Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Erupsi Anak Krakatau Mereda, PVMBG Pastikan Morfologi Stabil

Kota Bandung
Erupsi Anak Krakatau Mereda, PVMBG Pastikan Morfologi Stabil
Potret erupsi Gunung Anak Krakatau dari satelit. (dok. Badan Geologi Kementerian ESDM)
  • PVMBG menyatakan aktivitas Anak Krakatau kembali ke pola erupsi strombolian yang singkat dan mereda; tidak ada letusan tercatat dalam dua hari terakhir.
  • Pertumbuhan fisik Anak Krakatau dipengaruhi pertemuan lempeng, sistem magma terbuka, magma encer, dan frekuensi erupsi tinggi yang mempercepat pembentukan tubuh gunung.
  • PVMBG menilai morfologi gunung stabil pada ketinggian sekitar 150 meter dengan lereng landai; potensi runtuhan pemicu tsunami sangat kecil, meski masyarakat tetap diminta waspada.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi memastikan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini telah kembali ke pola erupsi normal berkarakter strombolian. Hal ini diartikan erupsi yang berdurasi singkat dan intensitasnya berangsur mereda.

Bahkan, PVMBG tidak mencatatkan letusan dalam dua hari terakhir. Meski begitu, Kepala PVMBG, Rita Susilowati meminta masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan terkait dinamika vulkanik di Selat Sunda.

"Perkembangan Gunung Anak Krakatau masih seperti sebelumnya, kembali ke erupsi normal tipe strombolian. Erupsinya sebentar-sebentar saja. Dua hari terakhir kemarin tidak ada erupsi, erupsinya sudah selesai," kata Rita, Selasa (15/9/3026).

  1. 1. Arsitektur sistem magma sudah terbuka

    KRI Lauser 924 TNI AL tampak dari kejauhan saat mencari speedboat yang mengangkut lima jurnalis dan tiga awak kapal di sekitar Gunung Anak K
    KRI Lauser 924 TNI AL tampak dari kejauhan saat mencari speedboat yang mengangkut lima jurnalis dan tiga awak kapal di sekitar Gunung Anak Krakatau, Kamis (10/9/2026).

    Rita mengungkapkan, fenomena pesatnya pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau memancing perhatian publik dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mulai dari tektonik regionalnya karena ada pada pertemuan lempeng.

    "Kemudian juga arsitektur sistem magmanya yang saat ini sudah terbuka, kemudian karakteristik magmanya yang berviskositas rendah atau lebih encer, dan juga frekuensi erupsi yang sangat tinggi," kata dia.

    Lebih lanjut, Rita menjelaskan, perubahan arah subduksi lempeng dari Sumatra ke Selat Sunda memicu terbukanya celah atau jalur magma tanpa hambatan berarti menuju permukaan.

    "Nah, ini tuh membuka jalur-jalur magma, sehingga magma ini tanpa hambatan yang berarti bisa naik ke atas. Ini menyebabkan magmanya sangat tinggi suhunya begitu dan dia tuh bersifat cair," tuturnya.

  2. 2. Potensi erupsi tetap ada tapi tidak sekuat awal erupsi

    Semburan lava pijar (lava fountain) pada fase erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, pada September 2026.
    Semburan lava pijar (lava fountain) pada fase erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, pada September 2026. (commons.wikimedia.org/Pemprov Lampung)

    Karena cair, kata dia, membuat adanya lelehan hingga sangat cepat membentuk tubuh gunung di Anak Krakatau ini. Dia menegaskan, masyarakat harus tetap waspada, namun kondisinya sudah tidak seperti waktu awal erupsi pada beberapa waktu kemarin.

    "Potensi erupsi masih ada, tapi jangan terlalu dikhawatirkan karena ini memang bagian dari dinamika pertumbuhan Gunung Anak Krakatau yang memang gunung api muda yang sedang membentuk tubuhnya," kata dia.

  3. 3. Potensi terjadinya tsunami sangat minim

    IMG-20260909-WA0012.jpg
    Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).

    Guna meredam kekhawatiran masyarakat dari ancaman bahaya sekunder, PVMBG memastikan bahwa kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini masih tergolong stabil dan aman, dengan ketinggian fisik yang berkisar 150 meter serta kemiringan lereng atau slope yang masih relatif landai.

    Selain itu, potensi keruntuhan tubuh gunung yang memicu gelombang tsunami sangat kecil. Sehingga, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terpancing informasi tidak benar soal potensi tsunami.

    "Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau ini belum mengkhawatirkan bisa menjadi ancaman keruntuhan, karena tubuhnya sekarang ketinggiannya masih sekitar 150-an meter, slope-nya juga masih landai. Jadi kalau terjadi runtuhan itu tidak akan menyebabkan tsunami, insyaallah," tuturnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More