Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Upaya Pemuda Karang Taruna Menjaga Minat Belajar Anak saat Jalani PJJ

Upaya Pemuda Karang Taruna Menjaga Minat Belajar Anak saat Jalani PJJ
Belasan pemuda-pemudi karang taruna di di Kampung Cibiru Beet, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat membuka sekolah tatap muka secara gratis di tengah kesulitan akses ponsel pintar dan internet. IDN Times/Debbie Sutrisno
Share Article

Bandung, IDN Times - Fiqri dan Aji berdiri di depan para teman sebayanya. Sambil tertawa riang mereka memeragakan arahan dari Selvi dan Evi yang tengah mengajarkan Bahasa Inggris tentang bagian-bagian anggota tubuh.

Sambil sesekali menyontek tulisan yang ada di papan tulis, Fiqri dan Aji pun mengeja satu per satu bagian tubuh dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sambil menggerakkan bagian tubuh mana yang mereka sebut. Meski terbata-bata, keduanya tetap mendapat tepuk tangan meriah dari teman-teman setelah selesai menjawab tantangan kedua gurunya. Sedangkan murid lain sudah terlebih dulu tampil di depan untuk memperagakan hal serupa.

Belajar bahasa Inggris menjadi salah satu kegiatan belajar yang dilakukan di salah satu rumah warga di Kampung Cibiru Beet, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di saat banyak anak sekolah lainnya menghabiskan waktu belajar secara jarak jauh dari rumahnya, puluhan anak di RW 15 ini sedari pagi sudah asik belajar sambil bermain.

Kegiatan belajar mengajar di RW 15 diinisiasi belasan pemuda pemudi dari Karang Taruna sekitar. Melihat anak-anak kecil di sekitar rumah lebih banyak menghabiskan waktu bermain ketimbang belajar secara jarak jauh di tengah pandemik COVID-19, para pemuda karang taruna ini coba mengajak mereka untuk belajar bersama.

Taufik Ivan Irwansyah Hidayatullah, yang merupakan penggagas kegiatan belajar gratis ini menjelaskan, berdirinya sekolah ini berawal dari kegelisahan setelah melihat anak-anak di kampungnya kurang mendapat perhatian untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Mereka terlebih lebih banyak menghabiskan waktu bermain ketimbang belajar.

Salah satu persoalannya karena orang tua mereka mayoritas bekerja di ladang baik sebagai petani atau peternak. Pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan ketika mengurusi ladang membuat anak kesulitan belajar tanpa bantuan bimbingan orang tua.

"Pas selesai salat kadang saya lihat mereka hanya main saja sampai sore. Dari situ saya tekadkan diri mengajak mereka untuk datang ke masjid dan belajar," ujar Taufik ditemui di tempat mengajar beberapa waktu lalu.

1. Anak-anak ternyata sangat berminat ketika diajak belajar

IDN Times/Debbie Sutrisno
IDN Times/Debbie Sutrisno

Ketika hari pertama mengajar, Taufik tak menyangka bahwa anak-anak yang ingin belajar bersama membeludak. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 datang ke masjid secara bersama.

Ya, karena tak tahu harus mengajar di mana, Taufik memilih masjid untuk menjadi tempat belajar. Dia coba meyakinkan dewan kemakmuran masjid (DKM) setempat untuk menjadikan masjid di RW-nya bisa dipakai belajar bersama.

Karena tak menyangka anak yang belajar banyak, dia pun kemudian mengajak pemuda-pemudi Karang Taruna RW 15 agar mau ikut mengajar. Kegiatan belajar mengajar pun kemudian dilakukan secara ramai-ramai dengan belasan relawan yang ikut serta.

Sedikitnya siswa yang ikut belajar bisa mencapai 60. Karena banyak dan terdiri dari berbagai jenjang kelas, Taufik pun memisahkan mereka dibagi dalam lima kategori, yakni Paud, Taman Kanak-anak, dan sisanya untuk Sekolah Dasar di mana kelas 1 digabung dengan kelas 2. Kemudian kelas 3 dibangun dengan kelas 4, sisanya kelas 5 dengan kelas 6.

Demi memudahkan kegiatan belajar, setiap kategori diajar oleh dua relawan dari karang taruna. Mereka dibebaskan mengajar apa saja tak melulu tentang pelajaran yang sesuai dengan modul dari sekolah.

Bukan hanya bahasa Inggris, mereka pun diajak mengenal berbagai kesenian dengan belajar melukis, berkesenian, hingga mengenal berbagai macam tanaman yang ada di lingkungan tempat belajar.

2. Manfaatkan sejumlah alat tulis yang dimiliki setiap relawan

IDN Times/Debbie Sutrisno
IDN Times/Debbie Sutrisno

Menurut Taufik, upaya untuk menjaga minat anak-anak di kampungnya dengan belajar bersama ternyata tak mudah. Salah satunya karena peralatan untuk belajar sangat terbatas.  

Untuk menyediakan papan tulis, spidol, bolpoin, dan peralatan lain para relawan harus swadaya mengumpulkannya. Ada dari mereka yang punya papan tulis langsung di bawa ke masjid. Ketika ada yang punya uang lebih dan bisa membeli peralatan tulis mereka membelinya.

Hal tersebut dilakukan agar para relawan tidak meminta uang sepeserpun kepada para orang tua yang 'menitipkan' anaknya di tempat belajar ini. Karang Taruna enggan membebankan biaya karena niatan awal berdirinya tempat ini agar anak tetap bisa belajar di tengah kesulitan PJJ.

"Kami tahu kalau tak semua orang tua siswa memiliki penghasilan besar dan berkecukupan. Maka sekolah gratis menjadi jalan paling pas agar anak-anak tetap bersekolah di tengah pandemik COVID-19 ini," kata Taufik.

3. Kegiatan belajar sudah berlangsung selama tiga bulan

IDN Times/Debbie Sutrisno
IDN Times/Debbie Sutrisno

Proses belajar di kampung ini pun sudah berlangsung sejak pertengahan Mei. Artinya sudah lebih dari tiga bulan. Dalam dua bulan pertama, KBM dilakukan di masjid kampung. Namun, satu bulan ke belakang sekolah sudah dilakukan di salah satu rumah warga yang lahannya cukup luas.

Kegiatan ini pun bahkan sudah dipantau oleh aparat Desa dan Kecamatan. Mereka memastikan proses belajar di sini baik dan bisa meminimalisir dari penyebaran virus corona.

Taufik menuturkan, dia dan teman-temannya memang sulit untuk mengantisipasi agar anak bisa menggunakan masker setiap saat ketika belajar atau menjaga jarak seperti yang disampaikan pemerintah dalam protokol kesehatan COVID-19. Namun, karena kecamatan ini masuk dalam salah satu zona hijau di Kabupaten Bandung, Taufik berharap tidak ada siswa yang tertular virus ini.

"Ya kita was-was pasti ada. Cuman kita minimalisir dengan itu tadi mereka yang sekolah hanya warga sini saja," paparnya.

4. Orang tua bisa lebih tenang ketika anak belajar bersama

Belasan pemuda-pemudi karang taruna di di Kampung Cibiru Beet, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat membuka sekolah tatap muka secara gratis di tengah kesulitan akses ponsel pintar dan internet. IDN Times/Debbie Sutrisno
Belasan pemuda-pemudi karang taruna di di Kampung Cibiru Beet, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat membuka sekolah tatap muka secara gratis di tengah kesulitan akses ponsel pintar dan internet. IDN Times/Debbie Sutrisno

Reni, salah satu orang tua murid merasa senang dengan adanya tempat belajar ini. Sang anak yang baru berusia lima tahun semestinya masuk ke TK. Namun karena ada pandemik ini maka Reni tidak bisa menyekolahkan anaknya terlebih dulu.

Beruntung ketika sekolah yang digagas karang taruna ini ada, dia langsung membawa anaknya untuk belajar bersama temannya yang lain. Meski kurikulum belajar tidak sama dengan TK, tapi Reni sedikit tenang karena bisa menitipkan anaknya untuk belajar, sedangkan dia bekerja di ladang sampai sang hari.

"(Tempat belajar ini) Manfaatnya banyak yah. Mulai dari belajar terus, terus awalnya dia (anak Reni) malu-malu sekarang sudah bisa ngobrol dengan yang lain/ Positif sih sejauh ini," papar Reni.

Meski demikian, ketenangan Reni nyatanya belum utuh. Dia masih berharap sekolah termasuk TK untuk anaknya belajar bisa dibuka seperti biasa sebelum adanya pandemik COVID-19. Ketika sekolah dibuka maka para orang tua bisa bekerja seperti biasa untuk mencari nafkah, demi membuat daur tetap 'ngebul'.

5. Pemprov Jabar wacanakan pembukaan sekolah seluruh tingkatan

IDN Times/Khaerul Anwar
IDN Times/Khaerul Anwar

Harapan Reni dan banyak orang tua murid di Jawa Barat nampaknya bisa terwujud. Hal ini setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana membuka sekolah di kecamatan yang masuk dalam zona hijau di setiap kabupaten/kota. Pembukaan sekolah yang diharap jadi solusi sulitnya pelaksanaan PJJ dilakukan secara bertahap mulai dari tingkat SMA/SMK/SLB sederajat, kemudian ke SMP, SD, dan memungkinkan untuk TK atau Paud.

Berdasarkan data yang dihimpun Pemprov Jabar, setidaknya per 5 Agustus 2020, terdapat 228 kecamatan di Jabar berstatus zona hijau. Artinya sekolah tingkat SMA/SMK/SLB akan mulai dibuka untuk pembelajaran tatap muka.

Meski demikian, Dinas Pendidikan Jawa Barat telah membuat indikator-indikator pelaksanaan kegiatan belajar tatap muka. Pertama, sekolah harus berada di zona hijau. Kedua, kegiatan belajar tatap muka diutamakan bagi siswa yang bertempat tinggal di wilayah dengan jaringan internet tidak mumpuni ataupun blank spot.

Kemudian, khusus bagi SMK, kegiatan belajar tatap muka akan diisi dengan pelajaran yang sifatnya praktik. Karena untuk mendapatkan sertifikat keahlian harus ditempuh dengan praktik, dan praktik bisa ditempuh dengan tatap muka

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jabar Dedi Supandi mengatakan, nantinya tidak semua guru dapat terlibat dalam kegiatan belajar tatap muka. Guru yang berusia di bawah 45 dan tidak mengidap penyakit penyerta (comorbid) yang dapat mengajar selama pandemi COVID-19.

Sebelum kegiatan belajar tatap muka dimulai, guru yang memenuhi klasifikasi akan menjalani rapid test atau swab test. Tujuannya memastikan guru dalam kondisi sehat.

Tak hanya itu, sekolah harus membagi rombongan belajar atau sif karena maksimal 18 peserta didik per kelas. Pola pembelajaran akan menerapkan blended learning atau mengombinasikan kegiatan belajar tatap muka dengan daring.

6. Waspadai penularan COVID-19 di lingkungan sekolah

ilustrasi infeksi virus corona COVID-19 (IDN Times/Mardya Shakti)
ilustrasi infeksi virus corona COVID-19 (IDN Times/Mardya Shakti)

Terkait pembukaan sekolah di tengah pandemik COVID-19, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai rencana itu terlalu berisiko untuk anak-anak. KPAI mengusulkan agar sebaiknya tatap muka di sekolah dimulai pada awal 2021 mendatang.

Komisioner KPA Bidang Pendidikan Retno Listyarti menjelaskan, pihaknya khawatir anak-anak tertular COVID-19 ketika sekolah dibuka dalam waktu dekat. Apalagi saat ini Indonesia tidak punya rumah sakit rujukan COVID-19 khusus anak-anak.

"Bahkan sampai sekarang belum ada di Indonesia rumah sakit rujukan COVID-19 untuk anak-anak, pasiennya masih dicampur dengan orang dewasa, padahal mestinya tidak boleh, tapi mau tidak mau dicampur, jadi kalau sekolah dibuka kasus bisa naik," kata Retno dalam program Ngobrol Seru bersama IDN Times, Sabtu (6/6).

Menurutnya, perlu ada persiapan yang matang untuk kembali membuka sekolah agar anak-anak bisa terjaga dan tidak berpotensi tertular COVID-19. Mulai dari penyediaan fasilitas kebersihan, regulasi hingga edukasi kepada siswa, guru dan wali murid agar siap melepas anak-anaknya kembali berkegiatan di sekolah.

"Bagi kami terlalu berisiko untuk melepas anak-anak, di satu sisi kasus masih tinggi, infrastruktur Indonesia belum siap untuk melanjutkan sekolah. Kita bertarung nyawa untuk anak-anak kita," kata Retno.

Share Article
Curated For You

Efektif! 6 Tips Belajar Online Semasa Pandemi COVID-19

14 Agu 2020, 13:55 WIBLife
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
Debbie Sutrisno
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More