Bandung Dikaitkan dengan Wisata Seks, Farhan Khawatir Penyebaran HIV

- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti kata kunci wisata seks dalam pembacaan aplikasi media sosial, yang dinilai mengancam citra kota dan meningkatkan risiko HIV/AIDS.
- Pemkot Bandung memperkuat pencegahan HIV/AIDS melalui edukasi dan penanganan perilaku berisiko; penularan dari hubungan heteroseksual tidak aman dilaporkan mencapai sekitar 38 persen.
- Hingga Mei 2026, Bandung mencatat 10.771 ODHA secara kumulatif sejak 1991. Pemkot menargetkan zero new HIV dan zero stigma pada 2030 dengan memperkuat jejaring penanggulangan.
Bandung, IDN Times - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku khawatir dengan hasil pembacaan aplikasi mengenai kata kunci pencarian wisata Kota Bandung di media sosial. Menurutnya, salah satu kata kunci yang muncul justru mengarah pada wisata seks.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi merusak citra Kota Bandung sebagai destinasi wisata sekaligus meningkatkan risiko penyebaran HIV/AIDS. Karena itu, Pemkot Bandung akan memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi hingga penanganan perilaku berisiko.
Farhan mengatakan, berdasarkan hasil pembacaan aplikasi terhadap kata kunci pencarian wisata Kota Bandung, muncul berbagai istilah yang berkaitan dengan wisata seks. Menurutnya, temuan tersebut harus menjadi perhatian bersama dan tidak boleh dianggap sebagai hal yang lumrah.
"Dari hasil bacaan aplikasi kata kunci tentang wisata Kota Bandung, kata kunci Kota Bandung adalah wisata seks. Ini tidak hanya heteroseksual, dari itu juga ada homoseksual, ada swingers atau bertukar pasangan, sampai wisata seks pedofilia," ujar Farhan, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, keterbukaan informasi di media sosial memang tidak bisa dihindari. Namun, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengglorifikasi praktik-praktik seksual yang berisiko maupun merusak citra Kota Bandung.
"Keterbukaan ini diperlukan tapi tidak diglorifikasi," katanya.
1. Perilaku seksual tidak aman berkontribusi terhadap penyebaran kasus

Pemkot Bandung kini memberikan perhatian lebih terhadap penanggulangan HIV/AIDS. Berdasarkan data yang dipaparkan kepadanya, prevalensi penularan HIV melalui hubungan heteroseksual yang tidak aman mencapai sekitar 38 persen.
"Kita ada perhatian lebih untuk HIV/AIDS. Apa yang disampaikan tadi bahwa prevalensi heteroseksual untuk terjangkit dan tertular karena perilaku seksual tidak aman sampai 38 persen. Artinya dari 90-an sampai sekarang tingkat prevalensi ini selalu dinamis," ujarnya.
Ia menjelaskan, pola penyebaran HIV terus berubah dari waktu ke waktu. Selain penularan melalui hubungan seksual, kasus juga ditemukan pada anak yang lahir dari pasangan dengan HIV/AIDS. Sementara itu, risiko penularan melalui transfusi darah di Kota Bandung disebut nyaris tidak ada karena proses penyaringan darah oleh PMI dilakukan secara disiplin.
"Dari PMI Bandung tingkat risiko prevalensi HIV/AIDS di transfusi darah ini nol, karena kedisiplinan dan ini jadi patokan bersama," katanya.
2. Penanganan harus dilakukan tanpa stigma negatif

Di sisi lain, Farhan menegaskan upaya penanggulangan HIV/AIDS tidak boleh disertai stigma maupun diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Menurutnya, pemerintah hanya berfokus pada pencegahan perilaku yang berisiko menularkan HIV.
Ia mengaku telah meminta Satpol PP dan Dinas Sosial untuk mengidentifikasi titik-titik praktik prostitusi di Kota Bandung sebagai bagian dari upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS.
"Jadi yang mereka lakukan itu stigmatisasi, ini yang harus dihindari oleh Pemkot Bandung sampai ke kewilayahan. Maka saya minta ke Satpol PP dan Dinsos untuk identifikasi titik PSK transpuan, sekali dengan PSK perempuan maupun PSK laki-laki. Di Bandung ada seperti itu," ujarnya.
Farhan menegaskan bahwa yang harus diperangi bukanlah kelompok tertentu, melainkan virus HIV/AIDS dan perilaku yang meningkatkan risiko penularannya. Pemerintah pun menargetkan terwujudnya zero new HIV dan zero stigma pada 2030.
"Yang dimusuhi adalah AIDS dan virusnya, dan perilaku berisikonya," kata Farhan.
3. Sudah ada 10.771 orang di Bandung kena HIV/Aids

Pemerintah Kota Bandung terus berupaya untuk mengurangi angka orang dengan HIV/Aids (ODHA) dengan berbagai program hingga aturan. Hingga Mei 2026 tercatat secara kumulatif ada 10.771 ODHA sejak 1991 hingga Mei 2026.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Bandung, Asep Cucu Cahyadi mengatakan bahwa kondisi ini terjadi karena berbagai kasus di antaranya hubungan seks homoseksual dan heteroseksual.
Dengan angka yang masih stagnan tersebut, Pemkot Bandung menggandeng berbagai elemen masyarakat agar bisa meminimalisir penyebaran HIV/Aids setiap tahunnya.
"Kita harus sama-sama menyamakan persepsi dalam penanggulan ini dan memperkuat jejaring agar program yang dijalankan bisa berdampak signidikan pada penurunan kasus di Kota Bandung," kata Cucu.





















