War Tiket Haji Berpotensi Langgar Syariat Islam, Bagaimana di Negara Lain?

- Wacana Kemenhaj membuka sistem war tiket haji menuai kritik karena dinilai berpotensi melanggar syariat dan menabrak prinsip keadilan dalam ibadah haji.
- Pemerintah berdalih sistem war tiket dapat memperpendek masa tunggu haji dari rata-rata 26,4 tahun menjadi lebih cepat bagi calon jemaah yang mampu membayar penuh.
- Berbeda dengan Indonesia, Turkiye menerapkan sistem undian resmi berbobot yang dikelola pemerintah, menjamin transparansi serta peluang lebih besar bagi pendaftar lama untuk berangkat haji.
Bandung, IDN Times - Wacana Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) yang hendak membuka jalur cepat war tiket haji layaknya konser musik turut dibanjiri kritikan. Sebab, langkah ini dinilai berpotensi melanggar syariat Islam dan menabrak amanat konstitusi.
Sejatinya, berhaji merupakan ibadah panggilan ilahi, dan pemerintahan sebelumnya sudah menerapkan sistem antrean di mana dari semua golongan baik yang kaya atau menengah sekalipun sama kedudukannya harus daftar kemudian menabung di bank syariah dan menunggu panggilan keberangkatan.
Namun, sistem yang sebelumnya sudah berjalan dan memiliki prinsip keadilan ini justru mencoba diakali oleh pemerintah, dengan dalih war tiket diterapkan agar memperpendek masa tunggu haji yang saat ini rata-rata mencapai 26,4 tahun.
Sementara, keputusan masa tunggu 26,4 tahun ini dilakukan oleh pemerintah pusat itu sendiri. Sebelumnya masa tunggu bisa mencapai 48 tahun. Kini pemerintah mencoba mempersingkat dengan war tiket. Calon jemaah bisa langsung bayar lunas dan tidak perlu mengantre.
Di sisi lain, saat ini memang belum ada negara muslim yang menerapkan sistem war ini, hanya saja skema undian sudah diberlakukan di negara Turki.
1. Tukiye menggunakan sistem undian bukan war tiket

Ketua Program Studi Manajemen Haji dan Umrah (MHU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Asep Iwan Setiawan mengatakan, di negara Turki sistem keberangkatan jemaah ada yang menggunakan undian resmi yang dikelola langsung oleh pemerintah.
"Di negara lain, khususnya Turk, yang diterapkan bukan sistem war tiket melainkan sistem lotere resmi yang dikelola oleh Diyanet atau Presidency of Religious Affairs," ujar Asep kepada IDN Times, Selasa (14/4/2026).
Dia menjelaskan, mekanisme undian berjalan di mana setiap warga muslim Turki yang ingin menunaikan haji terlebih dahulu mendaftarkan diri melalui portal e-Government resmi milik pemerintah. Pendaftaran ini bersifat terbuka sepanjang tahun dan tidak ada unsur perebutan atau kecepatan klik sama sekali.
"Setelah masa pendaftaran ditutup, barulah dilakukan pengundian secara elektronik dan terbuka yang disaksikan oleh pejabat negara termasuk Presiden Diyanet sendiri, serta diliput luas oleh media nasional sehingga prosesnya transparan dan dapat diverifikasi publik," kata dia.
2. Pembobotan tetap dilakukan untuk penilaian

Sistem yang diterapkan Turki ini, kata Asep tetap memiliki asas keadilan yang mana calon jemaah haji yang sudah mendaftar terlebih dahulu kesempatan untuk berangkat ke tanah suci sangat tinggi, namun tetap akan diundi terlebih dahulu.
"Yang membuat sistem Turki ini istimewa dan berbeda dari sekadar lotere biasa adalah penggunaan sistem berbobot atau weighted system yang telah berjalan selama 15 tahun terakhir," katanya.
"Artinya, semakin lama seseorang terdaftar dan menunggu sejak pendaftaran pertamanya, maka semakin banyak nama mereka dimasukkan ke dalam undian, sehingga peluang terpilihnya semakin besar," jelasnya.
3. Turki tidak menerapkan war tiket

Sedangkan, yang baru mendaftarkan diri, Asep menjelaskan, tetap memiliki kesempatan untuk menang dalam undian, hanya saja kesempatan untuk muncul namanya sangat kecil dibandingkan dengan yang sudah lebih dahulu berangkat.
"Mereka yang baru mendaftar pertama kali tetap memiliki peluang, namun lebih kecil dibandingkan mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun," ucapnya.
Asep memberikan contoh penerapan sistem undian haji di Turki. Dia mengatakan, untuk haji 2026 terdapat 1.799.835 kandidat yang berpartisipasi dalam lotere, namun hanya 84.942 orang yang berhasil terpilih.
"Inilah yang membedakan sistem Turki secara fundamental dari war tiket bukan kecepatan, bukan kecanggihan teknologi, melainkan kesabaran dan lamanya penantian yang menjadi penentu utamanya," kata dia.

















