Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Okupansi Cirebon Anjlok, Industri Hotel Teriak Butuh Event

Okupansi Cirebon Anjlok, Industri Hotel Teriak Butuh Event
ilustrasi hotel tua (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Tingkat okupansi hotel di Cirebon saat Lebaran 2026 turun ke kisaran 70–85 persen, jauh di bawah capaian tahun lalu yang mencapai hingga 100 persen.
  • Penurunan ini dipicu perubahan perilaku wisatawan yang lebih hemat dan memilih perjalanan singkat tanpa menginap, serta berkurangnya kegiatan dinas akibat kebijakan efisiensi.
  • Pelaku industri perhotelan mendorong pemerintah daerah rutin menggelar event besar agar mampu menarik wisatawan dan meningkatkan kembali tingkat hunian hotel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times -Okupansi hotel di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat selama periode Lebaran 2026 mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cirebon, Ida Kartika, menyebut tingkat hunian hotel tahun ini hanya berada di kisaran 70–85 persen, jauh dari target dan capaian tahun lalu yang mampu menyentuh 90 hingga 100 persen.

“Kalau tahun kemarin kita masih bisa mencapai okupansi 90 sampai 100 persen, tetapi tahun ini tidak bisa. Hanya pada hari tertentu saja yang mencapai 100 persen, selebihnya tidak,” ujar Ida, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, bahkan pada periode bulan puasa, tingkat okupansi hotel di Cirebon hanya berkisar 12 hingga 20 persen. Kondisi ini menunjukkan lemahnya permintaan jasa akomodasi di luar musim puncak Lebaran.

1. Pergeseran pola wisatawan

ilustrasi Hotel dekat Taman Nasional Baluran (unsplash.com/visualsofdana)
ilustrasi Hotel dekat Taman Nasional Baluran (unsplash.com/visualsofdana)

Menurut Ida, penurunan okupansi tidak hanya terjadi pada Lebaran, tetapi juga pada momentum libur lainnya seperti Tahun Baru. Ia menilai tidak ada peningkatan signifikan dalam kunjungan wisatawan yang berdampak pada keterisian kamar hotel.

Faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah perubahan perilaku wisatawan yang cenderung lebih hemat dalam pengeluaran. Masyarakat kini lebih memilih perjalanan singkat tanpa menginap atau melakukan perjalanan pulang-pergi (one day trip).

“Orang-orang lebih save money untuk liburan. Mereka tidak lagi menggunakan hotel, kadang hanya wisata pulang pergi saja,” kata Ida.

Ia juga menyoroti kedekatan jarak antara Cirebon dan kota besar seperti Jakarta yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Hal ini membuat wisatawan lebih memilih transit singkat dibandingkan menginap, kecuali jika terjadi kemacetan.

2. Tekanan ekonomi dan kebijakan efisiensi

Ilustrasi Hotel Capsule. (freepik.com/pikisuperstar)
Ilustrasi Hotel Capsule. (freepik.com/pikisuperstar)

Selain perubahan perilaku wisatawan, Ida menyebut kebijakan efisiensi di berbagai sektor turut berdampak pada penurunan okupansi hotel. Salah satu dampaknya adalah berkurangnya kegiatan perjalanan dinas, rapat, dan agenda pemerintahan yang biasanya menjadi penopang okupansi.

“Sekarang kegiatan-kegiatan seperti perjalanan dinas dan rapat di hotel juga berkurang. Ini sangat berpengaruh terhadap tingkat hunian,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat industri perhotelan di Cirebon menghadapi tekanan berlapis, baik dari sisi permintaan wisata maupun kegiatan korporasi. Di sisi lain, pelaku usaha belum melihat adanya lonjakan okupansi yang signifikan dari event musiman maupun libur panjang.

3. Dorongan gelar event daerah

ilustrasI Hotel (unsplash.com/Sasha Kaunas)
ilustrasI Hotel (unsplash.com/Sasha Kaunas)

Menghadapi kondisi tersebut, pelaku usaha hotel dan restoran di Kabupaten Cirebon berharap pemerintah daerah lebih aktif menggelar berbagai event berskala besar. Menurut Ida, penyelenggaraan event dapat menjadi magnet utama untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Kami harapkan pemerintah daerah supaya lebih sering mengadakan event-event besar yang bisa mengundang wisatawan datang ke Kabupaten Cirebon,” ujarnya.

Ia menambahkan, event yang terjadwal dan berkelanjutan dapat membantu meningkatkan okupansi hotel secara signifikan, sekaligus menggerakkan sektor ekonomi lainnya seperti kuliner dan transportasi.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More