Satpam Waduk Jatiluhur Tewas Diborgol, KDM Minta Pelaku Ditangkap

- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menemui keluarga Sumarna, satpam Waduk Jatiluhur yang ditemukan tewas dengan tangan terborgol, dan mendesak polisi segera mengungkap serta menangkap pelaku.
- Dedi menyoroti minimnya CCTV di Waduk Jatiluhur dan meminta PJT mengevaluasi keamanan dengan membangun command center yang memantau seluruh area selama 24 jam.
- Polisi masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian Sumarna; sebanyak 15 saksi dari keluarga dan rekan kerja telah dimintai keterangan.
Bandung, IDN Times - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi memberikan perhatian khusus terhadap kasus Sumarna (40 tahun) Satpam Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta yang tewas terikat borgol. Dedi pun sudah menemui keluarga korban di Mapolres Purwakarta.
Dalam pertemuan itu, dia mendesak agar polisi mengusut tuntas kasus tersebut, di mana korban ditemukan meninggal dalam kondisi yang tidak wajar di sekitar waduk.
"Hari ini, saya bertemu dengan Pak Kasat Serse untuk menanyakan perkembangan. Selanjutnya kami meminta agar kasus ini segera terungkap, pelaku yang melakukan pembunuhan terhadap korban," kata dia kepada wartawan, Senin (27/7/2026).
1. Minta polisi segera tangkap pelaku

Dedi mendukung penuh proses hukum yang sedang berlangsung di Polres Purwakarta. Menurut dia, sudah menjadi tugasnya sebagai Gubernur Jabar berkolaborasi dengan kepolisian untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.
"Tugas Gubernur kan memberikan rasa aman dan rasa nyaman bagi seluruh warga dengan berkolaborasi dengan aparat kepolisian," ucap dia.
Apabila kasus itu terungkap, Dedi pun berjanji untuk memperbaiki bangunan Satreskrim Polres Purwakarta. Diketahui, kasus itu masih dalam tahap penyelidikan oleh polisi.
"Ini harus segera terungkap, ya kan? Terungkap nih. Kemudian, kalau sudah terungkap, saya mau rehab nih ruangan Serse-nya," kata Dedi.
2. Soroti soal keamanan Waduk Jatiluhur

Dedi juga menyoroti minimnya CCTV yang berada di sekitar Waduk Jatiluhur, di mana untuk area tersebut mestinya ada semacam ruangan command center yang memantau secara khusus semua aktivitas selama 24 jam.
"Masa di tanggulnya gak ada CCTV? Harusnya di PJT (Perum Jasa Tirta) itu ada ruangan command center yang dipiketin 24 jam. Dilihat, dalam setiap waktu titik-titiknya digeser-geser. Setiap pergerakan orang tuh terbaca," kata dia.
Dedi pun mendesak agar PJT melakukan evaluasi. Lewat evaluasi yang dilakukan, diharapkan tindak kriminal yang terjadi di sekitar Waduk Jatiluhur dapat terpantau.
"Ini penting, segera evaluasi pada jajaran PJT untuk segera membuat command center, memantau seluruh wilayah Jatiluhur bendungannya, agar terbebas dari ancaman. Bayangin loh ini kasusnya pembunuhan. Kalau di situ orang bawa mobil nyimpen bahan peledak terus ditinggalin, bagaimana?" ujar dia.
3. Minta CCTV dipasang di seluruh area Waduk Jatiluhur

Lebih lanjut, Dedi mengatakan,.Waduk Jatiluhur merupakan objek vital karena mempunyai fungsi untuk menahan banjir, mengaliri listrik, dan menyuplai air bersih untuk pertanian dan perikanan. Maka dari itu, sistem keamanannya mesti memadai.
"Ya bayangin, perusahaan besar punya fungsi untuk menjaga keamanan dan keselamatan negara, ya," kata dia.
Sebelumnya, korban pertama kali ditemukan oleh seorang satpam lainnya yang ada di sekitar waduk pada Jumat (24/7/2026). Korban ditemukan dalam kondisi tenggelam dan tangan terikat borgol. Temuan itu kemudian dilaporkan ke polisi.
Kini, polisi nasih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban. Polisi mengimbau masyarakat agar menunggu hasil penyelidikan yang sedang dilakukan.
Tercatat ada 15 saksi yang terdiri dari kerabat dekat korban yaitu keluarga dan rekan kerja yang telah dimintai keterangan oleh polisi.



















