Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi petani sedang menyiram air pada lahan pertanian. IDN Times/Daruwaskita
  • NTP Jawa Barat pada Oktober 2026 naik 1,14 persen menjadi 121,91, karena kenaikan harga yang diterima petani melampaui kenaikan harga yang dibayar.

  • Hortikultura menjadi pendorong utama dengan NTP naik 5,22 persen, meski biaya produksi meningkat akibat harga pakan ikan, dedak, pupuk urea, dan bibit sapi.

  • Jawa Barat mencatat surplus perdagangan USD22,09 miliar pada Januari–September 2026, dari ekspor USD31,22 miliar dan impor USD9,13 miliar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Januari–September 2026

Nilai ekspor Jawa Barat mencapai USD 31,22 miliar, sementara impor tercatat USD 9,13 miliar. Neraca perdagangan kumulatif membukukan surplus USD 22,09 miliar.

Oktober 2026

NTP Jawa Barat naik 1,14 persen menjadi 121,91 dan NTUP menguat 1,14 persen menjadi 126,56. Subsektor hortikultura mencatat kenaikan NTP tertinggi sebesar 5,22 persen, sementara biaya produksi dan penambahan barang modal naik 0,19 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nilai Tukar Petani Jawa Barat pada Oktober 2026 naik 1,14 persen menjadi 121,91. Nilai Tukar Usaha Petani juga meningkat 1,14 persen menjadi 126,56.
  • Who?
    Badan Pusat Statistik Jawa Barat dan Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan data tersebut; petani hortikultura menjadi kelompok yang mencatat penguatan tertinggi.
  • Where?
    Perkembangan nilai tukar dan biaya produksi tercatat di Jawa Barat.
  • When?
    Kenaikan NTP terjadi pada Oktober 2026 dibandingkan September 2026. Data tersebut disampaikan Margaretha pada 3 November 2026.
  • Why?
    Penguatan NTP didorong kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani sebesar 1,34 persen, melampaui kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani sebesar 0,20 persen, terutama dari hortikultura.
  • How?
    NTP hortikultura naik 5,22 persen. Namun biaya produksi dan penambahan barang modal meningkat 0,19 persen akibat kenaikan harga pakan ikan, dedak ternak, pupuk urea, dan bibit sapi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jawa Barat, nilai tukar petani naik 1,14 persen pada Oktober 2026. Harga hasil kebun, terutama sayur dan buah, naik lebih cepat daripada barang yang dibeli petani. Tapi pakan, pupuk, dan bibit juga makin mahal. Sekarang petani masih menghadapi biaya kerja yang naik. Jawa Barat juga menjual lebih banyak barang ke luar negeri daripada membeli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penguatan Nilai Tukar Petani Jawa Barat pada Oktober 2026 mencerminkan kenaikan harga yang diterima petani melampaui peningkatan harga yang mereka bayarkan, dengan hortikultura sebagai penggerak utama melalui kenaikan 5,22 persen. Di tengah tekanan biaya produksi, kenaikan NTUP turut menunjukkan perbaikan daya tukar usaha petani, sementara surplus perdagangan daerah menggambarkan kinerja eksternal yang tetap kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat mengalami kenaikan pada Oktober 2026. Meski menjadi indikasi membaiknya daya tukar petani, kenaikan biaya produksi masih menjadi tantangan bagi pelaku sektor pertanian di daerah.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat NTP Oktober 2026 mencapai 121,91 atau meningkat 1,14 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) yang menguat 1,14 persen menjadi 126,56.

Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan penguatan NTP tersebut didorong kenaikan harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga yang harus mereka bayarkan.

"Penguatan ini didorong oleh kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,34 persen yang melampaui kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,20 persen," ujar Margaretha, dikutip Selasa (3/11/2026).

1. Subsektor hortikultura mencatat kenaikan tertinggi

ilustrasi petani (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

BPS mencatat subsektor hortikultura menjadi pendorong utama kenaikan NTP Jawa Barat pada Oktober 2026. Margaretha menyampaikan, NTP subsektor tersebut meningkat 5,22 persen, dan menunjukkan harga yang diterima petani hortikultura mengalami penguatan dibandingkan harga barang dan jasa yang mereka keluarkan.

"Namun, kenaikan NTP secara keseluruhan belum menghilangkan tekanan biaya produksi yang dihadapi petani," katanya.

2. Harga pakan dan pupuk ikut menekan petani

Ilustrasi petani bawang merah.IDN Times/ Muchammad Haikal

BPS mencatat biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,19 persen pada Oktober 2026. Kenaikan tersebut dipicu mahalnya sejumlah kebutuhan produksi, seperti pakan ikan, dedak ternak, pupuk urea, dan bibit sapi.

"Kondisi ini menjadi tantangan bagi petani dan pelaku usaha pertanian karena kenaikan biaya operasional dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh dari hasil produksi," kata Margaretha.

3. Perdagangan luar negeri Jabar surplus

ilustrasi perdagangan internasional (pexels.com/freestocks.org)

Lebih lanjut, Margaretha mengatakan, Kinerja ekspor-impor Jawa Barat hingga triwulan ketiga 2026 tetap kuat. Total nilai ekspor Januari–September 2026 mencapai USD 31,22 miliar yang didominasi sektor industri pengolahan atau 98,58 persen.

Sebaliknya, dia menyampaikan, nilai impor pada periode yang sama tercatat sebesar USD9,13 miliar yang didominasi bahan baku/penolong sebesar 80,39 persen.

"Dengan demikian neraca perdagangan Jawa Barat secara kumulatif membukukan surplus sebesar USD 22,09 miliar. Kita surplus terbesar dengan negara seperti Amerika Serikat, Vietnam, dan Filipina," kata Margaretha.

Curated For You

Editorial Team

Related Article