Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Waspada! BMKG Prediksi Wilayah Jabar Mengalami Kemarau Panjang di 2026

Waspada! BMKG Prediksi Wilayah Jabar Mengalami Kemarau Panjang di 2026
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang. Cover Grafis IDN Times
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Barat akan berlangsung lebih panjang dari biasanya, dengan sebagian wilayah sudah mulai kering sejak Maret dan April.
  • Sebanyak 66 persen wilayah Jabar diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat dari normal, sementara puncaknya terjadi pada Agustus di sekitar 90 persen wilayah.
  • BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk hemat air, menyesuaikan kalender tanam, serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Musim kemarau di wilayah Jawa Barat sudah terasa di beberapa daerah selama bulan April 2026. Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat musim kemarau di Jabar berpotensi lebih panjang.

Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat Vivi Indhira mengatakan, musim kemarau sudah berlangsung sejak Maret untuk sebagian wilayah seperti Kota Bekasi dan Kabupaten Karawang bagian Utara.

Sementara, sebagiannya lagi sudah memasuki kemarau pada bulan April di Karawang tengah, Subang tengah dan sebagian Indramayu.

"Sebanyak 56 persen wilayah di Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau pada bulan Mei," kata Vivi saat sesi konferensi pers, Selasa (14/4/2026).

1. Sabagian wilayah di Jabar sudah masuk musim kemarau

ilustrasi kemarau (pexels.com/Feyza Daştan)
ilustrasi kemarau (pexels.com/Feyza Daştan)

Adapun sebagian wilayah yang akan memasuki kemarau pada bulan Juni yaitu sebagian besar Kabupaten Bogor, Sukabumi Utara, Cianjur tengah, Bandung Barat bagian timur, Kota Bandung, Bandung bagian barat, Garut tenggara, Tasikmalaya bagian selatan dan Pangandaran bagian Barat.

Sementara, dua persen wilayah yang termasuk dalam kategori zona tipe 1 musim yaitu berada di wilayah Kota Bogor, Bogor bagian tengah, dan sebagian kecil Sukabumi bagian utara.

"Jika dibandingkan dengan kondisi normalnya, maka sebagian besar wilayah Jawa Barat, yaitu sebanyak 66 persen diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih cepat atau maju dibandingkan dengan normalnya," kata dia.

2. Bulan September masih ada beberapa daerah yang menghadpi musim kemarau

Ilustrasi hujan deras di musim kemarau. (Pexels.com/BLACK IBEX)
Ilustrasi hujan deras di musim kemarau. (Pexels.com/BLACK IBEX)

Sedangkan 25 persen wilayah diprediksi akan memasuki musim kemarau sama dengan normalnya, dan tujuh persen wilayah diprediksi akan memasuki musim kemarau mundur atau lebih lambat jika dibandingkan dengan kondisi normalnya. Sedangkan dua persen wilayah termasuk dalam tipe satu musim.

Vivi melanjutkan pada musim kemarau tahun 2026 sebagian besar wilayah di Jawa Barat mengalami musim kemarau yang kering sebanyak 93 persen wilayah. Sedangkan tujuh persen wilayah lainnya mengalami musim kemarau normal.

Sebagian besar wilayah Jawa Barat, dikatakan dia, diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus, yaitu sebanyak 90 persen, dan delapan persen lainnya diprediksi akan mengalami puncak musim pada bulan Juli.

"Sedangkan dua persen wilayah lainnya diprediksi akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan September. Wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang atau lebih lama dari biasanya," katanya.

3. Masyarakat diminta waspada

Ilustrasi kemarau. Tanah tambak mengering di Kecamatan Mangara Bombang, Takalar, Sulawesi Selatan, Senin (2/9/2019) (ANTARA FOTO/Arnas Padda)
Ilustrasi kemarau. Tanah tambak mengering di Kecamatan Mangara Bombang, Takalar, Sulawesi Selatan, Senin (2/9/2019) (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk mengoptimalisasi operasi waduk dan bendungan, mempercepat pembangunan atau rehabilitasi embung dan tampungan air mengantisipasi krisis air bersih dan hemat air.

Untuk sektor pertanian, ia mengimbau petani menyesuaikan kalender tanam dengan menghindari puncak musim kemarau. Selain itu menggunakan varietas tahan kekeringan dan umur pendek.

"Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lokal," ungkapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More