Kerugian Penipuan Digital Rp7,5 Triliun, Warga Diminta Waspada AI

- Kerugian akibat penipuan digital di Indonesia mencapai Rp7,5 triliun, mendorong Komdigi dan Universitas Paramadina menggelar program literasi digital untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman berbasis AI.
- Masyarakat diimbau lebih kritis terhadap hoaks dan deepfake dengan memverifikasi sumber informasi sebelum membagikannya, karena rendahnya kemampuan mengenali konten palsu membuat warga rentan tertipu.
- Meski berisiko disalahgunakan, penggunaan AI di Indonesia terus meningkat hingga 69 persen pekerja; edukasi literasi digital dinilai penting agar teknologi dimanfaatkan secara aman dan produktif.
Bandung, IDN Times – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tak hanya membawa manfaat bagi produktivitas masyarakat, tetapi juga memunculkan ancaman baru berupa penipuan digital dan penyebaran informasi palsu. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat kerugian akibat penipuan digital di Indonesia diperkirakan mencapai Rp7,5 triliun.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan digelarnya program literasi digital "Cek Sebelum Cekcok" yang diikuti sekitar 150 warga Kota Bekasi. Kegiatan yang diinisiasi Universitas Paramadina bersama platform investasi aset kripto PINTU itu mengangkat isu hoaks, deepfake, hingga ancaman siber berbasis AI.
1. Penipuan digital berbasis AI semakin mengkhawatirkan

Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, mengatakan kemampuan masyarakat dalam mengenali informasi palsu masih beragam.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 7 persen masyarakat sangat yakin terhadap informasi yang diterima, 25 persen yakin, sementara 45 persen lainnya masih berada dalam posisi bimbang apakah informasi tersebut benar atau tidak.
Menurut Dimas, kondisi tersebut membuat masyarakat rentan menjadi korban manipulasi informasi maupun penipuan digital.
"Sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi," ujarnya.
2. Deepfake dan hoaks kini menyasar keluarga

Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Rini Sudarmanti, mengingatkan masyarakat untuk semakin kritis terhadap konten yang beredar di media sosial.
Ia menyebut beberapa ciri hoaks yang perlu diwaspadai, mulai dari judul sensasional, video hasil rekayasa AI atau deepfake, hingga penggunaan sumber informasi yang tidak jelas.
Menurut Rini, ibu-ibu memiliki peran penting dalam melindungi keluarga dari ancaman informasi menyesatkan karena menjadi pihak yang paling sering berinteraksi dengan anggota keluarga sehari-hari.
Masyarakat juga diminta membiasakan diri melakukan verifikasi mandiri dengan mengecek sumber informasi dan membandingkannya dengan sumber kredibel sebelum membagikannya ke orang lain.
3. AI bukan hanya ancaman, tapi juga peluang

Di tengah meningkatnya risiko penipuan digital, pemanfaatan AI di Indonesia justru terus tumbuh. Berdasarkan laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, sebanyak 69 persen pekerja Indonesia mengaku telah menggunakan AI dalam pekerjaannya selama satu tahun terakhir.
Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, mengatakan AI dapat membantu berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi, membuat konten media sosial, hingga membantu pelaku usaha mengelola pembukuan.
Namun demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap modus penipuan yang memanfaatkan teknologi tersebut.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya, tidak panik saat menerima pesan mencurigakan, memverifikasi nomor resmi institusi, serta menghindari mengklik tautan yang tidak dikenal.
Dengan tingginya adopsi AI di Indonesia, edukasi literasi digital dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara produktif tanpa menjadi korban kejahatan digital.
















