Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Komidigi Dorong Pemerataan Internet di Indonesia Pakai Semua Teknologi

Komidigi Dorong Pemerataan Internet di Indonesia Pakai Semua Teknologi
Pemerataan Internet Tak Bisa Satu Cara, Komdigi: Semua Teknologi Harus Dipakai. IDN Times/Istimewa
Intinya Sih
  • Pemerintah dorong pemerataan akses digital nasional lewat kombinasi FTTH, FWA, dan mobile broadband agar seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil, bisa menikmati layanan internet secara merata.
  • Fiber optik ditetapkan sebagai backbone utama jaringan nasional, sementara teknologi lain seperti seluler dan FWA berperan melengkapi distribusi akses sesuai kondisi geografis dan kepadatan penduduk.
  • Kombinasi teknologi digital dinilai mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat serta memastikan layanan internet stabil, fleksibel, dan terjangkau di berbagai wilayah Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Pemerintah terus mencari formula paling tepat untuk mempercepat pemerataan akses digital di Indonesia melalui penggunaan FTTH (Fiber to the Home), FWA (Fixed Wireless Access), serta Mobile Broadband. Sebab, dengan kondisi geografis yang beragam, pendekatan tunggal dinilai tidak cukup untuk menjangkau seluruh wilayah, terutama daerah terpencil dan tertinggal.

Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi RI, Denny Setiawan, menegaskan bahwa kombinasi berbagai teknologi menjadi kunci dalam memperluas akses internet secara merata. Penggunaan satu jenis teknologi saja tidak akan mampu menjawab tantangan konektivitas di Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau.

“Mempercepat pemerataan akses digital. Ada pakai kabel, pakai FWA, mobile broadband. Mana sih yang kira-kira paling tepat bagi Indonesia? Tapi kesimpulannya saling melengkapi,” ujarnya dalam diskusi di ITB, Selasa (7/4/2026).

Ia menekankan bahwa kondisi geografis hingga kepadatan penduduk menjadi faktor penting dalam menentukan teknologi yang digunakan.

“Karena enggak semuanya bisa pakai kabel, harus ada beberapa pakai seluler,” lanjutnya.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berupaya memastikan masyarakat tetap bisa mengakses layanan digital, meskipun berada di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur.

1. Fiber optik tetap jadi backbone utama jaringan nasional

IMG_20251015_165657.jpg
Alat praktik fiber optik di SMK Negeri 1 Lubuk Pakam (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Meski berbagai teknologi digunakan, Denny menegaskan bahwa fiber optik tetap menjadi tulang punggung dalam pengembangan infrastruktur digital nasional.

“Emang harus dibangun fiber sebagai backbone-nya kan. Nah, baru setelah itu untuk plasma-nya tadi bisa tiga ini, bisa selular, ya, FTTH,” jelasnya.

Setelah backbone terbangun, distribusi akses ke masyarakat bisa dilakukan melalui berbagai teknologi turunan, seperti jaringan seluler maupun fiber to the home (FTTH). Dengan strategi kombinasi ini, pemerintah berharap pemerataan akses digital tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di masa depan.

2. Keberadaan internet tingkatkan ekonomi masyarakat

Ilustrasi internet (unsplash.com/Frederik Lipfert)
Ilustrasi internet (unsplash.com/Frederik Lipfert)

Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia STEI ITB, Ian Josef Matheus Edward, upaya untuk mempercepat dan memperluas akses jaringan internet masih menghadapi tantangan besar, terutama soal sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah. Saat ini banyak kebijakan di lapangan belum berjalan selaras.

Menurutnya, kondisi ini justru berpotensi menghambat pembangunan jaringan, termasuk pengembangan FWA dan infrastruktur pendukungnya.

“Jangan sampai kebijakan daerah malah membebani masyarakat. Tujuan kita itu supaya layanan bisa terjangkau,” kata dia.

Dia menilai bahwa sistem FTTH menawarkan kapasitas dan stabilitas terbaik, sementara FWA memberikan fleksibilitas dan kecepatan penggelaran. Keduanya perlu diposisikan sebagai solusi komplementer untuk memperluas akses digital.

Selain itu, pemerintah juga akan memanfaatkan dana untuk mendukung pembangunan di wilayah yang belum layak secara komersial. Pembangunan infrastruktur digital bukan hanya soal konektivitas, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi.

Ia mencontohkan, pembangunan satu BTS di daerah tertinggal bisa meningkatkan perputaran ekonomi hingga ratusan juta rupiah. “Kalau ekonomi masyarakat meningkat, otomatis pajak juga naik. Itu efek domino yang kita kejar,” ujarnya.

3. Layanan digital masyarakat harus terpenuhi

MyRepublic kembali memperluas cakupan jaringan internet di Tanah Air, teranyar di Serang, Cilegon, dan, Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
MyRepublic kembali memperluas cakupan jaringan internet di Tanah Air, teranyar di Serang, Cilegon, dan, Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Chief Technology Officer MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan menuturkan bahwa sistem FTTH membutuhkan investasi besar dan pembangunan infrastruktur yang kompleks. Sementara FWA dihadapkan pada keterbatasan spektrum serta kualitas layanan.

Karena itu, MyRepublic memilih strategi berbasis karakteristik wilayah. Untuk daerah padat dengan kebutuhan bandwidth tinggi, FTTH menjadi andalan. Sedangkan FWA dimaksimalkan untuk mempercepat penetrasi di kawasan semi-urban. Hendra juga menegaskan bahwa kedua teknologi tersebut bukan saling menggantikan.

"FTTH tetap menjadi backbone utama dalam menghadirkan konektivitas yang stabil dan berkapasitas tinggi, sementara FWA berperan sebagai pelengkap untuk memperluas jangkauan layanan serta membuka peluang pasar baru," kata Hendra dalam diskusi, Selasa (7/4/2026).

Ia menambahkan, dinamika harga layanan FWA di pasar memang tidak berdampak langsung pada FTTH. Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian pelaku industri dalam membentuk ekspektasi harga ke depan.

Saat ini, MyRepublic Indonesia terus memperluas jaringan full fiber optic yang diklaim mampu menghadirkan koneksi stabil dan berkapasitas tinggi. Layanan ini menyasar berbagai kebutuhan digital masyarakat, mulai dari produktivitas hingga hiburan. Di sisi lain, untuk wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber, FWA dinilai bisa menjadi solusi alternatif dalam menyediakan akses broadband.

"Kami melihat FTTH, FWA, dan selular bukan sebagai kompetitor, melainkan sebagai solusi yang saling melengkapi. Dukungan regulasi dan insentif yang tepat akan sangat menentukan kecepatan industri dalam memperluas jangkauan layanan. Dengan pendekatan yang berbasis kebutuhan pelanggan dan kondisi wilayah, kami optimistis dapat menghadirkan konektivitas yang lebih merata, berkualitas, dan terjangkau," jelasnya.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More