Kemarau Panjang, 1.000 Warga di Cicurug Sukabumi Krisis Air Bersih

- Sebanyak 1.000 warga di Desa Nanggerang, Cicurug, Sukabumi terdampak krisis air bersih akibat kemarau panjang yang membuat sumber mata air dan sumur warga mengering.
- BPBD Kabupaten Sukabumi menyalurkan bantuan dua mobil tangki berkapasitas total 10.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak.
- Pihak BPBD mengimbau warga agar menggunakan air secara hemat dan memprioritaskan kebutuhan pokok seperti minum, memasak, serta keperluan medis darurat.
Sukabumi, IDN Times - Dampak musim kemarau panjang mulai melanda wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sebanyak 1.000 jiwa di Kecamatan Cicurug kini dilaporkan mengalami krisis air bersih akibat sumber mata air di wilayah mereka mengering.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat bencana kekeringan ini melanda pemukiman padat penduduk sejak beberapa waktu lalu hingga hari ini, Minggu (12/7/2026).
1. Dua kampung di Desa Nanggerang terdampak kekeringan

Manager Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menyatakan bahwa bencana kekeringan ini berlokasi di satu wilayah rukun warga (RW) di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug.
"Kami menerima laporan kejadian kekeringan. Lokasi terdampak berada di Kampung Legok Bitung RT 01/04 dan Kampung Kebon Kawung RT 02, 03, 04 di RW 04, Desa Nanggerang," ujar Daeng, Minggu (12/7/2026).
Akibat kemarau yang berkepanjangan, sumur-sumur warga mulai mengering hingga menyebabkan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih harian. Total ada sekitar 400 Kepala Keluarga (KK) atau kurang lebih 1.000 jiwa yang terdampak.
2. Dua tangki air bersih mulai didistribusikan ke lokasi

Merespons keluhan dan kebutuhan mendesak warga, BPBD Kabupaten Sukabumi langsung bergerak cepat mengirimkan bantuan kedaruratan berupa pasokan air bersih ke lokasi terdampak.
"BPBD hari ini sudah mengirimkan bantuan air bersih sebanyak dua mobil tangki. Masing-masing tangki berkapasitas 5.000 liter, sehingga total ada 10.000 liter air bersih yang disalurkan untuk warga," jelas Daeng.
3. Warga diimbau hemat gunakan air

Daeng mengimbau masyarakat untuk mulai mengubah pola konsumsi air harian. Pihaknya meminta warga agar lebih bijak dalam menggunakan pasokan air, terutama dari bantuan tangki yang didistribusikan petugas.
"Kami mengimbau kepada seluruh warga, khususnya di wilayah terdampak, untuk benar-benar menghemat penggunaan air bersih. Prioritaskan pasokan yang ada untuk kebutuhan pokok terlebih dahulu seperti minum, memasak, dan keperluan medis darurat," tegas Daeng.















