Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pekerja SPPG Ungkap Perubahan Sikap Sofyan Sebelum Akhiri Hidup

Pekerja SPPG Ungkap Perubahan Sikap Sofyan Sebelum Akhiri Hidup
Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)
Intinya Sih
  • Sofyan Faturrahman, Kepala SPPG Rancamulya 02, menunjukkan perubahan sikap menjadi lebih tertutup sekitar tiga bulan sebelum mengakhiri hidupnya, meski rekan kerja tidak melihat adanya masalah pekerjaan.
  • Menjelang masa libur operasional dapur, Fazri kehilangan kontak dengan Sofyan selama dua minggu hingga akhirnya menerima kabar duka dari keluarga tanpa penjelasan pasti mengenai penyebabnya.
  • Setelah meninggalnya Sofyan, operasional dapur makan bergizi gratis dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional sampai kepala SPPG pengganti ditunjuk agar pelayanan dapat kembali berjalan normal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bandung, IDN Times - Meninggalnya Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rancamulya 02 Kabupaten Bandung, Sofyan Faturrahman, yang mengakhiri hidup menyisakan duka sekaligus tanda tanya bagi rekan-rekan kerjanya. Salah satu mitra SPPG Rancamulya 02, Fazri, mengaku tidak pernah melihat adanya persoalan dalam pekerjaan Sofyan. Namun, ia menyadari ada perubahan sikap yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, Sofyan merupakan kepala SPPG yang ditugaskan langsung oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sejak dapur makan bergizi gratis (MBG) Rancamulya 02 mulai beroperasi pada September 2025. Selama bertugas, program distribusi makanan kepada ribuan penerima manfaat disebut berjalan lancar tanpa kendala berarti.

"Awal-awal saya masih bisa komunikasi lancar, suka bercanda. Tapi sekitar tiga bulan terakhir jadi agak beda, lebih tertutup. Ditanya juga bilang enggak ada apa-apa," ujar Fazri, Senin (13/7/2026).

1. Ada perubahan sikap sejak tiga bulan terakhir

Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)
Ilustrasi bunuh diri (IDN Times)

Fazri mengatakan, perubahan sikap Sofyan mulai terasa sekitar tiga bulan sebelum meninggal dunia. Jika sebelumnya mudah diajak berdiskusi dan bercanda, belakangan Sofyan lebih banyak diam dan cenderung menutup diri.

Padahal, sebagai mitra kerja Fazri mengaku cukup sering bertemu dengan Sofyan, bahkan bisa dua hingga tiga kali dalam sepekan. Setiap ada rapat evaluasi maupun koordinasi operasional dapur, ia selalu mencoba menanyakan apakah ada persoalan yang sedang dihadapi.

Namun, setiap kali ditanya Sofyan selalu memberikan jawaban singkat bahwa dirinya tidak memiliki masalah, baik persoalan pekerjaan maupun urusan pribadi.

"Saya suka tanya, 'Pak Sofyan kenapa?' Dijawab enggak ada apa-apa. Kalau rapat juga saya tanya ada masalah pribadi atau masalah dapur, jawabnya tetap enggak ada. Jadi saya enggak bisa mendalami lebih jauh," katanya.

Fazri juga mengingat masih sempat berkomunikasi dengan Sofyan menjelang masa libur operasional dapur. Namun, respons yang diberikan mulai berbeda karena pesan yang dikirim baru dibalas dalam waktu lama.

"Terakhir komunikasi juga lama balasnya. Jadi kayak ngelamun dulu, saya juga enggak tahu ada beban pikiran apa," ujarnya.

2. Sempat kehilangan kontak sebelum kabar duka diterima

ilustrasi bunuh diri (unsplash.com/Eva Blue)
ilustrasi bunuh diri (unsplash.com/Eva Blue)

Menjelang berakhirnya masa libur, Fazri berusaha menghubungi Sofyan untuk membahas kesiapan operasional dapur MBG. Namun, upaya tersebut tidak berhasil karena telepon seluler Sofyan sudah tidak aktif.

Ia kemudian mencoba mencari informasi kepada keluarga dan kerabat Sofyan untuk memastikan keberadaannya sekaligus menanyakan rencana operasional dapur setelah libur.

"HP-nya sudah enggak aktif sekitar dua minggu. Saya coba tanya ke keluarganya juga karena ingin memastikan dapur ini setelah libur bagaimana, tapi memang enggak ada jawaban. Jadi benar-benar lost contact," katanya.

Fazri mengaku baru mengetahui kabar meninggalnya Sofyan dari pihak keluarga, bukan dari media sosial. Kabar tersebut membuatnya terkejut karena selama ini ia tidak pernah melihat adanya persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan.

Bahkan, ia sempat mendatangi rumah duka dan ikut membantu proses pemulasaraan jenazah. Dalam kesempatan itu, Fazri juga mencoba mencari tahu apakah ada masalah yang selama ini dihadapi Sofyan.

"Saya datang, ikut memandikan almarhum, sekalian bertanya ke keluarganya. Tapi memang belum ada penjelasan yang pasti. Saya juga enggak mau berspekulasi karena banyak isu yang beredar," ucapnya.

3. Operasional dapur dihentikan sementara, pelayanan tunggu kepala SPPG baru

ilustrasi SPPG.jpg
Ilustrasi SPPG. IDN Times/istimewa

Meski kehilangan kepala SPPG, Fazri memastikan selama hampir sembilan bulan Sofyan bertugas tidak pernah ada gangguan dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis.

SPPG Rancamulya 02 melayani sebanyak 2.625 penerima manfaat yang terdiri dari enam sekolah mulai tingkat TK, SD, SMP, serta tiga posyandu. Seluruh distribusi makanan disebut berjalan sesuai jadwal dengan dukungan 47 relawan yang bertugas di dapur.

"Kalau pekerjaan almarhum bagus, Alhamdulillah. Selama ini enggak pernah ada masalah, distribusi ke sekolah maupun posyandu juga lancar," ujarnya.

Namun, pasca meninggalnya Sofyan, operasional dapur untuk sementara dihentikan atas arahan Badan Gizi Nasional hingga ada kepala SPPG pengganti.

Menurut Fazri, penghentian sementara dilakukan karena seluruh proses persetujuan pencairan dana operasional masih berada di bawah kewenangan kepala SPPG. Selama belum ada pengganti, dapur belum dapat kembali beroperasi.

"Sekarang sementara off dulu karena kepala SPPG belum ada. Semua approval pencairan dana itu ada di beliau, jadi kami memang harus menunggu pengganti," katanya.

Meski demikian, Fazri berharap pengganti Sofyan dapat segera ditunjuk agar pelayanan program makan bergizi gratis bagi ribuan penerima manfaat dapat kembali berjalan normal. Ia juga meminta masyarakat tidak mengaitkan peristiwa tersebut dengan persoalan di dapur karena selama ini operasional disebut berjalan tanpa kendala.

"Saya hanya bisa memastikan satu hal, selama bekerja di dapur tidak pernah ada masalah. Soal penyebab yang dialami almarhum, saya rasa itu menjadi ranah keluarga dan pihak yang berwenang," tutupnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana

Latest News Jawa Barat

See More