Penjualan Minuman Isotonik Moncer saat Ramadan, Naik hingga 15 Persen

Sukabumi, IDN Times - Bulan Ramadan menjadi momentum positif bagi industri minuman isotonik. Pocari Sweat, salah satu pemain utama di segmen ini, mencatat kenaikan permintaan yang signifikan selama bulan puasa.
HCD & Corporate Communication Director Otsuka, Sudarmadi Widodo, menyebut bahwa Pocari Sweat memiliki pola konsumsi musiman yang meningkat di Ramadan, terutama sebagai minuman pengganti cairan tubuh. Perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi ini mencatatkan kenaikan permintaan yang signifikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
"Kebetulan Pocari Sweat ini kan minuman season-nya di bulan puasa. Karena kami adalah minuman yang menggantikan cairan tubuh dan membantu mempertahankan hidrasi, maka kampanye kami fokus pada konsumsi Pocari Sweat saat sahur," kata Sudarmadi kepada awak media, Minggu (23/3/2025).
"Alhamdulillah, di sesi Ramadan ini selalu ada peningkatan dibanding bulan-bulan yang lain. Jadi kami sangat bersyukur bahwa kami kebagian berkah Ramadan," sambungnya.
1. Lonjakan permintaan kemasan 2 Liter

Sudarmadi menyatakan bahwa lonjakan permintaan paling terasa pada kemasan dua liter. Kemasan itu lebih banyak dibeli untuk konsumsi segmentasi keluarga.
"Permintaan mengalami lonjakan, terutama untuk kemasan dua liter. Biasanya ini untuk konsumsi keluarga. Jadi cukup lumayan permintaannya," jelasnya.
Peningkatan ini sejalan dengan tren konsumsi selama Ramadan, di mana masyarakat cenderung membeli dalam jumlah lebih besar untuk kebutuhan sahur dan berbuka.
2. Kenaikan penjualan 10 sampai 15 persen

Tren kenaikan permintaan Pocari Sweat selama Ramadan bukanlah hal baru. Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, perusahaan memperkirakan pertumbuhan penjualan selama Ramadan berada di kisaran 10-15 persen dibanding bulan biasa.
"Tren puasa selalu ada kenaikan. Dibanding bulan-bulan biasa, peningkatannya sekitar 10-15 persen," kata Sudarmadi.
Namun, untuk angka finalnya, perusahaan masih menunggu data penutupan bulan Maret. "Secara persentase belum kami hitung karena biasanya evaluasi dilakukan bulanan. Ini kan puasa baru berakhir 30 Maret, nanti saat penutupan bulan kami bisa melihat berapa peningkatan dibanding bulan-bulan biasanya," tambahnya.
3. Ikut terdampak efisiensi di daerah wisata

Di sisi lain, Sudarmadi mengakui bahwa ada sedikit perubahan pola konsumsi di daerah-daerah wisata. Biasanya, Pocari Sweat juga banyak digunakan dalam acara-acara meeting di hotel, tetapi kali ini terjadi penurunan karena skala acara lebih kecil dibanding biasanya.
"Yang kita rasakan di daerah-daerah wisata, yang biasanya digelar acara-acara meeting itu terjadi perubahan. Biasanya skala besar, sekarang jadi menurun," ungkapnya.
Namun, Sudarmadi mengatakan dampak ini masih dalam tahap penghitungan, mengingat kuartal pertama tahun ini baru saja berjalan.
"Secara penurunan dampaknya berapa, kita juga belum bisa hitung. Karena ini kan baru kuartal pertama. Tapi ada pengaruhnya, karena kita juga masuk di hotel-hotel. Kalau okupansinya berkurang, pasti dampaknya ada," jelasnya.
Menurutnya, daerah wisata seperti Jogja, Bali, dan Semarang yang biasanya ramai dengan turis mengalami sedikit perubahan dalam permintaan produk Pocari Sweat.
"Justru wisata seperti Jogja, Bali, Semarang, yang banyak destinasi wisata itu ada dampaknya," pungkasnya.


















