Mengapa Industri Nasional Perlu Kuasai Teknologi Sendiri?

- Indonesia perlu memperkuat industri untuk bersaing dalam ekonomi hijau, dengan investasi yang disertai transfer teknologi, inovasi, pengembangan SDM, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
- Satgas Percepatan Hilirisasi menekankan pergeseran dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia agar perusahaan nasional menyerap teknologi, menciptakan inovasi, dan menyediakan pekerjaan berkualitas.
- Danantara dan IBC menilai investasi strategis serta kemitraan global harus membangun kemampuan teknologi, talenta, rantai pasok, riset, dan manufaktur baterai nasional agar ketergantungan berkurang.
Bandung, IDN Times - Indonesia dinilai perlu memperkuat fondasi industrinya agar mampu bersaing di tengah transisi menuju ekonomi hijau. Selain menarik investasi, pengembangan industri nasional juga dinilai harus diikuti dengan penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas inovasi di dalam negeri.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Katadata Policy Dialogue bertajuk Made in Indonesia: Membangun Daya Saing Industri yang Berkelanjutan yang menjadi rangkaian menuju Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2026.
Forum tersebut menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan investasi yang masuk tidak hanya menambah modal, tetapi juga membawa transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan industri domestik.
Sejumlah pembicara juga menilai pembangunan industri nasional menjadi salah satu prasyarat agar Indonesia mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat global.
1. Penguasaan teknologi dinilai menjadi kunci industrialisasi

Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi, Dimas Muhamad, mengatakan Indonesia dapat belajar dari negara yang berhasil membangun sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, keberhasilan industrialisasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk.
"Kalau kita ingin menjadi negara maju dan menghadirkan lapangan kerja berkualitas, kita harus memiliki industri yang kokoh sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi," ujar Dimas, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Selasa (28/7/2026).
Ia menambahkan, Indonesia perlu bergerak dari konsep Made in Indonesia menuju Made by Indonesia. Artinya, perusahaan nasional didorong mampu menyerap teknologi, menghasilkan inovasi, dan berkembang menjadi pemain global. Menurutnya, transformasi industri membutuhkan tiga aspek utama, yakni investasi, transfer teknologi, dan inovasi.
2. Investasi dinilai perlu memberi nilai tambah bagi industri

Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Ardy Muawin, mengatakan tidak ada negara maju yang memiliki industri lemah ataupun bergantung pada teknologi negara lain. Karena itu, investasi perlu diarahkan untuk membangun kemampuan industri nasional.
"Tidak ada satu pun negara maju di dunia yang memiliki industri lemah dan tidak menguasai teknologi. Industrialisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal membangun masa depan bangsa," kata Ardy.
Menurutnya, Indonesia selama ini masih mengandalkan ekspor sumber daya alam dan keunggulan tenaga kerja murah. Melalui Danantara, pemerintah berupaya mendorong investasi pada sektor strategis yang mampu menghasilkan nilai tambah melalui transfer teknologi, pengembangan talenta, dan penguatan rantai pasok nasional.
3. Industri baterai disebut perlu membangun kemampuan sendiri

Dalam forum yang sama, President Director Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya F. Arif, mengatakan penguasaan teknologi menjadi tantangan utama dalam membangun industri baterai nasional. Saat ini, IBC menjalin kemitraan dengan perusahaan global sebagai langkah awal untuk mempelajari teknologi dan proses manufaktur.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemitraan tersebut bukan tujuan akhir. Indonesia dinilai harus mampu membangun kapasitas teknologi sendiri agar tidak terus bergantung pada negara lain, sekaligus memperkuat riset dan kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menyiapkan talenta industri.
"Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. Oleh karena itu, IBC tidak hanya berarti Indonesia Battery Corporation. Bagi kami, IBC juga berarti Indonesia Battery Champion," ujar Aditya.
Melalui diskusi tersebut, para pembicara menilai penguatan industri nasional memerlukan sinergi kebijakan, investasi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan fondasi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga mampu melahirkan perusahaan nasional yang berdaya saing global dan menguasai teknologi masa depan.




















