Cerita Warga Selamat Longsor Cisarua: Adik Hilang, 28 Ekor Kambing Raib

- Tanu dan keluarganya terdampak longsor di Kampung Pasir Kuning, Cisarua, Bandung Barat
- Adik Tanu hilang dalam peristiwa longsor, sementara beberapa anggota keluarga lainnya selamat
- Tanu juga kehilangan 28 ekor kambing yang dipastikan tidak selamat akibat longsor
Bandung, IDN Times - Tanu (48 tahun) hanya bisa berusaha tegar dan menahan tangis melihat anggota keluarga besarnya hilang dalam peristiwa longsor di Kampung Pasir Kuning, RW10 dan 11, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terjadi Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Tanu sendiri kini mengungsi di Balai Desa Pasirlangu berserta beberapa warga lainnya. Kedua anaknya dan istri dipastikan selamat dalan bencana longsor ini.
Saat ditemui IDN Times, Tanu menahan tangis, matanya berkaca-kaca dan suaranya terbata-bata menceritakan saat peristiwa.
"Saya keluar rumah, dengar ada yang minta tolong dari arah sana (atas). Saya kira siapa, ternyata adik-adik saya 'uwak tolong wak, wak tolong wak!' lalu suaranya les menghilang, lalu timbul lagi kedengaran lalu hilang lagi," ujar Tanu kepada IDN Times.
1. Enam orang adiknya hilang

Tanu sangat jelas mendengar adik-adiknya meminta tolong untuk diselamatkan, sementara dirinya pun bingung harus turut menyelematkan keluarganya yang mana terdapat istri, dua orang anak satu berumur tujuh tahun dan 17 tahun. Memang, pada pagi itu teriakan warga meminta tolong menggema.
"Lalu di titik lainnya, ada sekeluarga empat orang saya lihat lari ke arah sana, sembari berteriak minta tolong, saya ngeuh kalau itu suara adik saya. Tahu-tahu adik saya itu sudah ngumpet di sekitar kandang sapi. Tapi sampai tadi pagi masih belum muncul," ujarnya.
Meski begitu, dari sembilan orang keluarganya ada beberapa yang dipastikan dalam kondisi selamat. Namun, ada juga yang sampai saat ini masih belum diketahui kabarnya.
Berdasarkan data posko ada sebanyak 23 orang yang telah ditemukan, dan tak ada satu pun nama keluarganya.
"Nah kemudian ada yang tahu dan mengabari saya dan saya langsung mengecek ke arah gurah. Singkatnya sudah ketemu, alhamdulillah. Lalu adik saya yang di awal tertimbun sama bangunan itu selamat. Lalu anak satu tahun setengah dibawa lompat dari genteng kemudian ditangkap oleh kakaknya, dibawa lari," tuturnya.
"Semuanya adik saya ada sembilan, tinggal enam orang lagi sama mertua saya satu (sehingga totalnya menjadi tujuh) belum ketemu."
2. Panik mendengar bencana; seperti duara buldozer

Peristiwa longsor ini sendiri diawali dengan suara seperti gemuruh yang besar dan terus mendekat ke telinga. Tanu membenarkan dan merasakan langsung kondisi itu, di mana menurutnya peristiwa ini lebih terdengar seperti suara gerung mesin buldozer yang mendekati rumahnya.
"Iya denger suara gemuruh tadi. Langsung keluar karena panik juga. Pas saya lihat suaranya gedebuk-gedebuk tanah mendekat terus. Saya langsung bawa anak gitu, sampai ke sini (posko pengungsian) jam 15.00 dari sana jalan. Basah kuyup," kata dia.
Sebagai warga yang tinggal lama di lokasi longsor ini, Tanu menyampaikan bahwa bencana ini merupakan yang terbesar yang pernah dialami warga di sana. Sebelumnya, daerah tersebut memang pernah mengalami longsor, namun tak sebesar yang terjadi kali ini.
Selain kehilangan keluarga, Tanu pun kehilangan mata pencarian pekerjaan sebagai peternak kambing yang mana ada sebanyak 28 ekor kambing terdampak longsor, dan dipastikan tidak selamat.
"Saya juga itu kambing 28 ekor lapur. Tapi habis, bagaimana lagi. Itu adalah pekerjaan sehari-hari, buat dijual persiapan Raya Agung. Udah ada yang pesan, itu dari Cimahi," ucapnya.
3. Mata pencariannya hilang

Satu ekor kambing dihargai Rp3 juta, jika ditotal dari 28 kambing yang dimilikinya kerugian Tanu mencapai Rp84 juta. Meski begitu, keruguan itu tak seberapa jika dibandingkan rasa kehilangannya pada adik-adiknya yang hingga kini masih belum ditemukan.
"Cuma saya masih pemikirannya adik-adik saya enam orang belum ketemu sampai sekarang. Kepikiran. Soalnya dengar 'uwak tolong wak, wak tolong wak'. Adik itu bilang gitu," katanya.
"Jaraknya enggak jauh, saya masih lihat pas kejadian. Tapi bagaimana, saya di kondisi itu gak bisa berbuat apa-apa, bingung," ujar Tanu menutup obrolan.














