Usaha Warga Pesisir Tumbuh dari Akses Modal dan Pendampingan

- Perempuan Desa Watuagung, Gresik, mengembangkan usaha perikanan dan olahan laut dengan dukungan PNM Mekaar; sekitar 60 persen dari 1.492 perempuan di desa tersebut tercatat sebagai nasabah.
- Usaha terasi turun-temurun milik Lisminah berkembang dalam kapasitas produksi, kualitas, dan pemasaran, hingga menjadi sumber penghasilan utama serta membuka peluang kerja bagi warga sekitar.
- PNM menggabungkan pembiayaan dengan pendampingan produksi, legalitas, halal, branding, kemasan, serta Ruang Pintar gratis untuk mendukung pendidikan anak-anak nasabah Mekaar.
Bandung, IDN Times – Pemberdayaan masyarakat dapat tumbuh dari usaha sederhana yang dijalankan di lingkungan keluarga. Hal tersebut terlihat di Desa Watuagung, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, ketika sejumlah perempuan mengembangkan usaha dari lapak kecil hingga produk olahan hasil laut.
Kondisi tersebut terlihat saat Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia Muhaimin Iskandar mengunjungi Desa Watuagung di kawasan Pulau Mengare, Gresik, pada 8 Agustus 2026. Ia melihat langsung aktivitas usaha masyarakat yang didukung akses pembiayaan dan pemberdayaan.
Kawasan Mengare memiliki potensi ekonomi yang berkaitan erat dengan perikanan, pertambakan, perdagangan hasil laut, serta berbagai produk olahan. Berdasarkan data BPS 2025, Desa Watuagung memiliki sekitar 3.000 penduduk dengan 1.492 di antaranya perempuan. Sekitar 60 persen perempuan tersebut tercatat sebagai nasabah PNM Mekaar.
Bagi PNM, pembiayaan menjadi salah satu pintu masuk untuk mengembangkan usaha masyarakat. Namun, akses modal kemudian dilanjutkan dengan pendampingan agar usaha tidak hanya bertahan, tetapi mampu meningkatkan kapasitas produksi, kualitas produk, hingga memperluas pasar.
1. Usaha olahan hasil laut mulai dikembangkan

Salah satu cerita datang dari Lisminah, perempuan yang mempertahankan usaha pembuatan terasi secara turun-temurun. Setelah memperoleh dukungan PNM Mekaar, usahanya berkembang dari sisi kapasitas produksi, kualitas produk, hingga pemasaran.
Usaha tersebut yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi keluarga kemudian berkembang menjadi sumber penghasilan utama. Perkembangannya juga membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitar.
“Sangat efektif untuk membantu ekonomi keluarga dan saya mendapat kabar yang menggembirakan AO-nya pun tulang punggung keluarga di sini yang juga sangat aktif,” ujar Muhaimin, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Minggu (9/8/2026).
Bagi PNM, perkembangan nasabah tidak hanya dilihat dari meningkatnya plafon pembiayaan. Indikator naik kelas juga mencakup peningkatan produksi, perluasan pasar, perbaikan kualitas, legalitas usaha, pembangunan merek, hingga kemampuan menciptakan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.
2. Pendampingan diarahkan untuk menambah nilai produk

Potensi hasil laut di Mengare kemudian didorong untuk tidak berhenti sebagai komoditas mentah. PNM mengembangkan pendekatan klasterisasi usaha agar produk masyarakat dapat diolah menjadi barang dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Pendampingan dilakukan melalui berbagai aspek, mulai dari proses produksi, sertifikasi halal, legalitas usaha, branding, hingga pengemasan. Dengan pendekatan tersebut, produk lokal diharapkan memiliki daya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Muhaimin menilai akses pembiayaan perlu berjalan beriringan dengan pendampingan. Menurutnya, penguatan masyarakat akan lebih optimal ketika modal yang diterima dapat mendorong usaha menjadi semakin produktif.
“Perubahan itu hadir dalam bentuk yang sederhana namun nyata, usaha yang tumbuh, pendapatan keluarga yang menguat, lapangan kerja yang terbuka, dan anak-anak yang mendapatkan kesempatan belajar lebih baik,” jelas Direktur Utama PNM Kindaris.
3. Pemberdayaan menyasar keluarga hingga pendidikan anak

Program pemberdayaan PNM tidak hanya menyasar perkembangan usaha nasabah. Melalui Ruang Pintar, keluarga dan anak-anak nasabah PNM Mekaar yang memiliki keterbatasan akses terhadap pembelajaran tambahan dapat memperoleh pendampingan belajar secara gratis.
Kehadiran fasilitas tersebut memperluas makna pemberdayaan karena manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam pendapatan keluarga saat ini. Anak-anak juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan membangun fondasi pendidikan yang lebih baik.
Rangkaian pendekatan tersebut memperlihatkan hubungan antara pembiayaan, pendampingan usaha, pengembangan produk, dan pendidikan. Ketika usaha orang tua semakin kuat, keluarga memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan kondisi yang mendukung tumbuh kembang generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kisah masyarakat Mengare menunjukkan bahwa usaha ultra mikro dapat menjadi titik awal perubahan yang lebih luas. Dengan akses modal dan pendampingan yang tepat, usaha dapat berkembang, lapangan kerja terbuka, potensi lokal memiliki nilai tambah, dan keluarga memperoleh kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.





















