Embung Airi 25 Ha Sawah Petani di Blora. (Dok. Kementan)
Sementara itu, BMKG memprediksi fenomena El Nino akan berdampak cukup signifikan terhadap cuaca pada semester II 2026. Fenomena El Nino juga menjadi faktor pemicu utama terjadinya lonjakan suhu panas.
Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Siswanto mengatakan, peluang terjadinya penguatan dampak El Nino diprediksi terjadi pada periode Juni hingga November 2026.
“Berdasarkan rilis data, terdapat peluang bahwa potensi terjadinya El Nino kuat itu sampai 51 persen terjadi mulai Juni hingga November. Kemungkinan setelah November nanti El Nino akan mengalami peluruhan. Jadi tidak nyeberang tahun sebagaimana tahun 2015 atau 1997,” kata Siswanto.
Fenomena El Nino yang terjadi tahun ini memang diprediksi tidak setinggi pada 1997 atau 2015. Kendati demikian, masyarakat tetap harus waspada, mengingat musim kemarau tahun ini diprediksi lebih lama dari sebelumnya.
“Analisis BMKG terbaru, tahun ini kemungkinannya ketika El Nino menguat di semester kedua, itu akan lebih kering daripada tahun 2023" kata dia
Kondisi tersebut, jelas dia, dikhawatirkan akan berdampak terhadap sektor pertanian, lantaran persediaan air juga akan menipis.
"Yang dikhawatirkan adalah ketika musim kemarau yang kering itu nanti men-generate keringnya waduk-waduk juga, yang itu menjadi sistem penopang utama dari irigasi,” tutur Siswanto.
“Tentu ini akan memiliki potensi terjadi gagal panen ataupun juga puso, artinya mati sebelum tumbuh dan panen," lanjut dia.
Terkait prediksi itu, Siswanto menyebut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Memanen hujan, jelas dia, salah satu yang bisa dilakukan masyarakat, khususnya kalangan petani.
“Rekomendasi kami di masa-masa sekarang, mumpung masih ada hujan, itu adalah gerakan memanen air hujan. Dulu di sawah itu selalu ada kolam air yang namanya blumbang atau embung. Itu sebenarnya efektif sehingga sawah ada bagian untuk menyimpan air,” kata dia.
Di luar itu, Siswanto juga merekomendasikan agar petani memilih jenis tanaman. Dengan demikian, dampak El Nino tidak akan terlalu besar saat masa panen nanti.
“Para petani bisa memilih varietas atau jenis benih yang genjah, yang durasi panennya itu pendek dan lebih irit air," papar Siswanto.