WamenUMKM Gandeng Kampus di Bandung Naikkan Kelas Pelaku Usaha

- Kementerian UMKM menjalankan program Kumitra untuk menghubungkan pemerintah, kampus, lembaga keuangan, dan dunia usaha demi meningkatkan kapasitas UMKM melalui kolaborasi serta pemanfaatan teknologi.
- Universitas Sangga Buana dan Yayasan Sangga Buana digandeng untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan, mencetak wirausaha muda, serta menerapkan riset dan inovasi kampus bagi UMKM.
- Kumitra menyediakan pendampingan, akses pembiayaan dan pasar; pada 2026 ditargetkan memfasilitasi 2.000 usaha mikro, membangun 500 kemitraan senilai Rp500 miliar, serta menciptakan 6.000 lapangan kerja.
Bandung, IDN Times - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong pelaku usaha naik kelas. Salah satunya melalui program Kumitra, yang menghubungkan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, hingga dunia usaha dalam mendukung pengembangan UMKM.
Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza mengatakan, program tersebut merupakan arahan langsung Presiden agar kementerian dan lembaga tidak bekerja sendiri dalam membangun ekosistem kewirausahaan nasional. Kolaborasi dinilai menjadi kunci agar UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.
"Dalam mewujudkan program yang sudah ditetapkan oleh Bapak Presiden, kita memang harus berupaya dan berusaha sekuat tenaga untuk menghimpun banyak pihak agar berkolaborasi," kata Helvi di Bandung, Rabu (29/7/2026).
1. Kumitra dorong UMKM naik kelas lewat dukungan teknologi

Helvi menjelaskan, Kumitra dirancang sebagai salah satu strategi Kementerian UMKM untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Menurutnya, proses menaikkan kelas UMKM akan sulit dilakukan jika tidak didukung pemanfaatan teknologi.
Karena itu, perguruan tinggi dilibatkan sebagai mitra utama mengingat kampus merupakan pusat riset, inovasi, dan pengembangan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha.
"Salah satu program kami yaitu Kumitra. Kumitra ini juga merupakan wujud dari upaya lain, terutama bagaimana menaikkelaskan UMKM yang menurut hemat kami akan sulit dilakukan tanpa dukungan teknologi," ujarnya.
Ia mengatakan, hasil penelitian, inovasi, hingga pengembangan produk yang dimiliki perguruan tinggi diharapkan dapat diterapkan secara langsung untuk meningkatkan daya saing UMKM.
2. Kampus didorong menjadi inkubator lahirnya wirausaha baru

Dalam pelaksanaan Kumitra, Kementerian UMKM menggandeng Yayasan Sangga Buana beserta Universitas Sangga Buana sebagai mitra. Kerja sama tersebut bertujuan memperkuat ekosistem kewirausahaan, khususnya dalam mencetak wirausaha muda dan mendampingi UMKM agar berkembang.
Helvi menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis, tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan pelaku usaha baru yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
"Wirausaha muda harus dimunculkan, sementara mereka yang sudah berwirausaha harus dinaikkan kelasnya. Kemudian kita berikan berbagai fasilitas," katanya.
Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah dan kampus menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan jumlah wirausaha nasional sekaligus memperkuat kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia.
3. Kementerian siapkan akses pembiayaan hingga pasar bagi UMKM

Selain pendampingan, Kementerian UMKM juga menyiapkan dua fasilitas utama bagi pelaku usaha, yakni akses pembiayaan dan akses pasar. Untuk pembiayaan, kementerian menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta sejumlah bank swasta nasional.
Sementara untuk memperluas pasar, pemerintah melibatkan pengusaha besar, jaringan pemasaran di dalam maupun luar negeri, serta memanfaatkan peran SMESCO Indonesia sebagai Badan Layanan Umum (BLU) Kementerian UMKM.
"Untuk fasilitas pembiayaan, ada dukungan dari Himbara dan bank-bank swasta nasional. Sementara dari sisi pasar, kami merancang kebijakan dengan melibatkan para pengusaha nasional besar maupun pihak-pihak pemasaran dari dalam dan luar negeri," tutur Helvi.
Ia berharap kolaborasi melalui Kumitra dapat memperkuat posisi UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Saat ini, sektor UMKM disebut telah berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap perekonomian Indonesia dan diharapkan terus meningkat melalui penguatan ekosistem kewirausahaan.
Berdasarkan data yang dipaparkan Kementerian UMKM, Indonesia memiliki sekitar 56 juta unit UMKM mengacu pada data BPS-Sakernas 2024. Dari jumlah tersebut, Jawa Barat memiliki 5.429.638 unit usaha atau sekitar 9 persen dari total UMKM nasional.
Besarnya jumlah pelaku UMKM di Jawa Barat dinilai menjadi potensi yang perlu terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas usaha dan perluasan jejaring kemitraan.
Melalui program Kumitra, Kementerian UMKM menargetkan 2.000 usaha mikro terfasilitasi pada 2026. Program ini juga diproyeksikan menghasilkan 500 kemitraan dengan nilai transaksi mencapai Rp500 miliar, serta menciptakan sekitar 6.000 lapangan kerja.
Pendampingan dilakukan sejak tahap pra-bisnis melalui penyusunan profil pelaku usaha, pemetaan kebutuhan pembeli (buyer), business matching secara daring maupun luring, hingga penyusunan estimasi transaksi


















