Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

98 desa di Majalengka Rawan Kekeringan Saat Kemarau Panjang Tahun Ini

98 desa di Majalengka Rawan Kekeringan Saat Kemarau Panjang Tahun Ini
Ilustrasi air bersih. (Sumber: tempo.co/SarahErvina)
Intinya Sih
  • BPBD Majalengka mencatat 98 desa di 18 kecamatan rawan kekeringan, terutama di wilayah utara namun beberapa daerah selatan juga berpotensi terdampak.
  • Sebagai antisipasi kemarau panjang, BPBD menyiapkan distribusi air bersih dan berkoordinasi dengan TNI, Polri, serta PDAM untuk memastikan suplai air bagi warga.
  • BPBD mendorong solusi jangka panjang seperti pembangunan sumur dalam dan mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan guna mencegah kebakaran saat musim kemarau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Majalengka, IDN Times – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka mencatat sebanyak 98 desa dan kelurahan di 18 kecamatan masuk kategori rawan kekeringan. Data tersebut mengacu pada kejadian kekeringan pada tahun sebelumnya.

Mayoritas wilayah terdampak berada di bagian utara Majalengka yang merupakan dataran rendah, meskipun beberapa wilayah selatan juga masuk kategori rawan.

Table of Content

1. Wilayah utara dominan, selatan juga terdampak

1. Wilayah utara dominan, selatan juga terdampak

ilustrasi rapat
ilustrasi rapat (unsplash.com/Annie Spratt)

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Majalengka, Didi Rasidin, mengatakan daerah rawan kekeringan sebagian besar berada di wilayah utara.

Namun demikian, beberapa wilayah di selatan yang notabene dataran tinggi juga berpotensi mengalami kekeringan, salah satunya Kecamatan Bantarujeg.

“Sebagian besar di utara, tapi ada juga di selatan,” ujarnya.

BPBD saat ini tengah melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak sebagai langkah awal mitigasi menghadapi musim kemarau.

2. BPBD siapkan distribusi air bersih

Ilustrasi mengambil air dari sumur
Ilustrasi mengambil air dari sumur (pexels.com/Pexels Boss)

Mengantisipasi musim kemarau yang diprediksi lebih parah oleh BMKG, BPBD Majalengka akan berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk menentukan langkah penanganan.

Salah satu upaya yang disiapkan adalah distribusi air bersih ke wilayah terdampak, seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

BPBD juga telah menjalin komunikasi dengan PDAM untuk memastikan ketersediaan suplai air.

“Kami fokus pada pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat,” kata Didi.

Pada 2023, BPBD tercatat menyalurkan lebih dari 1 juta liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan.

3. Solusi jangka panjang hingga ancaman karhutla

Ilustrasi kebakaran lahan
Ilustrasi kebakaran lahan (unsplash.com/Matt Palmer)

Selain distribusi air, BPBD berharap adanya solusi jangka panjang seperti pembangunan sumur dalam di wilayah rawan.

Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Majalengka, Reza Permana, menyebut penyaluran air hanya bersifat sementara.

“Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk CSR, untuk pembangunan sumber air permanen,” ujarnya.

Di sisi lain, musim kemarau juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BPBD mengakui penanganan kebakaran lahan cukup sulit, terutama karena masih adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar.

Data sebelumnya mencatat kebakaran lahan terbesar terjadi pada 2019 dengan luas mencapai 232 hektare.

BPBD pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan guna mencegah risiko kebakaran selama musim kemarau.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More