Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dedi Mulyadi Sebut Tren Begal Menurun, Pelaku Banyak dari Lampung

Kota Bandung
Dedi Mulyadi Sebut Tren Begal Menurun, Pelaku Banyak dari Lampung
Ilustrasi Begal. IDN Times/ Bramanta Pamungkas
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut tren begal dan kejahatan jalanan di Jabar menurun, berdasarkan koordinasinya dengan Kapolda Jabar Irjen Pipit Rismanto.
  • Dedi menyatakan banyak tersangka begal yang ditangkap merupakan bagian jaringan dari luar Jawa Barat, dengan mayoritas disebut berasal dari Lampung.
  • Dedi menawarkan hadiah Rp5-50 juta bagi warga yang melumpuhkan pelaku kejahatan dan menyerahkannya hidup-hidup ke polisi, namun pemerintah pusat memperingatkan risiko main hakim sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mendapatkan beberapa fakta dari pihak kepolisian mengenai pelaku begal yang ditangkap di beberapa wilayah Jabar, ternyata mayoritas merupakan bukan penduduk asli. Mereka disebut kebanyakan berasal dari Lampung.

Dedi mengungkapkan, pelaku ini merupakan jaringan tidak dilakukan hanya oleh satu orang saja, dan berdasarkan keterangan yang didapatkannya para tersangka ini bukan merupakan warga Jabar.

"Jaringan begal itu kan kebanyakan, mohon maaf ya menyebut daerah, itu kan Lampung ya yang tertangkap. Artinya bahwa kejahatan itu tidak melulu dilakukan oleh warga Jabar, tapi banyak orang luar warga Jabar merupakan jaringan dari sebuah kejahatan yang beroperasi di Jabar," kata Dedi di TPPAS Legok Nangka, Kabupaten Bandung, pada Rabu (29/7/2026).

1. Tren kasus begal di Jabar mulai menurun

Ilustrasi begal. (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi begal. (IDN Times/Mardya Shakti)

Lebih lanjut, Dedi mengatakan, saat ini tren kasus begal yang terjadi di Jabar sudah terus menurun. Hal tersebut dipastikan usai dirinya berkoordinasi dengan Kapolda Jabar, Irjen Pipit Rismanto.

"Dari sisi grafik, saya tanya ke Pak Kapolda tadi, grafik pembegalannya, kejahatannya sudah makin turun," ungkap dia.

Sebelumnya, Dedi membuat sayembara khususnya kepada warganya yang berhasil menangkap begal dan kejahatan jalanan lainnya kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian akan mendapatkan hadiah Rp5 juta hingga Rp50 juta.

"Saya memberikan sayembara pada seluruh warga Jabar. Yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, rampok kami siapkan hadiah dari Rp5 sampai Rp50 juta yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup," ujar Dedi, Kamis (23/7/2026).

2. Dedi Mulyadi gelar sayembara tangkap begal

Ilustrasi Begal. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Begal. (IDN Times/Aditya Pratama)

Politisi Partai Gerindra itu mengatakan, kebijakan tersebut bagian dari upaya memperkuat keamanan di Jawa Barat di tengah meningkatkannya aksi kejahatan jalanan. Menurutnya, pemberantasan kejahatan jalanan tidak hanya mengandalkan aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

Kemudian, Dedi mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus berkoordinasi dengan kepolisian untuk mencegah aksi kejahatan.

"Siaga menghadapi begal. Kita terus berkoordinasi dengan jajaran kepolisian khususnya Polda Jabar dan kita juga akan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk siaga menghadapi berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," katanya.

3. Pemerintah pusat kritik langkah Dedi Mulyadi

Ilustrasi begal (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi begal (IDN Times/Mardya Shakti)

Kendati begitu, langkah Dedi ini menjadi menjadi pro dan kontra di masyarakat. Banyak di antaranya memandang hal tersebut positif. Namun, ada juga yang menganggap hal tersebut berbahaya karena bisa membuat orang main hakim sendiri.

Pemerintah pusat justru meminta hal tersebut disetop. Seperti Menteri Koordinator bidang Hukum, HAM dan Imipas Yusril Ihza Mahendra berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Demul) tak menggelar sayembara menangkap begal.

Menurutnya hal itu bisa mendorong orang untuk main hakim sendiri. Dia juga menyinggung kondisi perekonomian yang tengah sulit saat ini. Dengan iming-iming hadiah sayembara Rp5 juta atau Rp10 juta, orang akan berbondong-bondong menyiapkan diri.

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai turut meminta sayembara tangkap begal dengan hadiah jutaan rupiah ini tidak menjadi hal yang serius, dan hanya jadi lelucon belaka.

"Kalau serius ya tidak boleh. Tapi kalau guyonan nggak papa. Guyonan aja. Tapi kalau serius tidak boleh, itu bahaya. Saya berharap itu guyonan, tapi serius diusahakan tidak boleh," kata Pigai di Hotel Papandayan, Kota Bandung, pada Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, warga sipil di Jabar tidak terlatih untuk menangkap pelaku begal dan aksi kejahatan jalanan lainnya. Sehingga, dia khawatir malah mengakibatkan pertumpahan darah.

"Anda membayar untuk menangkap orang. Kalau nangkap begini, orang yang menangkap terlatih gak? Kalau sipil yang tidak terlatih mukul dong, ya? Berdarah-darah. Apa perbolehkan kita bayar orang untuk memukul orang lain di lapangan?" ucap dia.

"Tidak etis. Tapi dugaan saya beliau guyonan, tidak serius. Ya. Semoga guyonan dan tidak serius," ujar dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More