Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Warga Jabar Jangan Panik, Dinkes: Superflu Beda dengan COVID-19

virus superflu merebak
virus superflu yang dinilai lebih kuat dari covid-19
Intinya sih...
  • Kasus Superflu ditemukan di Jawa Barat, dengan 10 orang terpapar virus influenza tipe A H3N2.
  • Dinkes Jawa Barat memastikan kasus sudah selesai dan pasien sudah sehat, meski tidak merincikan detail sebaran Superflu.
  • Superflu memiliki gejala sesak napas dan kesembuhan lebih lama dibanding flu biasa, namun tingkat fatalitasnya lebih rendah daripada COVID-19.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Kasus Superflu atau Virus Influenza tipe A H3N2 ditemukan di Jawa Barat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan ada sebanyak sepuluh orang terpapar virus tersebut. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat memastikan kasus tersebut sudah selesai.

Kepala Dinkes Jawa Barat, Vini Andiani Dewi mengatakan, Superflu di Jawa Barat tercatat ada sepuluh kasus pada Agustus sampai Oktober 2025. Hanya saja, pasien sudah tertangani, kondisi saat ini sudah sehat.

"Di Jawa Barat ada sepuluh kasus pada Agustus sampai Oktober itu sudah menurun. Sudah tertangani dan semuanya sudah sehat," kata Vini di Kota Bandung, Rabu (7/1/2026).

1. Pasien superflu sudah sembuh

Penyebaran Superflu
Superflu

Meski begitu, Vini tidak merinci sepuluh orang yang terpapar Superflu ini di mana saja, karena jumlah itu berdasarkan data dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Sehingga, Dinkes Jawa Barat tidak mengetahui secara detail sebaran Superflu.

"Itu dari laporan (RS) Hasan Sadikin, detail tidak diketahui dari mana saja," ujarnya.

Lebih lanjut, Vini menambahkan, Superflu ini bukan penamaan secara medis maupun kedokteran, melainkan berkembang di masyarakat. Adapun penamaan asli dari Superflu ini yaitu, virus influenza tipe A H3N2, tetapi orang yang terpapar virus itu gejala dan penyembuhan relatif lebih lama dari flu pada umumnya.

2. Dipastikan beda dengan COVID-19

Vaksinasi Covid-19
Kegiatan Vaksinasi Covid-19 di SMPN 10 Kota Bekasi

Menurutnya, gejala flu yang dialami masyarakat biasanya, deman tinggi, pilek, batuk, sedangkan Superflu ini ada gejala sesak napas dan tingkat kesembuhan biasanya lebih lama dibandingkan flu biasa.

"Superflu itu virus influenza tipe A H3N2, tapi karena gejalanya lebih lama. Kalau flu biasa, tiga sampai empat harus sembuh, kalau superflu lebih lama, bisa sampai satu bulan apalagi kalau kelompok rentan yang terpapar. Jadi masyarakat menamakan Superflu," ucapnya.

Ia memastikan, tingkat fatalitas Superflu ini tidak separah daripada COVID-19, karena saat ini tidak ada laporan kematian akibat Superflu walaupun penyebarannya sama, melalui droplet.

3. Tingkat fatalitas lebih rendah

ilustrasi Covid-19
ilustrasi Covid-19 (unsplash.com/Martin Sanchez)

Selain tingkat fatalitas lebih rendah daripada COVID-19, Superflu ini tidak berpotensi menjadi pandemi maupun Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebab, vaksinnya pun sudah tersedia, hanya saja harus dilakukan secara mandiri.

"Tidak seperti COVID, tidak ada kematian karena Influenza tipe A ini, sama melalui droplet. Vaksin sudah ada, tapi memang harus mandiri sama seperti mau ke luar negeri. Tidak berpotensi KLB dan pandemi," katanya.

Meski memiliki tingkat fatalitas rendah, Vini mengingatkan kepada kelompok rentan seperti, lansia, orang yang memiliki komorbid, dan balita. Sebab, kelompok rentan itu memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

"Superflu dan penyakit lainnya akan berat ke kelompok rentan seperti, lansia, orang yang memiliki komorbid, dan balita," katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

Warga Cirebon Raya Lebih Jarang Liburan Dibanding Bandung dan Bodebek

09 Jan 2026, 09:41 WIBNews