10 Sapi Terpapar PMK, Cirebon Perketat Jalur Distribusi Hewan Ternak

Cirebon, IDN Times- Pemerintah Kabupaten Cirebon mengambil langkah tegas untuk memperketat jalur distribusi hewan ternak setelah terdeteksi kembalinya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah tersebut.
Langkah ini dilakukan guna mencegah penyebaran penyakit yang dapat berdampak buruk pada kesehatan hewan ternak sekaligus mengancam perekonomian peternak setempat.
Penjabat Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan dinas terkait untuk memperketat pengawasan terhadap peredaran hewan ternak. Langkah ini mencakup pemeriksaan ketat kesehatan hewan di setiap titik distribusi serta pembatasan pergerakan hewan dari daerah-daerah yang telah terpapar wabah PMK.
“Kesehatan hewan ternak menjadi prioritas kami. Jalur distribusi hewan akan kami awasi secara ketat untuk memastikan tidak ada hewan yang terinfeksi keluar dari wilayah yang terdampak. Kami bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mencegah penyebaran penyakit ini,” kata Wahyu, Selasa (14/1/2025).
1. Pentingnya peran peternak dalam pengendalian

Selain langkah pengawasan, Wahyu juga mengingatkan pentingnya peran aktif para peternak dalam melaporkan kondisi hewan ternak mereka, terutama jika menemukan gejala mencurigakan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses deteksi dini sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
“Kami mengimbau peternak untuk tetap waspada dan melapor kepada petugas terkait apabila ada hewan ternak mereka yang menunjukkan gejala PMK. Dengan begitu, langkah pencegahan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif,” kata Wahyu.
Pemerintah Kabupaten Cirebon berharap, dengan pengawasan yang lebih ketat serta keterlibatan aktif dari para peternak, penyebaran PMK dapat dikendalikan sehingga tidak meluas ke wilayah lain.
2. Kasus PMK di Kabupaten Cirebon

Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mencatat, hingga awal Januari 2025, sebanyak 10 ekor sapi di wilayah tersebut telah terkonfirmasi terpapar PMK. Kasus ini pertama kali terdeteksi pada akhir Desember 2024, yang kemudian menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Durahman, sapi-sapi yang terinfeksi tersebar di tiga wilayah berbeda, yaitu Desa Panggangsari di Kecamatan Losari, Dukuh Widara di Kecamatan Pabedilan, dan Sukadana di Kecamatan Pabuaran.
“Sapi-sapi yang kami periksa menunjukkan gejala khas PMK, seperti lepuh di area mulut, kehilangan nafsu makan, hingga demam tinggi. Ini adalah tanda-tanda yang sangat spesifik dari penyakit ini,” jelas Durahman.
Meskipun jumlah kasus yang terdeteksi tergolong kecil, pemerintah tidak menganggap enteng ancaman ini. PMK dikenal sebagai penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat jika tidak ditangani dengan serius.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon telah mengambil berbagai langkah pencegahan dan penanganan untuk membatasi penyebaran PMK. Salah satu langkah utama adalah pemberian perawatan intensif kepada sapi-sapi yang terinfeksi, termasuk pemberian obat-obatan dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh hewan tersebut.
Selain itu, pemerintah juga telah memberlakukan karantina lokal di area peternakan yang terpapar. Hewan-hewan di area tersebut tidak diperbolehkan keluar untuk mencegah penularan penyakit ke lokasi lain.
“Karantina lokal ini bertujuan untuk memutus rantai penularan. Selain itu, kami juga memastikan bahwa semua peralatan dan lingkungan peternakan disterilkan agar virus tidak menyebar lebih jauh,” ujar Durahman.
3. Penyebab serta dampak penyakit mulut dan kuku

PMK adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hewan berkuku genap, seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Virus ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, pakan, air, atau peralatan yang telah terkontaminasi.
Penyakit ini tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga berpotensi mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi para peternak. Hewan yang terinfeksi biasanya mengalami penurunan produksi susu, pertumbuhan lambat, dan dalam kasus parah, kematian.
Durahman menegaskan bahwa meskipun PMK jarang menular ke manusia, penanganan cepat tetap diperlukan untuk melindungi populasi hewan ternak dan menjaga stabilitas ekonomi di sektor peternakan.
Wahyu menambahkan, pemerintah daerah juga berfokus pada edukasi kepada peternak mengenai cara-cara mencegah penyebaran PMK. Melalui penyuluhan dan sosialisasi, para peternak diajarkan untuk mengenali gejala penyakit, menjaga kebersihan kandang, dan memastikan kesehatan hewan mereka secara rutin.
Selain itu, pemerintah daerah juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dinas kesehatan hewan, organisasi peternakan, dan instansi terkait lainnya. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan penanganan PMK dilakukan secara terpadu dan efektif.
“Kami tidak akan lengah. Keberhasilan mengendalikan wabah ini sangat bergantung pada kerja sama antara pemerintah, peternak, dan masyarakat luas. Kami percaya bahwa bersama-sama, kita bisa melindungi kesehatan hewan ternak sekaligus menjaga keberlanjutan sektor peternakan di Kabupaten Cirebon,” tutup Wahyu.



















