Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Waspada Bediding di Bandung, Suhu Udara Bisa Turun hingga 16 Derajat

Kota Bandung
Waspada Bediding di Bandung, Suhu Udara Bisa Turun hingga 16 Derajat
Ilustrasi kedinginan. (matanaga.com)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • BMKG Bandung memperingatkan fenomena bediding pada awal musim kemarau, dengan suhu malam hingga dini hari di Bandung dan sekitarnya berpotensi turun sekitar 16 derajat Celsius.
  • Pendinginan ekstrem dipicu pelepasan panas bumi yang cepat saat langit cerah serta angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke Indonesia.
  • Perubahan suhu drastis berisiko mengganggu kesehatan; warga diminta memakai pakaian hangat, menjaga kondisi rumah, konsumsi bergizi, menjaga kebersihan, dan memantau informasi cuaca.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Warga Bandung diminta mewaspadai fenomena bediding yang mulai terjadi seiring masuknya musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung memprediksi suhu udara di wilayah Bandung dan sekitarnya pada malam hingga dini hari dapat turun hingga sekitar 16 derajat Celcius.

Fenomena ini tidak hanya membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Perubahan suhu yang drastis dari malam ke siang hari membuat tubuh harus beradaptasi dalam waktu singkat.

"Untuk wilayah Bandung bulan Juli sudah memasuki awal musim kemarau, suhu dingin ekstrem memang cenderung berpeluang terjadi saat musim kemarau, yakni di malam hari hingga pagi hari," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Bandung, Edi.

1. Radiasi bumi dan angin Australia picu suhu dingin ekstrem

Ilustrasi orang kedinginan (pexels/cottonbro studio)
Ilustrasi orang kedinginan (pexels/cottonbro studio)

Edi menjelaskan, suhu dingin saat musim kemarau merupakan fenomena yang wajar terjadi. Pada siang hari, tutupan awan yang minim membuat sinar matahari memanaskan permukaan bumi secara maksimal. Namun, saat malam tiba, panas tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer.

Karena langit cenderung cerah tanpa awan, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih cepat sehingga suhu udara turun drastis hingga dini hari.

"Di malam hari hingga dini hari, radiasi yang disimpan di permukaan bumi akan secara maksimal dilepaskan. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat karena kehilangan energi secara maksimal. Dampaknya adalah suhu minimum atau udara dingin yang ekstrem di malam hingga dini hari," kata Edi.

Selain itu, suhu dingin juga dipengaruhi musim dingin di Australia. Pola tekanan udara tinggi di Australia memicu angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering menuju Indonesia, terutama wilayah selatan khatulistiwa. Angin ini juga menjadi salah satu penyebab utama musim kemarau di Indonesia.

2. Bediding bisa meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan

ilustrasi orang kedinginan (pixabay.com/fizkes)
ilustrasi orang kedinginan (pixabay.com/fizkes)

BMKG mengingatkan perubahan suhu ekstrem saat fenomena bediding dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Udara yang sangat dingin pada malam hingga pagi hari, kemudian berubah menjadi panas terik pada siang hari, membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko batuk, pilek, flu, hingga radang tenggorokan. Bagi penderita penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis, suhu dingin juga dapat memperparah gejala yang dialami.

Tak hanya itu, suhu rendah berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Sebagian orang juga dapat mengalami sakit kepala, tubuh cepat lelah, sulit berkonsentrasi, hingga kulit kering dan iritasi. Penurunan daya tahan tubuh selama cuaca dingin membuat seseorang lebih mudah terserang infeksi virus maupun bakteri.

3. BMKG minta masyarakat jaga kesehatan dan pantau informasi cuaca

ilustrasi cewek kedinginan (pexels.com/Thành Đỗ)
ilustrasi cewek kedinginan (pexels.com/Thành Đỗ)

Menghadapi fenomena bediding, masyarakat diimbau menggunakan pakaian hangat, terutama saat malam hingga pagi hari. Konsumsi makanan bergizi seimbang dan minuman hangat juga disarankan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.

Selain itu, masyarakat diminta menjaga suhu di dalam rumah tetap hangat dengan menutup pintu dan jendela saat udara dingin serta menggunakan selimut ketika tidur. Kebersihan tangan juga perlu dijaga untuk mengurangi risiko penularan penyakit.

BMKG juga mengimbau masyarakat rutin memantau perkembangan informasi cuaca, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Dengan langkah antisipasi tersebut, dampak fenomena bediding terhadap kesehatan diharapkan dapat diminimalkan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More