Setelah 24 Tahun Direncanakan, TPPAS Legok Nangka Akhirnya Dibangun

- Pembangunan TPPAS Legok Nangka di Kabupaten Bandung resmi dimulai pada 2026, setelah direncanakan Pemprov Jawa Barat sejak 2002.
- Proyek patungan swasta dan perusahaan Jepang ini ditargetkan beroperasi komersial pada 2029, menyerap 1.500 pekerja, serta menghasilkan listrik sekitar 40 megawatt dari sampah Bandung Raya.
- Fasilitas akan memakai incinerator bersuhu di atas 800 derajat Celsius; transmisi listrik dibangun paralel menuju gardu terdekat bersama PLN, sementara harga jual listrik telah disepakati.
Bandung, IDN Times - Pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung, telah resmi dimulai. Proyek yang sudah direncanakan oleh Pemerintah Provinsi Jabar sejak 2002 itu baru bisa terealisasi secara penuh di 2026.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, TPPAS Legok Nangka ini merupakan joint venture antara perusahaan swasta dengan perusahaan asal Jepang yang akan mengolah tumpukan sampah di wilayah Bandung Raya itu akan diubah menjadi energi bersih dalam bentuk baru terbarukan.
"Untuk kegiatan ini, total tenaga kerja yang akan terserap nanti ada 1.500 tenaga kerja dan akan menghasilkan listrik sekitar 40 Megawatt. Ini akan memperkuat ketersediaan energi di Provinsi Jawa Barat," ujar Yuliot setelah groundbreaking, Rabu (29/7/2026).
1. Tahun 2029 ditargetkan bisa beroperasi penuh

Selain itu, proyek ini juga dipastikan akan menyerap banyak tenaga kerja lokal dan akan dikawal penuh oleh Pemerintah Provinsi Jabar serta lembaga terkait lainnya. Yuliot berharap agar proyek ini nantinya bisa segera rampung dan beroperasi penuh.
"Harapannya sesuai dengan target pembangunan pada 2029 ini sudah akan bisa dilakukan COD (Commercial Operation Date). Dan juga menindaklanjuti apa yang diinstruksikan oleh Presiden, jadi ini ada beberapa fasilitas pengolahan sampah terpadu seperti ini yang dilakukan," kata dia.
Mengenai teknologi yang diterapkan dalam TPPAS Legok Nangka ini, Yuliot mengatakan, pihak ketiga akan melakukan pengolahan dengan teknologi incinerator yang dipakai untuk suhu pengolahan sampah itu sekitar di atas 800 derajat Celcius.
"Jadi dari seluruh bahan material yang masuk dalam fasilitas itu akan terolah dan terbakar dengan sempurna. Yang tadinya kalau ini pengolahan sampah sesuai dengan menggunakan pembakaran biasa ini ada potensi timbulnya dioksin," katanya.
2. Menggunakan teknologi incinerator

Penggunaan teknologi incinerator untuk pengolahan sampah ini sudah banyak digunakan di beberapa negara lainnya, dan Yuliot menilai hal tersebut aman digunakan dan tidak membuat adanya pencemaran yang berat.
"Dengan adanya pengolahan incinerator ini, di beberapa negara ini juga relatif aman, jadi tidak ada dampak terhadap lingkungan dan juga tidak ada dampak terhadap kesehatan masyarakat," ucapnya.
Adapun mengenai transmisi listrik, Yuliot memastikan, akan dibangun di area TPPAS Legok Nangka dan berkoordinasi dengan PT PLN sebagai pihak yang membeli hasil energi terbarukan yang dihasilkan dari mengolah sampah.
"Yang untuk jaringan transmisi, tadi juga sudah dijelaskan, dengan adanya TPPAS ini ya kita akan membangun transmisi ke gardu yang terdekat. Radi juga sudah disampaikan oleh PT PLN," katanya.
"Jadi saya rasa ini untuk pembangunan transmisi itu bisa kami lakukan secara paralel, sehingga pada saat beroperasinya TPPAS ini, listrik yang dihasilkan bisa ditransmisikan untuk kebutuhan masyarakat," kata Yuliot.
3. Dedi Mulyadi pastikan tidak ada preman ganggu proyek tersebut

Sementara, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi turut menyampaikan bahwa keberhasilan pembangunan TPPAS Legok Nangka ini merupakan kinerja-kinerja gubernur sebelumnya dan telah melalui proses panjang hingga akhirnya kini bisa dimulai untuk pembangunan infrastruktur.
"Provinsi kan sejak kepemimpinan Pak Ahmad Heryawan, kemudian Pak Bey Machmudin sampai hari ini berhasil mewujudkan seluruh ide gagasan itu dalam langkah yang lebih nyata. Yaitu ada investasinya, kemudian ada investornya, dan ada pelaksanaan kegiatannya setelah seluruh regulasi terpenuhi berdasarkan rekomendasi dari Kementerian ESDM," kata dia.
Dedi pun memastikan untuk urusan harga jual listrik kepada PLN sudah disepakati, dan itu diyakinya akan menjadi salah satu alat picu untuk membangun sebuah sistem pengolahan sampah yang modern.
Sementara itu, mengenai premanisme saat proses pengerjaan infrastruktur, Dedi memastikan hal tersebut akan ditindak. Dia menjamin tidak akan ada premanisme di proyek TPPAS Legok Nangka.
"Udah lah, preman apa, kami beresin. Gampang itu," ucapnya.

















