Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bayi Hampir Tertukar di RSHS Bandung, Dinkes Jabar Beri Teguran
Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Dinkes Jawa Barat menegur RSHS Bandung setelah insiden bayi hampir tertukar di ruang NICU viral di media sosial.
  • Pihak RSHS telah meminta maaf langsung kepada keluarga pasien dan kedua belah pihak sepakat menyelesaikan masalah secara damai.
  • Dinkes menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh serta penerapan ketat SOP dalam setiap tahap pelayanan, terutama penyerahan bayi kepada keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
8 April 2026

Nina Salehah mengalami insiden bayinya hampir tertukar di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak RSHS Bandung. Ia mendapati bayinya berada di tangan orang lain setelah sempat meninggalkan ruangan untuk membeli makanan.

9 April 2026

Kepala Dinkes Jabar, Vini Adiani Dewi, menyampaikan bahwa pihaknya telah menegur RSHS Bandung dan berkoordinasi setelah insiden bayi hampir tertukar viral di media sosial. Pihak RSHS juga telah meminta maaf langsung kepada keluarga pasien dan melakukan kunjungan ke rumah korban.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Terjadi insiden bayi hampir tertukar di ruang NICU Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, yang kemudian viral di media sosial dan mendapat teguran dari Dinas Kesehatan Jawa Barat.
  • Who?
    Bayi milik Nina Salehah (37 tahun), pihak perawat RSHS Bandung, serta Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi yang menegur rumah sakit tersebut.
  • Where?
    Insiden terjadi di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kota Bandung, Jawa Barat.
  • When?
    Kejadian berlangsung pada Rabu, 8 April 2026, sementara teguran dari Dinas Kesehatan disampaikan pada Kamis, 9 April 2026.
  • Why?
    Teguran diberikan karena adanya kelalaian prosedur dalam penyerahan bayi kepada keluarga yang berpotensi menyebabkan tertukarnya identitas pasien di ruang NICU.
  • How?
    Bayi sempat diserahkan kepada orang lain setelah perawat mengira ibu bayi tidak merespons panggilan. Setelah viral, pihak rumah sakit meminta maaf dan berkoordinasi dengan Dinkes Jabar untuk evaluasi SOP pelayanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada bayi hampir tertukar di rumah sakit di Bandung. Ibu bernama Nina lihat bayinya sudah di tangan orang lain, padahal gelangnya hilang. Rumah sakit minta maaf ke Nina. Dinas Kesehatan Jawa Barat marah dan kasih teguran ke rumah sakit itu. Sekarang mereka bilang harus kerja lebih hati-hati supaya tidak salah lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun insiden hampir tertukarnya bayi di RSHS Bandung sempat menimbulkan kehebohan, respons cepat dari Dinas Kesehatan Jawa Barat dan pihak rumah sakit menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab dan perbaikan mutu layanan. Adanya komunikasi terbuka, permintaan maaf langsung, serta kesepakatan saling memaafkan mencerminkan penyelesaian yang manusiawi dan berorientasi pada pembelajaran sistemik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat turut memberikan teguran terhadap Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (RSHS). Hal ini dilakukan setelah adanya insiden bayi yang nyaris tertukar di ruang NICU yang kemudian viral di media sosial.

Kepala Dinkes Jabar Vini Adiani Dewi mengatakan, setelah kejadian ini viral di media sosial, dinas langsung berkoordinasi dengan rumah sakit milik Kemenkes tersebut. Pihak RSHS pun melaporkan akan terlebih dahulu berkunjung ke rumah korban.

"Kami tadi sudah berkoordinasi, jadi rencana dari pihak kami akan berkunjung ke RSHS, kalau dari pihak RSHS sudah berkunjung ke rumah pasien," ujar Vini, Kamis (9/4/2026).

1. Kedua belah pihak sudah saling memanfaatkan

Kepala Dinkes Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Pihak rumah sakit dan keluarga pasien, berdasarkan informasi yang diterima Vini, telah terjadi komunikasi dan penyelesaian awal, termasuk permintaan maaf secara langsung dari pihak RSHS.

"Kalau kami dalam rangka perbaikan mutu layanan, kalau mereka tadi sudah ada kesepakatan saling memaafkan, memperbaiki. Dari pihak RSHS juga memohon maaf atas ketidaknyamanannya, dari pasien juga sama sudah mem-viralkan jadi sudah clear, alhamdulillah," katanya.

Kendati begitu, Dinkes menegaskan insiden ini tidak boleh berhenti hanya pada penyelesaian personal, melainkan harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh.

2. Dinkes Jabar soroti SOP pelayanan

RSUP Dr. Hasan Sadikin (web.rshs.go.id)

Dinkes Jabar pun menyoroti pentingnya standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap tahapan pelayanan pada pasien, termasuk dalam penanganan bayi di ruang NICU. Sebab hal ini merupakan dasar pelayanan terhadap masyarakat.

"Namanya mutu layanan berarti pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada pasien, dari segi keselamatan pasien, keselamatan dalam berbagai hal, itu yang nanti kita ingatkan di RSHS," jelas Vini.

Dia menegaskan, seluruh proses pelayanan harus mengacu pada SOP yang ketat, termasuk dalam hal penyerahan bayi kepada keluarga. Vini pun turut menyoroti hal tersebut.

"Dari mulai pemeriksaan kepada pasien, tindakan itu ada SOP-nya harus seperti apa, termasuk tadi ya memberikan bayi juga pasti ada SOP-nya, kita lihat nanti SOP-nya ada tidak," tegasnya.

3. Pemprov Jabar hanya pembina dan pengawas

Ilustrasi bayi menyusui (pexels.com/Sarah Chai)

Terkait detail kejadian di lapangan, Dinkes Jabar menyerahkan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit untuk memberikan penjelasan kepada publik.

"Kalau itu (tanyakan) ke RSHS, saya hanya pembina dan pengawas, kalau soal kejadiannya ke RSHS saja," ucapnya.

Sebagai informasi, seorang perempuan Nina Salehah (37 tahun) menceritakan kejadian bayinya hampir tertukar di RSHS di media sosial, TikTok. Dia bercerita peristiwa itu terjadi pada Rabu 8 April 2026 di Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) RSHS Bandung.

Saat itu, Nina sedang menanti proses kepulangan bayinya yang tengah dirawat. Akan tetapi, Nina merasa lapar dan memutuskan untuk membeli makanan.

Saat menyantap makanan, Nina memiliki firasat tidak enak sehingga memutuskan untuk kembali ke gedung itu. Setibanya di gedung tempat bayinya berada, Nina sudah mendapati sang anak berada di tangan orang lain.

Nina pun menanyakan kepada perawat mengapa bayinya diserahkan ke orang dengan keadaan gelang identitas sudah tidak ada. Namun, perawat itu menjelaskan bahwa sudah memanggil Nina tetapi tidak ada respons. Akhirnya, perawat itu menyerahkan bayi Nina kepada orang lain.

Editorial Team