Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Walkot Farhan Fokus Layanan Dasar dalam Kinerjanya untuk Warga Bandung

Walkot Farhan Fokus Layanan Dasar dalam Kinerjanya untuk Warga Bandung
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan fokus pemerintahannya pada layanan dasar seperti pengelolaan sampah, jalan, parkir, dan pelayanan publik yang responsif sebagai wujud nyata kehadiran pemerintah bagi warga.
  • Farhan menilai setiap event di Bandung harus berdampak nyata dan terukur bagi ekonomi lokal, melibatkan UMKM secara langsung, serta memperhatikan tanggung jawab lingkungan sejak tahap perencanaan.
  • Pada tahun pertamanya, Farhan menekankan pentingnya integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan sambil mengajak warga berpartisipasi aktif menjaga dan membangun Bandung bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Satu tahun memimpin Kota Bandung, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memilih menempatkan layanan dasar sebagai fondasi utama pemerintahannya. Di tengah ekspektasi publik yang tinggi dan dinamika kota yang tak pernah sepi isu, Farhan menyebut tahun pertama ini sebagai fase belajar, mendengar, dan menata arah.

Menurutnya, satu tahun memang bukan waktu yang panjang untuk menuntaskan seluruh persoalan kota yang kompleks. Namun periode itu cukup untuk memahami kondisi Bandung sebagai kota dengan energi besar, kreativitas tinggi, sekaligus kritik yang tak pernah surut.

Dalam refleksi setahunnya, Farhan menegaskan ruang demokrasi di Bandung harus tetap terbuka, termasuk bagi kritik dan kekecewaan warga yang disampaikan secara langsung maupun lewat ruang digital.

1. Tak sekedar gagasan

IMG_20260126_092436.jpg
Peresmian petugas pemilah dan pengolah sampah (GASLAH) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Farhan mengakui, memimpin Bandung tidak cukup hanya dengan gagasan besar atau program yang terdengar menarik di atas kertas. Warga, kata dia, lebih merasakan hal-hal sederhana yang hadir setiap hari dalam kehidupan mereka.

Sampah yang terkelola, jalan yang tertata rapi, parkir yang lebih manusiawi, ruang publik yang ramah, hingga pelayanan publik yang responsif menjadi wajah pemerintahan yang paling nyata.

Ia menilai, sebagian besar kritik warga berangkat dari pengalaman keseharian tersebut. Karena itu, ia memilih tidak memandang kritik sebagai ancaman.

“Yang paling dirasakan warga justru hal-hal yang hadir setiap hari,” kata Farhan melalui siaran pers diterima IDN Times, Rabu (3/3/2026).

Menurutnya, tugas pemerintah bukan menutup telinga, melainkan memastikan setiap keluhan berujung pada perbaikan nyata. Ia juga menekankan bahwa Bandung harus nyaman dihuni sebelum indah dipromosikan. Kota ini, kata dia, tidak boleh hanya ramah bagi pengunjung, tetapi juga adil bagi warganya sendiri.

2. Kota event tetap jalan, tapi harus berdampak dan terukur

ilustrasi konser
ilustrasi konser (pexels.com/Rahul Pandit)

Julukan Bandung sebagai kota event bukan hal baru. Farhan memahami bahwa berbagai kegiatan berskala lokal hingga nasional mampu menggerakkan ekonomi, membuka ruang ekspresi budaya, dan menarik wisatawan.

Namun di sisi lain, ia juga menangkap kritik warga yang kerap muncul: kemacetan, sampah pasca-acara, hingga pertanyaan soal manfaat jangka panjang. Karena itu, ke depan ia menegaskan setiap event harus memiliki standar yang lebih jelas.

“Tidak cukup hanya ramai, tetapi harus berdampak,” ujarnya.

Dampak ekonomi, menurutnya, harus terukur. Keterlibatan UMKM harus nyata, bukan sekadar simbolik. Tanggung jawab lingkungan pun harus menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.

Dengan pendekatan ini, event tidak lagi berdiri sendiri sebagai seremoni, tetapi terhubung langsung dengan kualitas hidup warga dan arah pembangunan kota.

3. Tata kelola dan integritas jadi ujian tahun pertama

WhatsApp Image 2026-03-02 at 1.20.25 PM.jpeg
Pemkot Bandung Kaji Pemberian THR PPPK Paruh Waktu. Dok Diskomimfo Bandung

Farhan juga menyinggung bahwa membangun kota tidak pernah lepas dari ujian. Di tengah kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik, kepercayaan masyarakat diuji oleh berbagai dinamika yang menyentuh aspek etika dan integritas pemerintahan.

Dalam situasi tersebut, ia menegaskan pemerintah tidak boleh bersikap defensif, tetapi juga tidak boleh gegabah.

Prinsip yang dipegang, kata dia, sederhana: menghormati proses hukum, menjaga akuntabilitas institusi, dan memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan tanpa gangguan.

“Integritas pemerintahan tidak ditentukan oleh absennya masalah, melainkan oleh cara kita bersikap ketika masalah itu muncul,” tulisnya.

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi, terutama dalam pengelolaan anggaran daerah dan pengambilan keputusan publik. Di era digital, menurutnya, kepercayaan dibangun lewat data, penjelasan yang jujur, serta kesediaan untuk dikoreksi.

4. Tahun pertama fase merawat, berikutnya percepatan

WhatsApp Image 2026-03-02 at 1.20.23 PM.jpeg
Pemkot Bandung Kaji Pemberian THR PPPK Paruh Waktu. Dok Diskomimfo Bandung

Farhan memilih kata “merawat” untuk menggambarkan arah kepemimpinannya. Bagi dia, kota bukan sekadar kumpulan proyek fisik, melainkan ruang hidup bersama.

Merawat berarti memperhatikan yang kecil, mendengar yang lemah, dan memperbaiki yang rusak secara konsisten.

Ia menyebut tahun pertama ini sebagai fase belajar dan menata fondasi. Tahun-tahun berikutnya, kata dia, harus menjadi fase percepatan dengan komitmen pada layanan publik yang manusiawi, lingkungan yang lestari, ekonomi yang inklusif, dan tata kelola yang bersih.

Menutup refleksinya, Farhan menegaskan Bandung tidak akan pernah selesai dibangun oleh wali kota dan jajaran pemerintah saja. Kota ini hidup dan bergerak karena warganya.

Karena itu, ia mengajak seluruh warga untuk terus terlibat, mengawasi, dan menjaga Bandung bersama.

“Satu tahun ini bukan tentang klaim keberhasilan, melainkan tentang tanggung jawab untuk terus belajar,” tulisnya.

Bagi Farhan, Bandung bukan hanya warisan, tetapi titipan bagi generasi berikutnya—yang harus dirawat bersama agar tumbuh sebagai kota yang unggul dalam kualitas hidup, terbuka dalam tata kelola, dan amanah dalam kepemimpinan.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More