Jabar Mulai Dilanda Kekeringan, Sawah di Indramayu Paling Terdampak

- Kekeringan mulai melanda Jawa Barat saat puncak kemarau, dengan sawah Indramayu paling terdampak akibat pasokan air menipis dan masalah infrastruktur irigasi; Subang serta Karawang juga berisiko.
- Gubernur Dedi Mulyadi menyebut panen Agustus menjadi periode terakhir sebelum lahan pertanian umumnya kosong pada September–Oktober, lalu penanaman kembali dijadwalkan Oktober–Desember.
- BPBD mencatat kekeringan di 15 daerah, mencakup 89 kecamatan dan 194 desa/kelurahan; 205.567 jiwa terdampak, sementara 4.013.500 liter air bersih telah didistribusikan.
Bandung, IDN Times – Bencana kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat seiring masuknya puncak musim kemarau. Sejumlah masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air besih, termasuk sektor pertanian.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan, ada beberapa wilayah yang saat ini sudah mulai merasakan dampak serius dari kekeringan. Sektor pertanian menjadi yang paling terpukul akibat pasokan air yang kian menipis.
"Yang jelas (terdampak) kan Indramayu. Ya, jelas Indramayu. Nanti sebagian Subang, sebagian Karawang," ujar Dedi, Kamis (30/7/2026).
1. Kekeringan disebabkan karena infrastruktur irigasi

Menurutnya, wilayah-wilayah lumbung padi Jawa Barat itu mengalami kendala besar karena faktor irigasi yang bermasalah atau mengalami penurunan fungsi pemeliharaan.
Dia mengatakan, persoalan irigasi tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemprov Jabar saja, melainkan ada pembagian kewenangan bwesa BBWS, Pemprov Jabar, dan Perum Jasa Tirta (PJT), langkah taktis harus segera diambil agar sektor pertanian tidak lumpuh.
"Kekeringan kan sebenarnya faktor infrastruktur irigasi, sehingga alokasi anggaran untuk irigasi harus terus ditingkatkan. Tetapi kan di situ ada tingkatan kewenangan. Ada yang BBWS, ada yang provinsi, ada yang PJT (Perum Jasa Tirta)," kata Dedi.
2. Agustus jadi periode panen terakhir sebelum lahan kosong

Kendati begitu, Dedi menyampaikan, awal gelombang kekeringan ini bertepatan dengan masa panen raya terakhir bagi para petani di Jawa Barat. Pola tanam diperkirakan akan mengalami jeda selama puncak kemarau.
"Di Agustus itu kan petani sekarang sudah mulai panen nih. Tapi kalau September dan Oktober memang biasanya kosong. Kita nanam lagi nanti Oktober, November, Desember," ujar Dedi.
4. BPBD dan kepala daerah turun tangan pasok air bersih

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menyatakan ada sebanyak 15 dari 27 kabupaten dan kota di Jabar mengalami bencana kekeringan akibat kemaru panjang yang terjadi pada Juli 2026.
BPBD Jabar mencatat ada 89 kecamatan dan 194 desa/kelurahan dilanda kekeringan. Sebanyak 61.504 kepala keluarga (KK) atau 205.567 jiwa terdampak, sementara distribusi air bersih yang telah disalurkan mencapai 4.013.500 liter.
Pranata Humas BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat mengatakan, tren dampak kekeringan paling besar terjadi di Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Tasikmalaya.
"Kalau lihat dari trennya, yang paling banyak terdampak itu di wilayah Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Tasik," kata Hadi saat dikonfirmasi.
Sementara itu Kabupaten Bogor menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 31.160 KK atau 107.109 jiwa yang tersebar di 24 kecamatan dan 84 desa/kelurahan. Daerah ini juga telah menerima distribusi air bersih sebanyak 847.500 liter.
Kemudian, Kabupaten Bekasi mencatat 9.078 KK atau 26.995 jiwa terdampak di sembilan kecamatan dan 18 desa/kelurahan, dengan distribusi air bersih mencapai 2.232.000 liter, menjadi yang terbesar di Jawa Barat.
Adapun Kabupaten Tasikmalaya memiliki 5.054 KK atau 24.517 jiwa terdampak yang tersebar di 12 kecamatan dan 18 desa/kelurahan. Distribusi air bersih di wilayah tersebut telah mencapai 219.000 liter.
Selain tiga daerah tersebut, wilayah lain yang juga terdampak meliputi Kabupaten Karawang, Purwakarta, Pangandaran, Sukabumi, Bandung Barat, Indramayu, Garut, Cianjur, Ciamis, serta Kota Sukabumi, Kota Banjar, dan Kota Bogor.




















