Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Libur Lebaran 2026, Okupansi Hotel di Jabar Tidak Naik Signifikan

Libur Lebaran 2026, Okupansi Hotel di Jabar Tidak Naik Signifikan
ilustrasi hotel (pexels.com/Digital Buggu)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Tingkat okupansi hotel di Jawa Barat selama libur Lebaran 2026 hanya naik sedikit, mayoritas masih di bawah 50 persen meski ada peningkatan di beberapa kota seperti Cirebon dan Pangandaran.
  • Ketua BPD PHRI Jabar menyebut kenaikan keterisian kamar tidak signifikan dibanding tahun sebelumnya, bahkan Bandung yang biasanya ramai wisatawan juga tidak menunjukkan lonjakan berarti.
  • Dodi Ahmad Sofiandi menjelaskan faktor penyebabnya antara lain efisiensi anggaran pemerintah, kondisi ekonomi global akibat perang, serta kebijakan kerja dari mana saja yang tak berdampak pada okupansi hotel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Tingkat okupansi atau keterisian kamar hotel di Jawa Barat belum mengalami peningkatan signifikan dalam momentum libur Lebaran 2026. Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat turut mengeluhkan kondisi tersebut.

Berdasarkan data Disparbud Provinsi Jabar, tingkat penghunian kamar hotel dari 17-25 Maret 2025 mayoritas masih di bawah 50 persen.

Seperti di Kota Bandung, dari 19 persen di awal meningkat hingga 52 persen saja. Cirebon dari 25 persen menjadi 70 persen, Bogor yang awalnya 18 persen menjadi 48 persen.

Di wilayah Sukabumi pada 17 Maret 2026 ada 22 persen keterisian kamar hotel di akhir masa libur lebaran 25 Maret 2026 menjadi 39 persen. Kabupaten Pangandaran dari 10 persen menjadi 62 persen, dan Karawang 68 persen naik 73 persen, wilayah Garut dari 33 persen naik 65 persen.

Ketua BPD PHRI Jabar, Dodi Ahmad Sofiandi mengatakan, peningkatan okupansi memang terjadi namun tidak signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini terjadi di beberapa daerah di Jawa Barat.

"Cirebon, Bogor, Bandung, Sukabumi. Nah, itu perwakilan-perwakilan di wilayah itu, (peningkatan) tidak jauh berbeda (dengan sebelumnya) yang lain-lain lebih sepi dari itu," ujar Dodi saat dikonfirmasi, Sabtu (28/3/2026).

1. Tidak mengalami peningkatan signifikan

ilustrasi hotel
ilustrasi hotel (pexels.com/Efrem Efre)

Berdasarkan data yang didapatkan PHRI Jabar, mayoritas hotel wilayah Jawa Barat memang belum mencatat adanya peningkatan keterisian kamar selama 17-25 Maret 2026. Termasuk pula hotel yang tersebar di wilayah Bandung, yang sebelumnya digadang-gadang akan mendapatkan banyak wisatawan ternyata tidak berdampak signifikan ke sektor perhotelan.

"Semuanya hampir sama tidak berbeda jauh, Bandung saja yang dianggap ramainya, kami lihat di tanggal 24, 25, 27 Maret 2026 itu kesannya turun lagi," ujarnya.

Disinggung mengenai faktor yang membuat sedikitnya wisatawan yang menginap, Dodi menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena berbagai macam penyebab, salah satunya belanja pemerintah saat ini yang tengah melakukan efisiensi.

"Saya tidak bisa ngomong kan dari dulu kan akibat efisiensi dari pemerintah. Kan semua sekarang daerah dipotong, efisiensi 40 persen. Kemudian (anggaran) semua kementerian dipotong. Nah, akibat dipotong itu ya akhirnya sekarang terjadi penurunan," kata dia.

2. Kondisi ekonomi juga ikut terdampak perang

ilustrasi hotel
ilustrasi hotel (unsplash.com/Vojtech Bruzek)

Di sisi lain, masyarakat kelas ekonomi menengah juga kini sudah banyak mengeluarkan uang tabungannya untuk berbelanja dan membeli keperluan primer. Dodi tidak merasa heran jika sektor perhotelan terdampak dari kondisi ekonomi saat ini.

Belum lagi, perang Amerika-Israel kepada Iran yang memberikan dampak negatif terhadap ekonomi global yang membuat semua masyarakat harus turut menahan uangnya.

"Perang Iran, Israel, Amerika kan harga bahan bakar menukik tajam. Nah itu pengaruhnya sekarang semua kegiatan di perhotelan juga sepi," katanya.

3. PHRI Jabar pasrah

ilustrasi hotel
ilustrasi hotel (pexels.com/Chait Goli)

Mengenai kebijakan pemerintah yang menerapkan kerja di mana saja atau WFA, Dodi mengatakan, hal ini juga tidak membuat okupansi hotel meningkat, sebab banyak di antara para pegawai pemerintahan justru tetap berdiam diri di rumah.

"Mereka kan sebenarnya kerja di hotel juga tidak diperbolehkan, pemerintah harus ada efisiensi karena dianggap hotel itu tidak efisien. Jadi kami menerima saja apa yang disampaikan oleh pemerintah, ya kami kan tidak bisa apa-apa," kata dia.

PHRI Jabar dipastikan tidak bisa berbuat banyak atau mengharapkan apapun dari pemerintah, karena kondisi ekonomi pun masih belum stabil.

"Cuma menerima kondisi seperti itu. itu ya mudah-mudahan aja bisa bertahan hidup," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More