Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Di Gerbang Investasi Jawa Barat, Kekeringan Tetap Mengintai

Di Gerbang Investasi Jawa Barat, Kekeringan Tetap Mengintai
Inin Nastain/ BIJB Kertajati
Intinya Sih
  • Warga sekitar Bandara Kertajati rutin menghadapi krisis air bersih setiap musim kemarau, dengan 30 desa di Majalengka berpotensi terdampak kekeringan pada tahun 2026.
  • BPBD Majalengka membagi ancaman kekeringan menjadi dua kategori: kekeringan lahan pertanian dan kekurangan air bersih yang langsung dirasakan masyarakat di berbagai kecamatan.
  • Pemerintah daerah memperkuat pemantauan wilayah rawan serta menyiapkan distribusi bantuan air bersih agar penanganan lebih cepat saat desa mulai mengalami kesulitan air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Majalengka, IDN Times- Warga di sekitar Bandara Internasional Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat masih menghadapi persoalan mendasar yang berulang setiap tahun, yakni kesulitan memperoleh air bersih saat musim kemarau.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka memetakan sedikitnya 30 desa yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih pada musim kemarau 2026. Dua di antaranya berada di Kecamatan Kertajati, yakni Desa Mekarmulya dan Desa Mekarjaya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka Agus Tamim mengatakan, pemerintah daerah telah menjadikan potensi kekeringan sebagai salah satu perhatian utama pada tahun ini. Prediksi musim kemarau yang lebih kering dibanding periode sebelumnya dinilai berpotensi memengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat.

“Prediksi kemarau tahun ini perlu diantisipasi sejak dini karena berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih masyarakat,” kata Agus, Kamis (2/7/2026).

Menurut dia, wilayah utara Majalengka masih menjadi kawasan yang paling rentan terdampak kekeringan, baik pada sektor pertanian maupun kebutuhan air bersih rumah tangga.

1. Sumur menurun, warga mengandalkan pasokan air

Inin Nastain IDN Times/ suasana BIJB Kamis (8/8/2024)
Inin Nastain IDN Times/ suasana BIJB Kamis (8/8/2024)

Menurut warga di Mekarmulya dan Mekarjaya, ancaman terbesar saat kemarau bukanlah aktivitas bandara yang sepi atau ramai. Persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah bagaimana mendapatkan air untuk memasak, mandi, mencuci, dan kebutuhan keluarga.

Saat curah hujan turun dalam waktu lama, debit air sumur warga mulai menyusut. Di sejumlah titik, air yang biasanya mudah diperoleh menjadi semakin terbatas sehingga masyarakat harus mencari sumber air alternatif atau menunggu bantuan distribusi air bersih.

Agus menjelaskan, wilayah seperti Kertajati, Jatitujuh, Ligung, dan Sumberjaya selama ini memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi karena ketergantungan terhadap sumber air permukaan dan jaringan irigasi.

“Ketika curah hujan menurun dalam waktu lama, debit sumber air ikut berkurang sehingga berdampak pada kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas pertanian warga,” ujarnya.

2. Dua jenis kekeringan

kekeringan besar (radiowest.kuer.org)
kekeringan besar (radiowest.kuer.org)

BPBD membagi ancaman kekeringan di Majalengka ke dalam dua kategori. Pertama, kekeringan yang berdampak terhadap lahan pertanian, terutama di wilayah utara. Kedua, kekurangan air bersih yang langsung dirasakan masyarakat.

Selain Mekarmulya dan Mekarjaya, desa rawan kekeringan tersebar di sejumlah kecamatan lain seperti Jatitujuh, Panyingkiran, Kadipaten, Kasokandel, Majalengka, Cigasong, Palasah, Sumberjaya, Leuwimunding, Bantarujeg, Ligung, Dawuan, hingga Lemahsugih.

Beberapa desa yang masuk dalam pemetaan antara lain Bantrangsana, Heuleut, Jatitujuh, Cipaku, Babajurang, Putridalem, Girimukti, Cicurug, Cijati, Cisambeng, Pilangsari, Cibodas, Tenjolayar, Gandasari, Sadawangi, Sidamukti, Jatipamor, Jatisawit, Simpeureum, Garawangi, Kedungsari, dan Karanganyar.

Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menentukan langkah mitigasi sebelum dampak kekeringan meluas

3. Menunggu tangki air datang

Mobil tangki air bersih dikerahkan di Pelabuhan Gili Mas oleh BPBD NTB. (IDN Times/Istimewa)
Mobil tangki air bersih dikerahkan di Pelabuhan Gili Mas oleh BPBD NTB. (IDN Times/Istimewa)

BPBD Majalengka menyatakan telah memperkuat pemantauan wilayah rawan serta meminta pemerintah desa memperbarui data daerah terdampak hingga tingkat lingkungan terkecil. Langkah tersebut dilakukan agar distribusi bantuan air bersih dapat dilakukan lebih cepat ketika kondisi darurat terjadi.

Agus mengatakan, hingga awal musim kemarau ini belum seluruh desa mengalami krisis air. Namun masyarakat diminta mulai menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan.

“Pemetaan ini menjadi dasar antisipasi agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat ketika ada desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih,” kata Agus.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha

Latest News Jawa Barat

See More