90 Persen Air Baku di Kota Bandung Diduga Tercemar Bakteri E-coli

- Pemkot Bandung mengonfirmasi laporan LSM bahwa hampir 90 persen air baku di sejumlah sungai diduga tercemar E-coli, dengan dampak serius bagi kesehatan masyarakat.
- Sekitar 200 ribu dari 600 ribu rumah di bantaran sungai diperkirakan masih membuang tinja langsung ke sungai karena keterbatasan fasilitas sanitasi.
- Pencemaran E-coli berisiko memicu diare dan stunting pada anak; indeks kualitas air Sungai Cikapundung pada 2024 juga tercatat buruk, di bawah 50.
Bandung, IDN Times – Kualitas air baku di Kota Bandung menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung. Pasalnya, pencemaran sungai diduga telah menyebabkan tingginya kandungan bakteri Escherichia coli (E-coli). Bahkan, berdasarkan hasil pemantauan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), tingkat pencemaran bakteri tersebut di sejumlah sungai di Kota Bandung mencapai hampir 90 persen.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pihaknya masih melakukan konfirmasi terhadap data tersebut sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Namun, persoalan pencemaran air ini perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.
"Saat ini saya sedang melakukan konfirmasi data. Kemarin sore sebuah lembaga swadaya masyarakat menyampaikan hasil pemantauannya bahwa pencemaran bakteri E-coli di beberapa sungai di Kota Bandung mencapai hampir 90 persen. Saya akan memastikan kebenaran datanya terlebih dahulu," kata Farhan saat memberikan arahan kepada pengurus Posyandu se-Kota Bandung, Rabu (4/11/2026).
Ada sejumlah persoalan yang menjadi perhatian Pemkot Bandung terkait pencemaran bakteri E-coli ini. Mulai dari kebiasaan membuang limbah tinja ke sungai hingga dampaknya terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.
1. Banyak rumah buang tinja langsung ke sungai

ilustrasi feses atau tinja (IDN Times/Novaya Siantita) Farhan menyebut, salah satu penyebab pencemaran sungai di Kota Bandung adalah masih banyaknya rumah warga yang membuang kotoran manusia langsung ke aliran sungai. Dari sekitar 600 ribu rumah yang berada di sekitar bantaran sungai, diperkirakan 200 ribu rumah masih membuang tinja tanpa melalui septic tank.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata karena masyarakat tidak memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Sebagian warga sebenarnya sudah mengetahui bahwa membuang tinja langsung ke sungai dapat menyebabkan pencemaran.
Namun, kondisi fasilitas sanitasi di sejumlah rumah belum memungkinkan mereka memiliki sistem pembuangan tinja yang memadai. Akibatnya, limbah rumah tangga masih berakhir di aliran sungai.
Farhan menilai, jika kondisi ini terus berlangsung, pencemaran akan semakin sulit dikendalikan. Terlebih, jumlah penduduk yang tinggal di sekitar sungai cukup besar sehingga akumulasi limbah domestik dapat memperburuk kualitas air.
"Sekarang kalau satu rumah isi tiga orang dan mereka setiap hari buang (tinja) ke sungai ini pasti ada pencemaran," ungkapnya.
2. Bakteri E-coli bisa picu diare hingga meningkatkan risiko stunting

Tujuh anak yang sama-sama berusia 8 tahun berdiri berjajar, namun tinggi badan mereka tampak berbeda jauh, potret nyata dampak stunting pada tumbuh kembang anak. (Sumber: Pinterest) Persoalan pencemaran bakteri E-coli bukan hanya menyangkut kualitas lingkungan, tetapi juga berhubungan dengan kesehatan anak. Bakteri ini dapat menyebabkan diare, terutama jika air yang tercemar digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Diare pada bayi, khususnya yang berusia di bawah dua bulan, menjadi kondisi yang perlu diwaspadai. Sebab, penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan, penurunan berat badan, hingga melemahnya daya tahan tubuh.
Kondisi kesehatan anak yang terus menurun juga dapat membuat mereka lebih rentan mengalami penyakit lain, termasuk tuberkulosis (TBC). Jika anak mengalami TBC, pertumbuhan tubuhnya bisa terhambat dan meningkatkan risiko stunting dalam jangka panjang.
Kondisi tersebut membentuk lingkaran masalah kesehatan yang saling berkaitan. Karena itu, penanganan pencemaran E-coli dan perbaikan sanitasi lingkungan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting.
Pemkot Bandung pun perlu melihat persoalan sanitasi bukan sekadar urusan kebersihan sungai. Akses terhadap fasilitas pembuangan limbah yang layak juga menjadi salah satu faktor penting untuk melindungi kesehatan anak sejak dini.
3. Indeks kualitas air Sungai Cikapundung di bawah angka 50

Debit air Sungai Cikapundung, Kota Bandung, meningkat selama musim hujan. IDN Times/Debbie Sutrisno Buruknya kualitas air sungai di Kota Bandung sebenarnya telah menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung. Salah satu sungai yang mendapat sorotan adalah Sungai Cikapundung yang membelah wilayah Kota Bandung.
Berdasarkan hasil pengukuran DLHK Kota Bandung pada 2024, indeks kualitas air Sungai Cikapundung masih tergolong buruk, yakni berada di bawah angka 50. Pengukuran tersebut dilakukan dari kawasan hulu hingga hilir sungai.
Kepala DLHK Kota Bandung, Darto, mengatakan posisi geografis Kota Bandung berada di bagian tengah aliran sungai. Kondisi tersebut membuat kualitas air yang mengalir di wilayah perkotaan turut dipengaruhi pencemaran dari berbagai sumber.
"Dari hasil penilaian tahun 2024, indeks kualitas air memang belum begitu baik. Indeks ini diukur dari hulu ke hilir. Posisi kita itu bukan di hulu dan hilir, melainkan di tengah," kata Darto di Balai Kota Bandung, Senin (28/7/2025).
Darto menjelaskan, pengukuran indeks kualitas air, udara, dan tanah dilakukan dua kali dalam setahun. Dari hasil pemantauan, DLHK menemukan sejumlah titik yang terindikasi mengalami pencemaran akibat kotoran hewan dan manusia.
"Ada beberapa titik yang kami identifikasi, dan saya tidak bisa sebutkan secara detail, tapi di titik-titik itu terindikasi ada pencemaran kotoran hewan dan manusia," ujarnya.
Tingginya kandungan bakteri E-coli membuat air Sungai Cikapundung tidak layak digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Bahkan, air sungai tersebut tidak direkomendasikan untuk aktivitas bermain anak karena berisiko terhadap kesehatan.




















