Diduga Akibat Ulah Manusia, Lahan Hutan Gunung Paseban Kebakaran

- Kebakaran hutan dan lahan melanda Gunung Paseban, Kutawaringin, Kabupaten Bandung, pada Senin sore; petugas gabungan masih melakukan pemadaman hingga petang.
- BPBD Jawa Barat menduga api dipicu aktivitas manusia dan diperparah angin yang mempercepat perambatan, sementara luas terdampak serta penyebab pasti belum dirinci.
- Kebakaran terjadi saat kemarau melanda Jawa Barat; BMKG memprediksi 66 persen wilayah mengalami kemarau lebih cepat dan mengimbau warga menghindari pemicu api.
Bandung, IDN Times – Kebakaran hutan dan lahan terjadi di kawasan Gunung Paseban, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Senin (27/7/2026) sore. Hingga petang, petugas gabungan masih berupaya memadamkan api yang terus membakar kawasan tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menduga kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia (human error) yang diperparah dengan embusan angin, sehingga api cepat merambat ke area lainnya.
"Terjadi kebakaran hutan dan lahan diduga dipicu oleh human error dan disertai angin," ujar Pranata Humas Ahli BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, Senin (27/7/2026).
Hadi mengatakan, hingga kini proses pemadaman masih berlangsung. Petugas terus berupaya mengendalikan kobaran api agar tidak meluas ke wilayah lain. Namun, BPBD belum merinci luas lahan yang terdampak maupun penyebab pasti kebakaran karena proses penanganan masih berlangsung.
Kebakaran ini terjadi di tengah musim kemarau yang telah melanda sebagian besar wilayah Jawa Barat. Kondisi cuaca yang kering diperkirakan meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

Sebelumnya, Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memprediksi musim kemarau tahun 2026 datang lebih awal dibandingkan kondisi normal dan akan berlangsung lebih panjang di sebagian besar wilayah Jawa Barat.
Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Vivi Indhira, menjelaskan musim kemarau telah dimulai sejak Maret di sejumlah daerah, seperti Kota Bekasi dan wilayah utara Kabupaten Karawang. Sementara itu, sebagian wilayah lain mulai memasuki musim kemarau pada April.
"Sebanyak 56 persen wilayah di Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei," kata Vivi dalam konferensi pers daring, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, sebagian wilayah lainnya, termasuk Kota Bandung, Kabupaten Bandung bagian barat, Bandung Barat bagian timur, sebagian Kabupaten Bogor, Sukabumi utara, Cianjur tengah, Garut tenggara, Tasikmalaya selatan, dan Pangandaran barat mulai memasuki musim kemarau pada Juni.
Menurut BMKG, sekitar 66 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami musim kemarau lebih cepat dibandingkan pola normal. Sementara 25 persen wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau sesuai periode normal dan sekitar 7 persen mengalami kemarau yang datang lebih lambat.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau, terutama dengan menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api di kawasan hutan maupun lahan terbuka.

















