Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemkot Bandung Siapkan Armada Khusus Angkus Sampah ke Legok Nangka

Kab. Garut
Pemkot Bandung Siapkan Armada Khusus Angkus Sampah ke Legok Nangka
Sampah di TPS Cijambe Menumpuk, DLH Lakukan Pembersihan. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Pemkot Bandung menyiapkan armada khusus dan lahan pemilahan untuk mengirim sekitar 800 ton sampah per hari ke TPPAS Legok Nangka.
  • Armada wajib mampu melintasi medan menanjak dan menurun menuju Legok Nangka, yang ditargetkan memulai operasi komersial pada 2029.
  • Saat Legok Nangka beroperasi, TPPAS Sarimukti akan difokuskan mengolah sampah organik, sementara skema biaya pengolahan tetap mengacu kontrak 2018.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan kesiapan mendukung operasional Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2029. Dukungan itu diwujudkan melalui pengadaan armada khusus pengangkut sampah hingga penyediaan lahan pemilahan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, seluruh komitmen tersebut telah disepakati bersama sebagai bagian dari persiapan pengiriman sampah Kota Bandung ke TPPAS Legok Nangka. Nantinya, sampah tidak lagi dikirim langsung, melainkan harus melalui proses pemilahan terlebih dahulu.

"Pokoknya Kota Bandung komitmen. Kita sudah komitmen untuk pengadaan mobil transportasi khusus. Kita juga sudah menyiapkan lahan untuk pemilahan. Karena sampah dari Kota Bandung itu mesti dipilah dulu baru kemudian bisa dibawa ke Legok Nangka dengan mobil khusus," kata Farhan, Rabu (29/7/2026).

1. Bakal angkut 800 ton sampah per hari

WhatsApp Image 2026-05-07 at 14.18.11 (1).jpeg
Pemkot Bandung Kaji Teknologi Alternatif Pengolahan Sampah Autothermix, dok. Diskominfo Bandung

Farhan mengatakan, Kota Bandung akan mengirimkan sekitar 800 ton sampah per hari ke TPPAS Legok Nangka. Untuk itu, kendaraan pengangkut yang digunakan tidak bisa disamakan dengan armada yang selama ini beroperasi menuju TPPAS Sarimukti.

Menurutnya, armada harus memiliki spesifikasi khusus karena medan menuju Legok Nangka cukup berat dengan kontur jalan menanjak dan menurun.

"Kendaraannya beda. Jadi, satu, kendaraannya mesti yang memang kuat nanjak dan punya rem yang kuat. Karena naik nanjak, balik mudun, muter balik, nanjak deui," ujarnya.

TPPAS Legok Nangka nantinya menjadi fasilitas pengolahan sampah regional yang melayani enam daerah di Bandung Raya dengan kapasitas sekitar 1.853 hingga 2.131 ton sampah per hari melalui teknologi waste to energy.

2. Legok Nangka ditargetkan beroperasi komersial pada 2029

IMG-20260323-WA0016.jpg
Pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti. dok Pemkot BandungPengangkutan sampah ke TPA Sarimukti. dok Pemkot Bandung

Farhan mengaku mendapat informasi dari pihak pemerintah Jepang yang terlibat dalam proyek tersebut bahwa operasional komersial Legok Nangka ditargetkan dimulai pada 2029. Sebelum fasilitas itu beroperasi penuh, Pemkot Bandung akan mempersiapkan seluruh kebutuhan pendukung, mulai dari sistem pemilahan hingga armada pengangkut.

"Operasional komersial 2029. Tadi janji dari Pemerintah Jepangnya," katanya.

Saat ini proyek Legok Nangka masih berada dalam tahap persiapan pembangunan setelah berbagai tahapan regulasi, termasuk perjanjian jual beli listrik dan kerja sama investasi, mulai diselesaikan.

3. Sarimukti akan difokuskan untuk pengolahan sampah organik

IMG-20260323-WA0017.jpg
Pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti. dok Pemkot Bandung

Farhan menjelaskan, ketika Legok Nangka mulai beroperasi, TPPAS Sarimukti tidak akan ditinggalkan sepenuhnya. Menurut dia, Sarimukti akan diarahkan menjadi lokasi pengolahan sampah organik.

Ia bahkan mendorong pemanfaatan teknologi gasifikasi metana dari tumpukan sampah organik agar menghasilkan nilai tambah bagi pengelolaan sampah di Bandung Raya.

"Sarimukti akan dijadikan tempat pengolahan organik. Setelah dipilah, organik akan dibawa ke Sarimukti untuk diolah. Salah satu teknologi yang saya dorong adalah gasifikasi metan dari tumpukan sampah organik tersebut," ujar Farhan.

Sementara itu, terkait biaya pengolahan atau tipping fee, Farhan memastikan tidak ada perubahan skema. Menurutnya, besaran biaya tetap mengacu pada kontrak kerja sama yang telah ditandatangani sejak 2018 dan hanya akan mengikuti mekanisme penyesuaian yang telah disepakati.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More