Uskup Bandung Ajak Umat Katolik Perkuat Toleransi Jelang Pemilu 2024

Bandung, IDN Times - Ribuat umat Katolik di Kota Bandung melaksanakan Misa Natal di Gereja Katedral Gereja Katedral St. Petrus Kota Bandung. Ibadah di gereja tersebut berlangsung khidmat sejak pagi hari.
Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC perayaan Natal tahun ini mengambil tema Pulang Melalui Jalan Lain. Artinya, umat diharap bisa bertemu dengan Tuhan dengan berbagai cara yang lebih kreatif..
"Misalnya kita bisa bangkit lebih cepat saat bersama-sama mengatasi wabah corona," kata Antonius, Minggu (25/12/2022).
Demiikian pula jelang pemilihan umum (pemilu) 2024, di mana pesta politik sudah menanti masyarakat, maka harus ada etika yang santun dalam berpolitik yang bisa membawa damai sejahtera.
"Kalau kampanye tonjolkan yang baik sendiri. Jangan berkampanye sesuatu yang buruk tentang orang lain. Makanya tahun ini mari cari cara ke sana (hal baik)," kata dia.
1. Persatuan akan berujung pada pembangunan yang luar biasa

Menurutnya, selama ini Presiden Indonesia selalu mengajak masyarakat untuk berbuat kebaikan dan menggaungkan gotong royong. Solidaritas menjadi penting karena bisa berujung pada persatuan yang kuat.
Untuk itu sangat penting dalam menyampaikan berita dama kepada masyarakat. Karena dengan kedamaian akan ada pembangunan yang luar biasa.
"Perbedaan ini adalah anugerah. Maka kita ajak bersama-sama (tingkatkan toleransi)," kata Antonius.
2. Cari hal baik demi terciptanya keadailan sosial

Antonius pun mengajak seluruh masyarakat menjunjung tinggi nilai keTuhanan yang Maha Esa. Sebagai bangsa Indonesia, semua orang memiliki hak sama dalam beribadah. Maka dengan mengedepankan toleransi, setiap orang harus berjuang untuk keadailan sosial bagi seluruh bangsa.
"Makanya kita haru cari cara yan baik." kata dia.
3. Berikan ruang pada umat lain untuk beribadah sesuai keyakinan

Dalam ibadah Misa Natal pagi ini, Katedral Gereja Katedral St. Petrus kedatangan perwakilan Ikatan Pesantren Indonesia (IPI). Kehadiran mereka pada perayaan ini memperlihatkan bahwa Indonesia merupakan bangsa majemuk.
Dia menceritakan ada seorang uskup di kepulauan Maluku, di mana mayoritas warganya adalah umat Katolik. Uskup tersebut tetap memint umatnya memberikan ruang bagi warga muslim mendirikan Musala agar bisa digunakan untuk Salat Jumat.
"Mari kita bersama-sama jalin (toleransi) satu sama lain dalam perbedaan ini. Bukankah kita ini Bhineka Tunggal Ika," ungkapnya.



















