Bandung, IDN Times - Wangi masakan menyeruak dari tenda di halaman Sekolah Dasar Negeri Pasirlangu. Di area yang sama, petugas hilir mudik mengantarkan bahan baku pada petugas yang sedang memasak untuk korban longsor d sana.
Halaman sekolah yang berada tepat di samping posko pengungsian korban longsor di kawasan tersebut disulap jadi dapur umum. Tempat makanan diolah lalu didistribusikan bagi pengungsi hingga relawan itu menjadi ujung tombak dari ketersediaan konsumsi mereka.
Belasan orang berbagi peran. Ada yang membersihkan bahan baku, memotong, hingga mengolah bahan baku itu menjadi masakan. Salah satu yang mencuri perhatian ialah sosok seorang chef atau juru masak dari luar negeri.
Mengenakan pakaian hitam dengan emblem bendera Palestina di lengan sebelah kirinya, chef tersebut bukan orang Indonesia. Tercermin dari bentuk wajah, warna kulit, hingga artikulasi bahasa Indonesianya yang terbata-bata.
Namanya David Caileba, seorang executive chef berkebangsaan Prancis. Ia sudah aktif menggunakan Bahasa Indonesia serta menguasai sedikit kosakata bahasa Sunda.
"Jadi awalnya saya diundang untuk jadi member ICA (Indonesian Chef Association) di Soreang. Di situ, saya lihat informasi di grup ada bencana di sini. Teman-teman bilang butuh relawan untuk memasak," kata David saat ditemui, Selasa (27/1/2026).
Dia sekarang tinggal di Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung, dan sedang tak memiliki kesibukan setelah dua bulan sebelumnya ia ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial di daerah Moch. Toha, Kota Bandung.
"Belum ada kerjaan apa-apa, akhirnya saya ikut bantu jadi relawan. Saya lihat di sini, masyaallah, semua gotong royong, kompak ya. Luar biasa, Indonesia is the best," kata David.
Tak ada alasan lain di balik keterlibatannya dalam misi kemanusiaan di Cisarua ini. Hatinya tergerak karena ingin membantu sesama apalagi ketika melihat anak-anak yang jadi korban.
"Kita harus ingat, dunia ini hanya sementara dan akhirat selama-lamanya Insyaallah. Tapi di dunia, kita harus saling membantu. Ada anak di sini bagaimana kondisinya (jadi korban). Ini semua saudara kita sesama muslim dan saudara kita dalam kemanusiaan," kata David.
David sendiri belum berpengalaman menjadi relawan kebencanaan. Meskipun perannya sebatas di balik kompor dan cuma sebatas mengolah masakan, di tengah umur yang juga terus bertambah ia ingin lebih banyak bermanfaat untuk sesama.
"Saya baru kali ini jadi relawan. Saya berpengalaman sebagai chef sejak tahun 1998, tapi kalau di dapur itu sudah dari tahun 1991. Kemudian saya di Indonesia ini sudah 16 tahun," kata David.
David pun sempat berbincang dengan Ketua TP PKK Bandung Barat, Syahnaz Sadiqah. Istri bupati Jeje Ritchie Ismail itu menyampaikan rasa terima kasihnya akan kesediaan David meluangkan waktu dan tenaga membantu korban bencana.
"Terima kasih sudah membantu di sini, semoga menjadi amal baik buat kita semua," kata Syahnaz.
