KDM Ungguli Prabowo Survei Capres SMRC, Gerindra Diminta Tak Berintrik

- Survei SMRC 5–19 Juli 2026 menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas simulasi capres dengan 35 persen, mengungguli Prabowo Subianto yang meraih 14,5 persen.
- Pengamat Pius Sugeng Prasetyo menilai Gerindra perlu merespons elektabilitas Dedi secara positif sebagai keberhasilan kaderisasi, bukan melakukan intrik untuk menjegal kadernya.
- Pius mengingatkan oligarki dan feodalisme internal dapat memicu kompetisi; Gerindra dinilai perlu mengakomodasi kader berprestasi serta membuka ruang persaingan berdasarkan kompetensi.
Bandung, IDN Times - Tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM dalam survei calon presiden yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5–19 Juli 2026, harus direspons positif oleh Partai Gerindra, dan diharapkan tidak melakukan intrik-intrik politik untuk menjegalnya.
Meski dalam survei menempatkan ketua umum Partai Gerindra sekaligus Presiden, Prabowo Subianto ada di posisi kedua, Pengamat Politik dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Pius Sugeng Prasetyo mengatakan, KDM merupakan anggota partai yang diketuai langsung Prabowo.
Hanya saja, Pius tidak menampik dalam sebuah partai ada segelintir elit-elit yang turut mengatur ritme organisasi. Para elit tersebut menurutnya bisa turut membuat kebijakan-kebijakan tertentu yang tidak harus dilakukan oleh kader-kader lainnya.
"Ini tinggal bagaimana partai itu menentukan, di situ juga ada istilahnya oligarki internal. Kalau Anda pernah membaca bukunya Robert Michels tentang Political Party, maka di situ ada muncul istilah The Iron Law of Oligarchy (Hukum Besi Oligarki)," kata Pius, saat dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026).
"Artinya di mana pun, bahkan di dalam lembaga-lembaga demokratis seperti partai politik, di dalamnya pun ada oligarki, ada sekelompok orang yang memang sangat menentukan," ujarnya.
1. Tingginya elektabilitas menjadi penanda kaderisasi partai berjalan

Bahkan, Pius mengungkapkan, feodalisme di dalam partai politik juga tidak bisa terhindarkan. Maka ketika muncul kekuatan-kekuatan internal yang bisa menimbulkan suatu kompetisi politik, hasil survei ini berpotensi menjadi pembahasan di internal partai.
Di sisi lain, ia menganggap, moncernya elektabilitas KDM dalam survei tersebut merupakan salah satu dari keberhasilan kaderisasi yang sudah dilakukan oleh Partai Gerindra. Di mana ada anggotanya memiliki popularitas tinggi.
"Saya pikir justru itu keberhasilan kaderisasi kan ya. Ini menjadi satu kondisi yang positif bahwa figur-figur internal partai itu juga berkembang dan potensial. Maka mestinya itu direspons secara positif bahwa saya punya kader-kader yang sangat bagus," katanya.
Seharusnya, kata dia, Partai Gerindra tidak melakukan upaya-upaya yang membuat salah satu kader dominan dan memiliki elektabilitas tinggi. Partai, kata dia, harus mempersilahkan anggotanya berkompetisi.
"Sampai sejauh mana kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh kader-kader internal partai itu justru malah diakomodasikan sehingga orang juga merasa punya prospek di dalam partai, bukan karena kedekatannya dengan bosnya atau pemilik partainya, tapi memang sebuah prestasi," tuturnya.
2. Partai harus merespons positif

Beberapa partai politik di negara maju, di mana anggotanya ada yang lebih moncer secara elektabilitas dibandingkan dengan ketua umumnya, sudah menjadi hal yang biasa. Hanya saja di Indonesia kondisinya berbeda. Dia mencontohkan Wali Kota New York, Zohran Mamdani dari Partai Demokrat yang mana tingkat popularitasnya saat ini tinggi, padahal dia berawal dari anggota partai biasa.
"Saya pikir itu salah satunya ya. Meskipun di negara-negara maju tapi cara berpikirnya kemudian masih konvensional, sulit untuk adanya pembaruan-pembaruan kader atau penguatan partai," katanya.
"Tapi itu yang mestinya harus diperhatikan ya, bagaimana membangun partai politik dari dalam dengan mengakomodasi sumber-sumber yang potensial dan itu dikanalisasikan sehingga orang punya loyalitas, integritas, dan antusiasme dalam membangun partai dari dalam," tuturnya.
3. Dedi Mulyadi kalahkan Prabowo, Anies Baswedan, Mahfud MD

Diberitakan sebelumnya, survei simulasi calon presiden Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menempatkan Dedi Mulyadi pada urutan pertama. KDM memperoleh dukungan 35 persen sementara Presiden Prabowo 14,5 persen.
KDM juga mengungguli beberapa nama tokoh politik nasional lainnya, seperti Anies Baswedan (8,2 persen), Gibran Rakabuming Raka (7,7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY (4,9 persen), Ganjar Pranowo (4,2 persen), Mahfud MD (4 persen), Puan Maharani (1,3 persen), Sherly Tjoanda (1,2 persen).
Kemudian, Purbaya Yudhi Sadewa (1,1 persen), Surya Paloh (1 persen). Survei ini dilakukan pada 5–19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang mewakili warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih.
Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui telepon menggunakan metode double sampling dan 144 responden yang diwawancarai secara tatap muka menggunakan metode stratified multistage random sampling. Sampel dipilih secara acak dengan margin of error kurang lebih 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.


















