Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rebana Meluas, Lumbung Pangan Pantura Perlahan Terkupas

Rebana Meluas, Lumbung Pangan Pantura Perlahan Terkupas
Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)
Intinya Sih
  • Wilayah Ciayumajakuning mengalami pergeseran ekonomi dari sektor pertanian menuju industri dan logistik, dengan kontribusi industri pengolahan mencapai 25,62 persen terhadap PDRB kawasan pada 2025.
  • Ekspansi kawasan industri Rebana memicu alih fungsi lahan pertanian di Cirebon dan Indramayu, menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan serta regenerasi petani muda di wilayah agraris.
  • Bank Indonesia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara industrialisasi dan perlindungan lahan pangan agar transformasi ekonomi Ciayumajakuning tetap inklusif dan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Cirebon, IDN Times - Transformasi ekonomi di kawasan Ciayumajakuning mulai mengubah wajah wilayah timur Jawa Barat dari basis pertanian menuju kawasan industri dan logistik. Di tengah pertumbuhan sektor manufaktur yang terus meningkat, tekanan terhadap lahan pangan dan desa agraris mulai muncul seiring ekspansi kawasan industri dan pembangunan infrastruktur.

Data perekonomian wilayah yang mencakup Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan menunjukkan industri pengolahan kini menjadi sektor dominan dengan kontribusi mencapai 25,62 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kawasan pada 2025.

Nilai PDRB Ciayumajakuning diperkirakan mencapai Rp250 triliun atau menyumbang sekitar 10 persen terhadap ekonomi Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi kawasan tercatat sebesar 5,09 persen secara tahunan, sementara investasi tumbuh 5,06 persen dibanding periode sebelumnya.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan perubahan struktur ekonomi tersebut menandai pergeseran kawasan dari ekonomi berbasis pertanian menuju industri dan jasa yang lebih terintegrasi.

“Transformasi ekonomi di Ciayumajakuning berjalan cukup cepat, terutama didorong pertumbuhan industri pengolahan, logistik, dan investasi baru di kawasan Rebana. Namun, perubahan itu juga perlu diantisipasi agar tidak mengurangi kapasitas ketahanan pangan daerah,” ujar Wihujeng dikutip pada Selasa (26/5/2026).

1. Tekanan terhadap lahan pertanian

ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

Pertumbuhan industri dan pengembangan kawasan ekonomi baru mulai memicu perubahan penggunaan lahan di sejumlah wilayah penyangga pangan. Di sekitar Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati, misalnya, kawasan pertanian mulai bergeser menjadi area industri, pergudangan, dan permukiman.

Fenomena serupa juga mulai terlihat di sebagian wilayah Kabupaten Cirebon dan Indramayu yang masuk koridor pengembangan Rebana Metropolitan. Kawasan tersebut saat ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan industri baru di Jawa Barat bagian timur.

Menurut Wihujeng, industrialisasi memang memberikan dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan perdagangan, serta arus investasi baru. Namun, ekspansi industri dinilai perlu diimbangi dengan perlindungan terhadap kawasan pangan produktif.

“Industrialisasi memang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru, tetapi keseimbangan harus dijaga. Ciayumajakuning memiliki posisi strategis sebagai kawasan industri sekaligus lumbung pangan di Jawa Barat,” katanya.

2. Regenerasi petani terancam

ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

Selain penyusutan lahan, perubahan struktur ekonomi dinilai mulai memengaruhi pola tenaga kerja di pedesaan. Perpindahan tenaga kerja muda dari sektor pertanian menuju industri diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Kondisi tersebut berpotensi mempercepat berkurangnya regenerasi petani di desa-desa agraris. Di sisi lain, Kabupaten Indramayu masih menjadi salah satu sentra produksi padi nasional yang menopang ketahanan pangan Jawa Barat maupun nasional.

Wihujeng menilai penguatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatan produktivitas pertanian menjadi langkah penting agar sektor pangan tetap kompetitif di tengah ekspansi industri.

Menurut dia, pembangunan kawasan ekonomi baru seharusnya diarahkan pada model pertumbuhan yang saling menopang antara industri, pertanian, perdagangan, dan logistik.

3. Menjaga keseimbangan ekonomi kawasan

ilustrasi industri nuklir di Pakistan (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi industri nuklir di Pakistan (pexels.com/Pixabay)

Pengembangan kawasan Rebana dan koridor industri Pantura diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi Ciayumajakuning dalam beberapa tahun ke depan. Dukungan infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan logistik, dan bandara dinilai memperkuat daya tarik investasi kawasan tersebut.

Namun, pengamat menilai tantangan terbesar ke depan adalah menjaga keseimbangan antara industrialisasi dan keberlanjutan sektor pangan. Jika alih fungsi lahan tidak dikendalikan, kawasan yang selama ini menjadi penyangga produksi pangan nasional berisiko kehilangan kapasitas agrarisnya.

Bank Indonesia menilai transformasi ekonomi perlu dijaga agar tetap inklusif dan tidak hanya terkonsentrasi di kawasan industri. Perlindungan lahan pangan serta penguatan ekonomi desa dinilai menjadi syarat penting agar pertumbuhan ekonomi baru tetap berkelanjutan.

“Transformasi ekonomi harus dijaga agar tetap inklusif. Industrialisasi perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan pangan dan penguatan ekonomi desa,” ujar Wihujeng.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More