Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Miris, Guru-Siswa Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Cimandiri Sukabumi

Miris, Guru-Siswa Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Cimandiri Sukabumi
Siswa bertaruh nyawa sebrangi sungai Cimandiri di Sukabumi (IDN Times/Istimewa)
Intinya Sih
  • Ratusan warga Kampung Leuwidinding terpaksa menyeberangi Sungai Cimandiri dengan perahu karet setiap hari setelah jembatan gantung hancur diterjang banjir dan longsor akhir Desember 2025.
  • Jalur alternatif darat sejauh enam kilometer dinilai terlalu jauh, sehingga warga lebih memilih jalur sungai meski berisiko tinggi; TNI AL sempat membantu dengan satu unit perahu karet baru.
  • Pemerintah Desa Tanjungsari telah mengajukan pembangunan kembali jembatan ke Pemkab Sukabumi, namun hingga kini belum ada realisasi, membuat warga terus berharap solusi segera.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sukabumi, IDN Times - Sudah lebih dari setengah tahun berlalu sejak Jembatan Gantung Leuwidinding hancur diterjang banjir dan longsor pada akhir Desember 2025 lalu. Namun hingga kini, penderitaan ratusan warga Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, seolah belum menemui titik terang.

Setiap hari, mereka terpaksa harus mempertaruhkan keselamatan demi bisa menyeberangi Sungai Cimandiri selebar 40 meter. Perahu karet kini menjadi satu-satunya 'tumpuan harapan' warga agar roda ekonomi dan pendidikan tidak lumpuh total.

1. Dari anak sekolah sampai pasien sakit terpaksa naik perahu karet

4934fa97-e68c-47f5-91f5-3e9b09206bde.jpeg
Guru bertaruh nyawa sebrangi Sungai Cimandiri gegara jembatan rusak di Sukabumi (IDN Times/Istimewa)

Saban pagi dan sore, hilir mudik warga terlihat memadati tepian sungai. Tanpa adanya jembatan, perahu karet yang dikayuh manual oleh operator menjadi andalan utama warga untuk menyeberang ke Desa Parakanlima dan Desa Sirnaresmi di Kecamatan Gunungguruh.

Aktivitas ini penuh dengan risiko. Jika cuaca cerah, aliran sungai memang tampak bersahabat. Namun, ceritanya akan berbeda 180 derajat saat hujan mengguyur kawasan hulu. Arus Sungai Cimandiri bisa mendadak berubah menjadi sangat deras dan mengancam keselamatan siapa saja yang nekat melintas.

Mirisnya, jalur ekstrem ini dilewati oleh berbagai kalangan setiap hari, mulai dari anak-anak sekolah (tingkat SD, SMP, hingga SMA), para pekerja dan karyawan pabrik, pedagang yang hendak menyuplai barang hingga pasien darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.

2. Jalur memutar terlalu jauh dan habiskan waktu

IMG_6045.jpeg
Guru bertaruh nyawa sebrangi Sungai Cimandiri gegara jembatan rusak di Sukabumi (IDN Times/Istimewa)

Kepala Desa Tanjungsari, Ilah Hablillah mengonfirmasi bahwa putusnya jembatan ini berdampak langsung pada mobilitas warga di delapan RT. Jembatan gantung tersebut memang merupakan urat nadi transportasi antardesa di dua kecamatan berbeda. Sebenarnya ada jalur darat alternatif, namun jaraknya sangat tidak efisien bagi aktivitas harian warga.

"Kalau memutar memang masih bisa, tetapi jaraknya jauh, hampir enam kilometer, dan harus melewati jalan alternatif di kawasan PT SCG. Karena itu masyarakat lebih memilih menggunakan perahu karet karena jauh lebih dekat dan cepat," ungkap Ilah, Selasa (14/7/2026).

Awalnya, warga sempat dibantu oleh perahu karet milik BPBD, namun fasilitas tersebut kini sudah rusak. Kini, Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) TNI Angkatan Laut turun tangan memberikan bantuan satu unit perahu karet baru yang dilengkapi dayung, pompa, serta enam buah pelampung demi menjaga keselamatan warga untuk sementara waktu.

3. Pemerintah Desa sudah ajukan perbaikan, tapi belum ada realisasi

IMG_6044.jpeg
Guru bertaruh nyawa sebrangi Sungai Cimandiri gegara jembatan rusak di Sukabumi (IDN Times/Istimewa)

Pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Tanjungsari mengaku tidak tinggal diam melihat penderitaan warganya. Abah Ilah menyebut pihaknya telah berulang kali mengajukan permohonan pembangunan kembali jembatan gantung tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi maupun instansi terkait lainnya.

"Peninjauan sudah dilakukan, tetapi sampai saat ini belum ada informasi lagi kapan pembangunan akan dimulai. Padahal keberadaan jembatan ini sangat vital untuk menunjang aktivitas warga," tuturnya dengan nada penuh harap.

4. Warga berharap jembatan baru segera dibangun

IMG_6043.jpeg
Guru bertaruh nyawa sebrangi Sungai Cimandiri gegara jembatan rusak di Sukabumi (IDN Times/Istimewa)

Jeritan hati yang sama juga diungkapkan oleh Hamiman Juanda (37), salah seorang warga Kampung Leuwidinding. Menurutnya, rusaknya jembatan ini benar-benar memukul kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat, terutama saat menghadapi situasi darurat.

"Tentunya dengan kerusakan jembatan ini sangat berdampak terhadap warga, apalagi saat ada warga yang mengalami sakit sampai harus ditandu dan menyeberangi sungai menggunakan perahu karet," keluh Hamiman.

Mewakili suara ratusan warga lainnya, Hamiman sangat berharap pemerintah daerah maupun para pemangku kepentingan tergerak hatinya untuk segera mengulurkan bantuan fisik. Warga hanya ingin bisa beraktivitas dengan aman, tenang, dan nyaman tanpa harus dihantui rasa takut tenggelam setiap hari.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Barat

See More