PVMBG Badan Geologi: Tata Guna Lahan Jadi Faktor Longsor Cisarua

- PVMBG Badan Geologi menyebut tata guna lahan sebagai faktor penyebab longsor di Cisarua, Bandung Barat.
- Daerah bencana didominasi oleh perbukitan vulkanik dengan lereng curam dan dipengaruhi oleh sistem struktur geologi berupa sesar dan rekahan.
- Faktor pemicu utama longsor adalah curah hujan tinggi yang meningkatkan tekanan air pori dan penurunan kuat geser tanah.
Bandung, IDN Times - Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan keterangan mengenai penyebab terjadinya longsor di Dusun Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026).
Adapun dari peristiwa ini menyebabkan puluhan orang hilang, Tim SAR gabungan pun masih melakukan pencarian di lokasi longsor. Berdasarkan data Senin (26/1/2026) malam, tim Basarnas menyerahkan 38 kantong jenazah ke tim DVI Polri. Hasilnya 20 telah teridentifikasi.
Plt Kepala Badan Geologi, Lana Satria mengatakan, kondisi daerah bencana secara morfologi didominasi oleh bentang alam perbukitan vulkanik dengan ketinggian menengah hingga tinggi.
Kemudian, kemiringan lereng umumnya berkisar antara 8-40 drajat dengan kelas lereng sedang hingga curam. Pada beberapa bagian lereng, terutama di sekitar lembah dan punggungan bukit, dijumpai lereng sangat curam dengan kemiringan lebih dari 40 derajat.
"Genesis morfologi wilayah ini dikontrol oleh aktivitas gunung api purba yang menghasilkan endapan vulkanik tebal, kemudian mengalami proses pelapukan, erosi, dan denudasi intensif sehingga membentuk lereng-lereng tidak stabil," kata Lana dalam keterangan resminya dikutip Selasa (27/1/2026).
1. Lokasi longsor memang rentan gerakan tanah

Sementara, secara geologi, kata Lana, daerah longsor tersebut disusun oleh satuan batuan yang dapat dibandingkan dengan Formasi Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu). Menurutnya, satuan ini umumnya terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan kuat.
"Kondisi pelapukan lanjut menyebabkan penurunan kuat geser tanah dan batuan, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap terjadinya gerakan tanah, terutama pada lereng dengan kemiringan sedang hingga curam," katanya.
Wilayah Kabupaten Bandung Barat secara regional, dipengaruhi oleh sistem struktur geologi berupa sesar dan rekahan yang berarah dominan baratlaut–tenggara dan baratdaya–timurlaut, yang berkaitan dengan dinamika tektonik Cekungan Bandung dan aktivitas gunung api Kuarter.
"Keberadaan struktur geologi berupa zona rekahan dan sesar tersebut berimplikasi pada meningkatnya permeabilitas batuan serta berkembangnya bidang-bidang lemah yang dapat berperan sebagai bidang gelincir gerakan tanah," katanya.
2. Banyak hal yang memngaruhi kejadian longsor di Cisarua

Sedangkan, tata guna lahan di sekitar lokasi kejadian didominasi oleh permukiman penduduk, lahan pertanian lahan kering, kebun campuran, serta sebagian kawasan terbuka. Lana mengatakan, terdapat juga aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan.
"Serta sistem drainase permukaan yang belum memadai, turut memengaruhi kestabilan lereng dan memperbesar potensi terjadinya gerakan tanah," katanya.
PVMBG Badan Geologi memastikan, lokasi kejadian termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Pada zona ini, Lana mengungkapkan, gerakan tanah dapat terjadi terutama pada lereng yang telah terganggu secara alami maupun oleh aktivitas manusia, khususnya pada saat curah hujan tinggi dan berlangsung lama.
"Faktor pengontrol utama gerakan tanah di lokasi ini meliputi kondisi geologi berupa batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan lanjut, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan struktur geologi berupa rekahan dan sesar," kata dia.
3. Pemicunya curah hujan tinggi

Meski begitu, faktor pemicu utama dari longsor ini yaitu curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, hingga menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng.
Dengan begitu, PVMBG Badan Geologi menyimpulkan kejadian gerakan tanah di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, merupakan hasil interaksi antara kondisi geologi regional dan lokal, morfologi curam, tata guna lahan, serta faktor pemicu berupa curah hujan tinggi.
"Karakteristik batuan gunung api tua yang lapuk dan keberadaan struktur geologi memperbesar kerentanan wilayah terhadap longsor, khususnya pada zona ZKGT Menengah," tutur dia.















