Banyak Orang Paham Keuangan, tapi Sulit Konsisten Menabung

- Pelaku UMKM di Cirebon masih kesulitan memisahkan uang pribadi dan usaha, menyusun anggaran, serta menjaga arus kas saat pengeluaran meningkat.
- Peserta komunitas ibu di Palembang mengaku menabung dari uang sisa akhir bulan, meski khawatir risiko sakit, kecelakaan, atau kehilangan pekerjaan mengguncang keuangan keluarga.
- Dana darurat untuk kebutuhan tiga hingga enam bulan, bersama tujuan keuangan, perlindungan, tabungan-investasi, dan utang sehat, dinilai penting membangun ketahanan finansial.
Cirebon, IDN Times — Sebagian besar orang sebenarnya sudah tahu bahwa menabung, menyusun anggaran, hingga menyiapkan dana darurat merupakan langkah penting menjaga kondisi keuangan. Namun, memahami teori ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kebiasaan. Di tengah kebutuhan hidup yang terus bertambah, banyak keluarga maupun pelaku usaha kecil masih kesulitan menjalankan disiplin finansial secara konsisten.
Gambaran itu muncul dalam dua kegiatan literasi keuangan yang melibatkan pelaku UMKM di Cirebon dan komunitas ibu di Palembang pada Juli 2026. Meski berasal dari latar belakang berbeda, keduanya menghadapi persoalan yang hampir sama: mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi belum berhasil menjadikannya rutinitas.
1. Pelaku UMKM masih berjuang menjaga disiplin mengelola keuangan

Diskusi bersama pelaku UMKM di Cirebon memperlihatkan bahwa persoalan mereka tidak berhenti pada upaya mengembangkan usaha. Banyak pelaku usaha juga masih berusaha memisahkan uang pribadi dan usaha, menyusun anggaran bulanan, hingga menjaga arus kas tetap sehat ketika pengeluaran meningkat.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak cukup hanya dipahami, tetapi juga perlu diterapkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari agar usaha mampu bertahan menghadapi berbagai risiko.
Chief Customer and Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen, mengatakan tantangan masyarakat saat ini bukan lagi minimnya informasi mengenai pengelolaan keuangan.
"Risiko sering kali datang tanpa peringatan, sehingga kesiapan finansial menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi keluarga dan pelaku usaha. Saat ini, tantangannya bukan lagi sekadar akses terhadap informasi, tetapi bagaimana mengubah pengetahuan tersebut menjadi kebiasaan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Karena langkah sederhana ini dapat menjadi fondasi ketahanan finansial dalam jangka panjang," ujar Karin.
2. Banyak keluarga masih mengandalkan uang sisa untuk ditabung

Cerita yang tak jauh berbeda muncul dari webinar bersama komunitas Supermom di Palembang. Saat sesi diskusi berlangsung, sejumlah peserta mengaku tabungan baru diisi apabila masih ada uang tersisa di akhir bulan. Ada pula yang mengkhawatirkan risiko kehilangan pekerjaan, sakit, maupun kecelakaan dapat langsung mengguncang kondisi keuangan keluarga.
Mompreneur sekaligus family lifestyle creator, Sri Wahyuningsih, menilai kebiasaan finansial yang baik tidak dibangun dari nominal besar, melainkan dari konsistensi menjalankan rencana yang telah dibuat.
"Yang membentuk hasil bukan besarnya, tetapi konsistensinya. Jangan kecil hati kalau suatu kali tabungan kita berkurang karena ada kebutuhan mendesak. Yang penting setelah kondisi kembali normal, kita mulai lagi. Kita kembali melanjutkan kebiasaan baik tadi," katanya.
Menurut Sri, perubahan besar justru lahir dari kebiasaan kecil yang terus dilakukan, meski kondisi keuangan sedang tidak ideal.
3. Dana darurat menjadi fondasi menghadapi risiko keuangan

Selain menabung secara rutin, kesiapan menghadapi kondisi darurat juga masih menjadi pekerjaan rumah banyak keluarga. Padahal, risiko seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendesak bisa datang tanpa diduga.
Head of Centralized Client Services Prudential Indonesia, Yulinda Basir, mengatakan kesehatan finansial keluarga dapat dievaluasi melalui lima indikator, mulai dari tujuan keuangan yang jelas, dana darurat, perlindungan finansial, kebiasaan menabung dan berinvestasi, hingga menjaga proporsi utang tetap sehat.
"Pengelolaan keuangan tidak harus rumit. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan dampak yang lebih besar dalam jangka panjang," ujar Yulinda.
Ia menyarankan setiap keluarga memiliki dana darurat yang mampu memenuhi kebutuhan hidup selama tiga hingga enam bulan. Dengan bekal tersebut, guncangan finansial tidak langsung mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga.
Pada akhirnya, persoalan keuangan keluarga bukan lagi soal mengetahui apa yang harus dilakukan. Tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan kebiasaan-kebiasaan sederhana—mencatat pengeluaran, menyisihkan dana darurat, dan menabung secara rutin—agar tetap berjalan di tengah kebutuhan hidup yang terus berubah. Dengan kebiasaan itulah ketahanan finansial dibangun, sedikit demi sedikit, untuk menghadapi risiko yang bisa datang kapan saja.

















