Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Usia 112 Tahun, Kota Sukabumi Dihadapkan PR Kemiskinan hingga Inflasi
Sekda Pemprov Jabar Herman Suryatman (IDN Times/Siti Fatimah)
  • Kota Sukabumi merayakan usia ke-112 dengan capaian pembangunan positif, termasuk IPM 78,23 yang melampaui rata-rata Jawa Barat serta reformasi birokrasi yang mendapat apresiasi.
  • Tingkat pengangguran terbuka masih 8,19 persen dan kemiskinan 6,9 persen, menjadi fokus utama pemerintah daerah untuk ditekan melalui optimalisasi potensi dan evaluasi kebijakan.
  • Inflasi Kota Sukabumi tercatat tertinggi di Jawa Barat namun masih dalam batas aman; pengendalian inflasi dinilai penting agar daya beli masyarakat tetap stabil dan kemiskinan menurun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sukabumi, IDN Times - Di balik perayaan hari jadi ke-112, Kota Sukabumi tak hanya menorehkan capaian membanggakan, tetapi juga masih dibayangi sejumlah pekerjaan rumah. Mulai dari tingginya angka pengangguran, kemiskinan, hingga pengendalian inflasi yang perlu terus dijaga.

1. Capaian pembangunan di atas rata-rata Jawa Barat

Balai Kota Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mengapresiasi kinerja Pemerintah Kota Sukabumi dalam rapat paripurna Milangkala ke-112.

Ia menyebut, sejumlah indikator pembangunan menunjukkan hasil positif. Salah satunya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Sukabumi yang mencapai 78,23 atau berada di atas rata-rata Jawa Barat sebesar 75,9.

Selain itu, indeks gini Kota Sukabumi berada di angka 0,371, lebih rendah dibandingkan provinsi yang mencapai 0,39. Capaian lain juga terlihat dari reformasi birokrasi seperti SAKIP, sistem merit, SPBE hingga raihan opini WTP.

“Ini tentu menjadi hal yang patut disyukuri dan diapresiasi,” ujar Herman di DPRD Kota Sukabumi, Rabu (1/4/2026).

2. Pengangguran dan kemiskinan masih jadi pekerjaan rumah

ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Ahmed akacha)

Meski demikian, Herman menegaskan masih ada sejumlah persoalan yang perlu segera ditangani. Tingkat pengangguran terbuka di Kota Sukabumi tercatat masih berada di angka 8,19 persen, sementara angka kemiskinan mencapai 6,9 persen.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mengoptimalkan berbagai potensi yang ada, termasuk sumber daya aparatur sipil negara (ASN), untuk mempercepat pembangunan.

“Tidak ada gading yang tak retak. Ini menjadi PR bersama agar ke depan angka pengangguran dan kemiskinan bisa ditekan,” ungkapnya.

Ia juga menilai momentum Milangkala ke-112 sebagai waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi sekaligus merumuskan langkah strategis ke depan.

3. Inflasi perlu dijaga agar daya beli tetap stabil

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Selain pengangguran dan kemiskinan, isu inflasi juga menjadi perhatian. Kota Sukabumi disebut masih mencatatkan inflasi tertinggi di Jawa Barat dalam beberapa waktu terakhir.

Meski begitu, Herman menilai angka inflasi tersebut masih berada dalam batas aman. Ia menyebut, inflasi Jawa Barat berada di angka 3,39 persen dengan rentang ideal 1,5 hingga 3,5 persen.

“Inflasi harus tetap dijaga agar tidak melewati batas tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, stabilitas inflasi sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Ketika harga-harga terkendali, konsumsi akan meningkat dan pada akhirnya berdampak pada penurunan angka kemiskinan.

“Kalau inflasi terkendali, harga terjangkau, daya beli terjaga, konsumsi meningkat, dan kemiskinan bisa ditekan,” tuturnya.

Editorial Team