Pangdam juga bakal memberikan santunan dan bantuan lainnya jika memang dibutuhkan pihak keluara korban.

"Dan sebelum kita ganti dan sebagainya mustinya sudah memberikan santunan kepada keluarga korban," paparnya.

3. Menteri Pigai sebut pelatihan militer tak relevan

PSPI
Pendidikan Dasar Militer (Diklatsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Kodam Mulawarman, Jumat (26/6/2026). Kodam Mulawarman

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tidak lagi menggunakan istilah Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dalam pelatihan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) terhadap calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Meski ada perubahan, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, menilai latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak relevan. Menurut dia, yang dibutuhkan dalam pembentukan calon pengelola koperasi adalah pendidikan mental dan karakter kerja, bukan pelatihan fisik bergaya militer.

"Oleh karena itulah, yang diinginkan, diharapkan ke depan itu bukan pendidikan fisik, tapi pendidikan mental yang mental militer. Mental militer itu adalah, rajin, tanggung jawab, cekatan, kerja cepat, kerja objektif, antikorupsi, disiplin tinggi. Sebenarnya yang dibutuhkan tuh di situ. Bukan persoalan pelatihan seperti semi militer atau militer sekolah-sekolah pendidikan dasar militer. Saya pikir itu tidak terlalu penting," kata dia, Senin (29/6/2026).

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More